Apa Yang Anda Ketahui Tentang Daan Mogot?


Banjir di Jalan Daan Mogot Februari 2007

Banjir di Jalan Daan Mogot Februari 2007

Daan Mogot bagi warga Jabotabek lebih dikenal sebagai sebuah jalan yang menghubungkan wilayah Tangerang dengan Jakarta. Jalan Daan Mogot ini cukup panjang, mungkin puluhan kilometer, membentang dari Grogol hingga Kota Tangerang. Jalan ini cukup ramai karena merupakan akses utama warga yang dari Tangerang ke Jakarta maupun sebaliknya. Pada tahun 2006, Jalan Daan Mogot dimeriahkan oleh kehadiran salah satu moda transportasi massal, yaitu busway.

Jalan Daan Mogot memiliki ‘sahabat’ yang selalu menemaninya, yaitu Kali “Mookervaat” yang merupakan saluran air buatan yang menghubungkan Kali Cisadane hingga Kali Angke. Saluran air ini selalu setia menemani Jalan Daan Mogot, namun setelah di daerah Pesing, Jalan Daan Mogot dengan Kali Mookervaat akan berpisah. Namun kehadiran sang sahabat ini juga memiliki dampak yang negatif. Setiap hujan, saluran air ini meluap hingga menggenangi Jalan Daan Mogot. Jalan ini pun tidak dapat dilalui lagi.

Daan Mogot Apa (Siapa) Sih?

Aku yakin banyak orang yang tidak tahu mengapa dinamakan Daan Mogot? Bahkan waktu kecil, saya kira Daan Mogot itu istilah untuk mobil-mobil yang sering “mogok” di jalan ini. Ternyata Daan Mogot itu adalah seorang pejuang kemerdekaan negara tercinta, Republik Indonesia. Ya Daan Mogot yang nama aslinya adalah Elias Daniel Mogot adalah seorang pahlawan. Tapi kok banyak yang tidak kenal ya?

Elias Daniel Mogot alias Daan Mogot

Elias Daniel Mogot alias Daan Mogot

Daan Mogot adalah seorang yang sangat sangat luar biasa sekali. Putra Minahasa kelahiran 28 Desember tahun 1928 (ulang tahunnya beda sehari sama aku ^_^v) ini penggagas Akademi Militer alias sekolah perwira sekaligus direkturnya. Yang lebih mencengangkan, pada saat ia menggagas, usianya baru belasan tahun. Pada usia 14 tahun dia adalah anggota salah satu organisasi miiter pribumi bentukkan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). Padahal saat itu pihak Jepang mensyaratkan bahwa anggota Peta harus berusia minimal 18 tahun. Keren juga yach.

Pada tahun 1945 ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Daan Mogot menjadi salah satu pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat MAYOR pada saat usianya 16 TAHUN. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang ABG. Tapi sungguh ironis, saat dia berjuang mati-matian melawan penjajah, ayahnya tewas dibunuh perampok, karena orang Minahasa saat itu dicap sebagai antek-antek Belanda. Oh iya Daan Mogot ini memiliki seorang saudara kandung bernama Alex E. Kawilarang. Tau gak siapa dia? Masak sih gak tau? Wah pelajaran sejarah pasti gak memperhatikan guru menjelaskan ya. Kawilarang adalah salah satu tokoh pemberontakan Permesta. Sekali lagi Ironis…!!

Daan Mogot Gugur di Usia Belia

Hal yang sangat mencengangkan bagi ku adalah Daan Mogot gugur pada tanggal 25 Januari tahun 1946, artinya belum genap sebulan setelah ia ‘merayakan’ ulang tahun yang ke 17 alias sweet seventeen ia harus pergi selama-lamanya meninggalkan dunia ini, tidak. Daan Mogot gugur saat ia bersama pasukan yang ia pimpin (terdiri dari teman-temannya dan 70 taruna Militer Akademi Tangerang) melucuti persenjataan Jepang di Hutan Lengkong Tangerang. Saat proses pelucutan terjadi di sebuah gudang senjata, terjadi baku tembak antara tentara jepang dengan pasukan Daan Mogot. Karena kekuatan yang tidak seimbang ditambah minimnya pengalaman para taruna di medan perang, pasukan Daan Mogot terdesak. Mereka melarikan diri ke hutan karet yang tidak jauh dari sana. Namun karena mereka masih berada di area tentara Jepang, maka dengan mudah pasukan Jepang menghabisinya. Mayor Daan Mogot terkena tembakan di paha dan dada, namun ia berhasil menembakan peluru ke arah Jepang meskipun pada akhirnya ia sendiri gugur dihujani peluru.

Akhirnya 33 taruna dan 3 perwira gugur, 10 taruna luka berat. Mayor Wibowo yang merupakan rekan Daan Mogot dan 20 orang taruna lainnya ditawan. Mereka yang ditawan diperintahkan oleh Jepang untuk membuat liang kubur bagi teman-temannya sendiri. Sementara mereka sendiri entah mau diapakan.

