Bersepeda Ke Temanggung

Berangkat
Melelahkan, dan Sangat mengesankan, Ya itulah perasaanku saat perjalanan menuju Temanggung yang jaraknya mencapai 70 kilometer. Perjalanan ini bukan karena aku kere gak punya duit atau apa (hahaha menyedihkan sekali), hanya ingin ngetes kemampuan kaki ku aja.Perjalanan ke Temanggung dimulai pada hari Kamis 26 November 2009 pukul 10:29.
Latar Belakang gunung Sumbing (Temanggung)
Rute awal langsung disambut engan jalan yang sulit. Jalan Magelang ari Jombor hingga Krasak sebagian besar kondisinya menanjak. Meskipun jalan mulus, namun cukup membuat kaki bereaksi,lalu lintas saat itu cukup ramai, mengingat awal dari libur panjang. Dan jalan Magelang dipenuhi oleh kendaraan besar seperti bus dan truk, namun, karena kondisi jalan yang lebar, maka tidak terlalu berpengaruh.Sempat juga membeli mangga 2 Kg, dan ini merupakan kebodohan yang sangat besar. Beban terlalu berat, dan terpaksa menghabiskan di jalan, tanpa ada pisau, maka dapat kalian bayangkan gimana aku makan mangga saat itu
Latar Belakang Jembatan Kereta Api di Kali Progo Temanggung
Tantangan berikutnya adalah hujan deras yang turun di kawasan Muntilan. Perjalanan tertunda selama hampir 1 jam di SPBU. Selama itu cuma bisa update Facebook :D dan bengong ngeliatin orang keujanan. Dan terakhir tantangan yang hampir membuatku nyerah adalah perjalanan di Secang. Hampir tidak ada turunan alias plus tanjakkan. Tanjakan dengan sudut yang kecil dan jauh justru lebih menyiksa, karena mau TTB (Tun Tun Bike) nanggung, sementara kalau nekat Nggowes bakal kesiksa, soalnya sepeda ku nggak cocok buat rute menanjak. Akhirnya selama perjalanan di tempat ini aku TTB, suatu hal yang sangat memalukan T.T. Selain itu Jalan daerah Secang juga sempit sehinga kadang harus ngalah sama truk atau bis.

Akhirnya sampai di tempat tujuan sekitar pukul 15:31. Sampai disana badan langsung meriang karena nekat jalan pas ujan, selain itu karena berangatnya siang hari, ikut tercemar polusi asap juga. Dan karena pakai celana jeans, bagian pinggangku lecet. Akhirnya malam itu di kerokin sama Lek Is dan sembuh deh.

Pulang
KArena kapok jalan siang, maka untuk pulang aku berangkat jam 04:20. Di kasih duit pula sama Mak Dhe ku tercinta. Karena waktu berangkat kebanyakkan adalah tanjakkan, maka kalau pulang tinggal nggelinding aja. Melewati daerah Secang sangat menyenangkan, hampir tanpa gowes, maka tibalah di Kota Magelang, sempat ke RIndam IV Diponegoro juga, terus ke ALun-Alun dan ditraktir makan gudeg pula sama bapak-bapak pesepeda juga. Hehehe. Lalu perjalanan dianjutkan ke Candi Borobudur. Saat itulah muncul permasalahan, bunyi kletak keletok, mulai bergaung dari pedal. Wahahaha,,,kalau macet di jalan piye iki.

Di Alun-Alun Kota Magelang

Untungnya tiba di toko sepeda daerah Muntilan. Ternyata ada masalah pada bantalan/Leker di bagian depan.

Ke Candi Borobudur ah
Perjalanan kembali di lanjutkan ke Jogja. Tidak ada masalah berarti selain nyaris nabrak Pak Polisi waktu ngadain razia. Akhirnya sampai gerbang kost pukul 10:30 dan langsung deh tidur.Wah wah wah sumpah enak banget naik sepeda itu. Kita bisa ngerasain suasana jalan lebih mendetail. Bisa nerobos lampu merah, bisa jalan ngelawan arus (gak boleh dicontoh) dan bisa kenal sama banyak orang. Waktu di Magelang ditawarin nebeng truk tapi males lah,,,,
Candi Mendut