Tanggal 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang bagi para pahlawan yang gugur di Hutan Lengkong itu. Ada kisah mengharukan ketika pemakaman ini, kekasih Daan Mogot, Hadjari Singgih, memotong rambutnya yang mencapai sepinggang, kemudian potongan rambut itu ikut dikuburkan di liang lahat Daan Mogot. Semenjak itu dia tidak pernah lagi memanjangkan rambutnya.

Hmmm gimana? Sudah tau tentang Daan Mogot itu siapa kan? Selain nama jalan, Daan Mogot juga menjadi nama sebuah mall yang berada di Kecamatan Kalideres Jakarta Barat, terletak persis dekat Jalan Daan Mogot. Semoga kita bisa meneladani beliau, bahwa prestasi bisa ditanamkan sejak dini. Ia rela mengorbankan masa mudanya demi kepentingan rakyat Indonesia yang menderita akibat penjajahan bangsa asing.

Daan Mogot Mall atau nama kerennya DM (De'Em)

Daan Mogot Mall atau nama kerennya DM (De'Em)

Yang Muda Yang Berusaha, Semangatzzz ^_^)v

Bagiku, Millau Adalah Jembatan yang Paling Indah di Muka Bumi

Jembatan Millau

Awalnya aku cukup bangga dengan selesainya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Namun setelah aku menemukan gambar jembatan yang ada di Prancis selatan ini, rasanya Suramadu itu biasa-biasa aja. Tapi gak apalah, untuk ukuran Indonesia, Suramadu itu cukup mengesankan.

Jembatan Tertinggi di Dunia

Jembatan Millau adalah sebuah jembatan jalan raya yang menyeberangi lembah Sungai Tarn, Millau di sebelah selatan Perancis. Jembatan Millau atau  dalam bahasa Perancis disebut Viaduc de Millau merupakan jembatan “vehicular” tertinggi di dunia. Tinggi puncak tonggaknya mencapai 341 meter, lebih tinggi dari Menara Eiffel dan ada tujuh tonggak yang menopang jembatan ini. Saking tingginya terkadang jembatan ini berada di atas awan. Seperti yang terlihat dalam gambar. Tapi ini wajar kok, karena Jembatan Millau ini berada di daerah pegunungan, jadi awannya memang lebih rendah. Oh iya yang membangun jembatan indah ini adalah perusahaan konstruksi Eiffage yang juga membangun Menara Eiffel. Sementara sang arsitek adalah Norman Foster. Jembatan ini dibangun pada tahun 2001 dan selesai tahun 2004.

Menembus Awan

Sama halnya seperti Suramadu, pengemudi yang melewati jembatan ini juga dikenakan retribusi sebesar 4,6 Euro atau sekitar Rp. 50.000.

Perancis itu memang hebat ya, keindahan dan teknologi selalu bertemu di negeri mode ini, ck ck ck. Setelah Pesawat Concorde, Terowongan Channel, dan Jembatan Millau, apalagi ya karya spektakuler Perancis di masa depan.

Iwaaaaan, ,,,,Main Yuk…!!

Rrrrrgggghhhhhh, Gemuruh pesawat terbang itu hinggap di sekitar rumah ku. Membangunkan aku dari tidur siang yang singkat. Hoaaam, baru  nyadar kalau aku sekarang sedang di rumah, bukan di kostan karena kamarku di sini ber-AC bukan ber- ASE (Angin SEmilir). Tak lama kemudian, aku dengar gerombolan anak kecil berlarian dan berteriak-teriak, waaah salah satunya ternyata adik ku yang sedang main Power Ranger an. Hummm jadi teringat masa kecil dulu.

apa bung masa kecil lo?

Yah mungkin seperti anak Jakarta pinggiran yang lain lah, sederhana gak neko-neko dan ngikutin ngetrend apa yang ada di TV. Kalau di TV lagi seru film Tamiya ya beli mobil Tamita, dan lain-lain. Tetapi permainan yang bikin aku kangen sama jaman cilikku (hehehe tema konser banget) itu main Taplak Meja. Aku selalu jadi pemenang kalau main permainan ini, hehehe sampai-sampai kalau permainan dilakukan secara berpasangan banyak dari teman-temanku yang pengen aku jadi pasangannya.

“Iwaaaan maeeen yuuuuu….!!”

Sepuluh tahun lalu suara anak-anak yang renyah itu sering sekali membangunkan tidur siangku. Hehehe sebagai anak rumahan atau anak mami yang tulen aku memang harus tidur siang, supaya kalau malam gak rewel dan bisa belajar. Biasanya kalau ketahuan ibu ku, dia akan bilang

“Iwannya belum bangun, nanti sore aja ya mainnya”

Karena suara-suara nyaring itu seperti alarm bagi ku, terkadang saat ibu ku berbicara demikian, aku sudah ada dibelakangnya dan anak-anak itupun berkata

“mamanya iwan tuh iwan udah bangun di belakang, weeee”

“eh kamu ngapain dah bangun, ya sudah, main sana, tapi hati-hati ya”

Ibuku menyerah terhadap keinginan polos anak-anak, dan aku pun berlari bersama teman-teman, memikirkan ide enaknya main apa. Biasanya disesuaikan juga sih, kalau orangnya banyak ya main Taplak Meja atau Petak Umpet (kalau banyak yang main kasihan sang penjaga Petak Umpet), tapi kalau orangnya sedikit, yah paling-paling jalan-jalan naik sepeda. Saat itu temanku banyak sekali, dan kebanyakan dari mereka adalah pendatang yang selalu silih berganti tinggal di kontrakan sekitar rumah ku.