Jalur Sepeda di Kampus UGM

Dalam tiga hari ini kulihat marka jalan berwarna kuning teranf yang ada di jalanan Kampus UGM bagian timur. Kemungkinan besar ini untuk jalur sepeda. Wah akhirnya dibangun juga jalur sepeda dengan warna yang lebih mentereng. Banyak yang bilang jalur ini terlalu sempit, bagi pengendara sepeda sih cukup lah. Ternyata Kampus sudah mulai berpihak dengan alat transportasi murah dan sehat ini, setelah sebelumnya Fakultas Ekonomika dan Bisnis membuat tempat parkir sepeda yang cukup mewah.
Dengan pengecatan marka setidaknya akan ada batas yang jelas antara jalur untuk sepeda dengan kendaraan bermotor lainnya. Hanya saja jalur ini rawan disalahgunakan, misalnya saja sebagai tempat parkir mobil, mengingat jalur sepeda ada di paling kiri jalan. Mau tak mau pengendara sepeda harus berbelok ke kanan dan hal ini rawan kecelakaan. Permasalahan kedua adalah karena jalur sepeda berada di jalur paling kiri, terdapat banyak sekali penutup saluran air dari jalan raya ke selokan. Hal ini tentu saja menganggu kenyamanan dan berpotensi merusak sepeda, karena sering terkena goncangan.
Meski demikian aku sangat bersyukur bahwa UGM masih peduli dengan sepeda. Semoga rencana tata ruang kampus yang edupolis dapat terlaksana dengan baik. Namun apa kabarnya Fakultas ku tercintrong?? Mungkin menganggap mahasiswanya kaya raya sehingga gak ada tempat yang cukup untuk parkir sepeda.
(pengalaman pernah digusur sepedaku karena parkir di tempat motor,,wah kurang asem iki)

Marka untuk Jalur Sepeda diJalan Notonegoro Depan Masjid Kampus UGM

Danau Maninjau Itu Sungguh Luar Biasa

Khusus untuk yang satu ini perlu aku ceritakan karena belum pernah aku melihat pemandangan seindah ini bahkan dari gambar sekalipun..

Di penghujung program KKN PPM UGM Peduli Bencana Sumatera Barat ini para mahasiswa melakukan kegiatan refreshing dengan menikmati keindahan alam Sumatera Barat. Kegiatan ini penting dilakukan bukan semata para mahasiswa gila jalan-jalan, namun untuk menghindari stres maupun jenuh pasca menjalankan tugas sebagai relawan, terlebih saat kembali ke Jogja sebagian besar dari kami harus menjalani rutinitas sebagai mahasiswa.

Salah satu objek wisata yang kami kunjungi adalah Danau Maninjau yang terletak di Agam Sumatera Barat. Perjalanan ke Danau Maninjau melalui Bukittinggi pada sore hari sekitar jam 4 sore. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa, gunung-gunung menjulang tinggi dengan jalan berliku. Sampai tibalah kami di suatu lokasi bernama ampe’ puluah ampe’ kelok yang dalam bahasa Indonesia berarti 44 tikungan/kelokan. Sesuai namanya jumlah tikungan yang ada pada jalan menuju Danau Maninjau ini berjumlah 44, bandingkan dengan Alas Roban di Batang, Jawa Tengah yang sekitar 25 buah. Karena perjalanan dari Bukittinggi, maka 44 Kelok yang kami lalui adalah jalanan yang menurun.

Foto Bersama di Kelok 27

Sampai disuatu titik dimana aku melihat hamparan putih dengan cahaya keemasan ditengahnya. Aku mengira itu adalah awan yang ….aaarrgh aku bingung,,bentuk apakah ini. Ternyata Mas Ikbal bilang itu adalah Danau Maninjau. Hah, danau? Mana tepiannya….Berangsur-angsu

r bukit yang ada diseberang danau (sebelumnya tertutup oleh awan) mulai kelihatan, dan saat itulah aku percaya bahwa itu danau, ya danau vulkanik yang amat luas dikelilingi pegunungan. Aku tidak menyangka Danau Maninjau seluas dan seindah ini. Betul-betul indah apalagi di waktu sore, sinar matahari yang berwarna jingga dipantulkan di tengah danau.

Sampai di tepian danau, hujan mulai turun dan aku berteduh disebuah kedai. Disana penjualnya menawarkan aku pepes ikan, karena memang penggila pepes, aku membeli satu. Pepes ini berisi ratusan ikan kecil yang seperti Teri Medan, namun ini adalah ikan air tawar yang diambil dari dari Danau Maninjau. Wuaaah rasanya luar biasa. Akupun langsung menyantap 4 bungkus yang tersisa dipiring. Satu pepes harganya cuma 1000 wahhh murah nian.
Danau Maninjau menjadi lokasi terakhir refreshing tim KKN UGM,,wah betul betul Sumatera Barat memang sangat indah. Semoga suatu saat aku dapat berkunjung kesini dan dapat lebih lama berada di kawasan Danau Maninjau.

oh iya jadi teringat pantun Bung Karno saat mengunjungi Danau Maninjau tahun 1948
“jika adik memakan pinang, makanlah dengan sirih hijau
jika adik datang ke minang, jangan lupa singgah ke maninjau”

Kisah KKN PPM Peduli Bencana Sumatera Barat yang Mengesankan (part 1)

Cihuuuy,,akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu dengan lapy kesayanganku,,,naluri ngeblogku terasa menggebu-gebu ditengah tugas verbatim yang menjengkelkan itu. Jari ku seolah berkata
“hei bro cepet lah buka tuh laptop,,gw kangen sama tombol-tombolnya”
Huahahahha, yo wes lah saatnya kita beraksi dengan menceritakan dahsyatnya menjadi tim KKN PPM Peduli Bencana Gempa Sumatera Barat.

Gempa Padang atau Gempa Pariaman?
Saat itu aku sedang latihan marching band, ketika Ferdi, pemain bariton yang asli Padang, meminta izin ke pelatih bahwa terjadi sesuatu di Padang. Ternyata berita itu adalah berita duka mengenai gempa besar yang terjadi sore hari Rabu 30 September 2009. Lokasi gempa berada di dekat dengan kota Pariaman, tapi kenapa orang-orang lebih menyukai menyebut Gempa Padang? Bukan Gempa Pariaman, atau Gempa Sumatera Barat?
“hey wan tanya juga dong, kenapa orang lebih suka menyebut Palembang untuk Sumatera Selatan? Medan untuk Sumatera Barat?”
Begitu sampai di kost aku melihat sebuah potongan gambar yang bagiku itu sangatlah tragis. Sebuah foto dimana bangunan rumah gadang yang ambruk dan rasanya menyaksikan foto itu seolah-olah Sumatera Barat hancur total. Hmmmmmm

Panggilan Menwa

Tim KKN UGM siap berangkat
Mengangkut Logistik sebelum berangkat
Sebelumnya aku berharap diterjunkan di Tasikmalaya yang juga terjadi gempa beberapa minggu sebelum Gempa Sumatera Barat. Namun aku mendapat kabar bahwa ada tawaran untuk diberangkatkan ke Sumatera Barat oleh Menwa UGM. Segera aku menghubungi Agi yang saat itu menjabat sebagai KSU Operasi dan meminta agar aku diprioritaskan, mengingat saat itu aku berpikir bahwa banyak anggota yang tertarik untuk diterjunkan di Padang. Ternyata, tanpa minta diprioritaskan pun aku tetap saja bisa berangkat ke Padang. Akhirnya hanya 5 orang dari 7 anggota Menwa Yudha 32 yang jadi berangat tanpa tes seleksi. Fiuuuh akhirnya,,,bagiku meninggalkan bangku kuliah selama sebulan tidaklah bernilai apa-apa dibandingkan dengan pengalaman menghadapi situasi pasca bencana. Di Padang pula,,hahahaha,,akhirnya aku bisa berangkat juga ke daerah yang kata temen-temen asli sana kayak surga dunia. Apalagi semester ini aku mendapatkan beasiswa BOP, mungkin Allah memberikan beasiswa kepadaku karena ada misi tersembunyi dibaliknya, wa’allah hu allam,

Perjalanan Yang Mengesankan

Terlunta-lunta di Bis
Kita diberangkatkan naik bus,,,owh yeaah,,pasti akan sangat mengesankan. ternyata betul, selama di perjalanan menuju Jakarta saat-saat itulah kami membaur dari beragam angakatan, jurusan, asal daerah untuk saling mengenal. Sampainya di Jakarta, kami disambut oleh Wakil Presiden terpilih Budiono, Mendiknas Bambang Sudibyo dan Menteri PU Djoko Kirmanto. Meski ada perasaan bangga bertemu secara langsung oleh pejabat negara saat itu, namun aku merasakan suatu keanehan…Hmmm mungkin hanya pikiranku saja.
Disambut Kagama Pak wapres terpilih, mendiknas dan menteri PU
Hahaha ternyata ada juga yang baru pertama kali ke Jakarta,,Jadi inget ceritanya orang betawi yang bilang “gak useh lo pade ngaku jadi Warga Negara Indonesia, kalo belum pernah ke Jakarte, wk wk wk wk ”
Smapai di Merak
Kemudian bis melaju menuju Pulau Sumatera, sampai di Lampung, salah satu dari tim terkena Cacar. Waah bisa-bisanya cacar menyerang salah satu dari kami yang berada di bis. Dengan kondisi di dalam bus, penyakit yang pernah menewaskan Pangeran Antasari ini akan sangat mudah menular (nanti akan ada kisahnya). Tetapi untungnya, sampai perjalanan berakhir di Pariaman, cacar belum menulari yang lain.
di Kawal Selama Perjalanan

Padang Yang Padhang
Sebelum sampai di Kota Padang, kami menuruni bukit curam dengan jalan yang berkelok-kelok pada malam hari. Namun sampailah aku ke titik yang membuatku sedikit emosional. Saat itu aku melihat ratusan lampu di ujung bawah sana, terlihat sangaaaaaaaaaat indah , dan itulah kota Padang yang kala itu bersinar. Kenapa emosional? Ya,karena di tengah gemerlapan lampu kota di tepi laut itulah, ratusan orang tewas dan hilang, ratusan bangunan hancur, dan di gemerlapan lampu itulah, sepuluh hari yang lalu terjadi gempa dahsyat. Ku pikir Padang tidak lagi padhang (terang), ternyata keadaan membaik begitu cepatnya, dan aku mensyukuri itu.

Posko Ku ‘Mewah’ Sekali
Aku dibangunkan oleh sebelahku bahwa kita telah sampai. Hal yang pertama aku bayangkan adalah segera turun dari bus, membongkar logistik dan membangun tenda. Namun begitu aku turun, sebuah masjid kecil yang cukup mewah, tampak baru dibangun, dan diseberang jalan ada sebuah rumah mungil dengan desain minimalis yang cukup mewah juga. Sementara disebelah masjid itu aku melihat sebuah rumah yang cukup bagus namun ada sebuah tenda di depannya. Hmmm,,Mana yang rusak??begitu pikirku. Kemudian ada seorang warga yang ternyata wali korong (korong adalah sebutan untuk kampung di Sumatera Barat) mempersilakan kami untuk tidur di rumah seberang surau tersebut. Akhirnya bisa ditunda bikin tendanya.
Karena gak bisa tidur lagi, aku dan Mas Iqbal dan beberapa teman lainnya, mencari Masjid untuk sholat shubuh. Saat itu lah aku merasakan bahwa Nagari Gadur (Nagari adalah sebutan untuk desa atau kelurahan di Sumatera Barat) betul-betul hancur karena gempa. Sepanjang perjalanan mencari surau, aku melihat rumah-rumah yang retak, rubuh, bahkan yang tinggal atap saja. Betul-betul tidak menyangka. Ku pikir Nagari ini baik-baik saja. Ketika sampai di Masjid Raya Gadur, aku menyaksikan betapa dahsyatnya gempa itu. Pelafon masjid sudah tidak ada karena runtuh sehingga atap masjid yang menjulang tiinggi terlihat dengan jelas. Syukurlah, masjid ini tidak rubuh, padahal atapnya saja mungkin tingginya lebih dari sepuluh meter. Ketiga paginya, aku baru tahu, masjid kecil bernama surau bungo yang aku lihat sesaat sesudah turun dari bus mengalami kerusakan yang cukup parah. Di bagian dinding sebelah barat ambrol, dan hampir di seluruh bagian retak-retak. Namun kubah masjid tetap nyaman berada di atap. Syukurlah….

Terus Kita Mau Ngapain????
Keadaan Korong Kampung Dalam, Nagari Gadur ini memang cukup parah, namun masyarakat tampaknya biasa-biasa saja. tidak langsung berkerumun di Posko ku yang mewah.
“hah posko?”
Oh iya lupa heheh rumah mewah yang seberang masjid itu ternyata adalah posko kami untuk sebulan hahahahha,,,keren kan. Back to ….

Posko KKN UGM
Dengan persiapan yang sangat minim, bahkan tahu siapa yang akan diberangatkan ke Padang pun sehari sebelum keberangkatan. betul-betul beda dengan KKN biasa yang bikin proposalnya saja berminggu-minggu sebelum pemberangkatan. Sebetulnya aku ingin di tempatkan di rekontruksi, namun karena jumlah orang yang masuk sana cukup banyak, terpaksalah aku masuk tim psikososial, ya ada beban moral juga sih sebagai anak Psikologi. Tapi pekerjaan pertama ku justru membuat rumah seng di rumahnya Awil. Kemudian membongkar rumah pak Syafi;i.
Menjadi kuli dulu ah
Rumah Pak Syafii

Anak-Anaaaak…!!! Kemarilah….!!!
Hari berikutnya yang cukup mengesankan bagiku adalah ternyata banyak sekali anak-anak. Pada dasarnya aku gak terlalu suka sama-anak-anak. Kecuali mereka yang putih, gemuk, lucu,ngeggemesin. Tapi bukan Iwan namanya kalau gak suka tantangan. Saatnya ku tunjukkan pada diriku sendiri bahwa aku bisa dekat dengan mereka
“Iwan yang sangat menakutkan bagi adik-adiknya pun beraksi”
Beberapa dari anak-anak itu mudah akrab dengan kami, namun ada satu orang yang membuatku jengkel, Yogi, ya anak yang tampaknya kurang terawat ini sangat pemalu. Aku sudah memintanya untuk ikut menggambar seperti anak-anak yang lain namun tetap saja tidak mau. Akhirnya aku sedikit putus asa dan kertas gambarnya terpaksa ku gambari sendiri. Yiaaa,,akhirnya ketemu ide juga. Pada dasarnya anak kecil umur segitu paling suka kalau dihargai sama orang dewasa. Setelah beberapa menit menggambar, aku menyodorkan pensil warna kehadapannya dan berkata..
“Dik bisa tolong kakak gak? Warnai atapnya ya pakai ini,,soalnya kakak gak bisa”
Hahah dan dia pun mengambil pensil warna itu dan mulai mewarnai, yihaaa,,,akhirnya seluruh anak mulai akrab dengan kami, dan permainan pertama kali adalah domikado,,,

Bermain do mikado

hahahahahah yes yes, awalan yang bagus untuk kami.
Bersambung……

Cukup Menyenangkan Bersepeda di UGM

Masih narsis-narsisnya nih punya sepeda baru hehhe. Akhirnya terkabul juga doa ku agar seteah lebaran punya sebuah sepeda yang akan mengantarku ke segala tempat di Jogja. Sepeda ini yang nantinya akan meringankanku dalam menjalani kegiatanku di  kampus UGM seperti latihan marching band, ke mako, ke GC, ke LM dll setelah sekian lama berjalan kaki, dan ini cukup melelahkan.

Ternyata kebijakan membuat portal yang dilakukan oleh pihak kampus tidak terlalu berpengaruh terhadap para pengendara sepeda. Bahkan boleh aku katakan kalau pengendara sepeda justru mendapat kemudahan, karena disetiap pintu jalan yang ditutup pasti ada celah untuk pejalan kaki yang bisa dilalui oleh sepeda, namun tidak bisa dilewati oleh sepeda motor. Hasilnya, sepeda tidak perlu memutar-mutar untuk mencapai suatu tempat di kampus.

Tapi ada yang masih jadi kendala nih. Sebagian besar jalan di kampus UGM tidak diaspal, tapi masih menggunakan blok-blok. Nah aku sih kurang tau apa berpengaruh terhadap kondisi sepeda, tapi kok ya aneh gitu, sifatnya juga merusak nih.