Akhirnya ketika semuanya pindah dan hanya tinggal orang-orang asli Betawi, kampung ini menjadi sepi, tanpa celoteh anak-anak. Aku akui saat-saat terakhir sebelum anak-anak disini menghilang, aku menarik diri dari teman-teman,  anak-anak saat itu sudah tidak lagi bergaul dengan sehat karena terjerumus oleh satu orang. Merokok, memalak, membuat keributan dan lain-lain. Padahal mereka sebetulnya baik-baik, kami mengaji bersama, sholat bersama, sering sahur bersama. Ternyata memang harus terjadi demikian.

Kini kampung ini diisi oleh generasi yang baru, lebih ceria dan lebih hangat. Semua orang tua masih memiliki kepedulian yang sangat besar. Kampung ini menjadi ramai, penuh canda dan tawa. Semoga akan selalu begitu…Amiin

Gubraaaak, huwaaaaaaaaaaaaaaa

Ternyata adikku jatuh dan  menangis kencang sekali, hehehehehehe udah dulu ya, kasian dia

Derita di Kereta Api Gaya Baru Malam

Sebetulnya aku gak mau pulang hari ini (1 Juli 2009), selain karena aku pengen otak-atik akun di internet aku juga ‘dipaksa’ ikut audisi bigband, dan hasilnya memalukan banget. Tiupanku kacau banget di depan orang-orang yang selama ini aku idolakan

“hahaha makanya jangan  sok jago deh lo”

Yee sapa juga yang mau ikut, karena waktu itu aku sedang jogging di GSP dan Mas Wisnu, pelatihku sampai nelpon aku buat audisi ditambah aku udah daftar, yaudah deh aku memaksakan diri aja. Hehehe duh gak usah dibahas deh yang ini, back to topic.

Kereta Api Progo tujuan Jakarta dari Stasiun Lempuyangan berangkat jam 5 sore dan kayaknya udah gak mungkin mengejar kereta itu soalnya audisi selesai jam setengah enam. Akhirnya kuputuskan untuk naik kereta api Gaya Baru Malam dari Surabaya jam 9 Malam, sekalian cari pengalaman, siapa tau ada hal-hal menarik yang bisa jadi bahan penelitian. Kereta api ini mungkin akan penuh soalnya sedang musim liburan, pasti banyak orang yang berpergian. Maka, berangkatlah seorang Iwan ke Stasiun Lempuyangan pada malam hari pukul 8.

Sampai di stasiun aku membeli tiket, harganya Rp. 26.000, waah, beda jauh sama Taksaka yang harganya bisa sampai 250 ribuan. Karena perut kerocongan aku makan gudeg di warung makan, dan sepertinya Stasiun Lempuyangan sudah tertata dengan baik. Para pedagang semuanya ditempatkan di salah satu sudut stasiun, tidak berantakan seperti dulu. Sambil makan aku ngobrol-ngobrol sama ibu-ibu penjualnya.

“Bu kalau Kereta Gaya Baru Malam itu penuh gak ya?”

“Woalah mas, mas, bisa masuk aja sudah beruntung, selalu penuh mas, cari gerbong yang belakang aja, lumayan sepi kok”

Glek, gilee jangan-jangan kayak yang di berita-berita itu lagi sampai duduk di atap, waah tau begini mending gak jadi deh. Hufff, akhirnya aku buru-buru makan dan bersiap-siap stand by di peron paling timur. Akhirnya kereta api itu datang, ternyata gak sesesak yang aku bayangkan. Tapi celakanya, semua pintu di kunci sama penumpang yang ada di dalam, kurang ajar, aku kan juga bayar buat naik kereta. Akupun berusaha mencari gerbong yang pintunya tidak terkunci, dan GOTTA. Gerbong kedua dari belakang. Saat masuk, hmmm semua bangku telah terisi dengan wajah-wajah yang lelah, secara dari Surabaya gitu loch. Akupun duduk di lantai kereta. Aku melihat di sebelahku ada space bangku yang diisi sama anak-anak kecil. Kemudian aku pengen numpang duduk sambil tersenyum ke bapaknya anak kecil tadi tapi apa coba yang ku dapat!!

“Maaf mas ini buat anak saya pengen tidur?” Sambil pasang muka jutek.

“Iya pak saya cuma duduk kalau kereta ini berhenti, nanti kalau jalan saya bakal di alas lagi kok” Ujarku memelas

Gak Dapet Tempat Duduk, Lesehan Deh

Gak Dapet Tempat Duduk, Lesehan Deh

Sialan bapak itu, padahal anaknya kan juga belum tidur, masih asyik bercandaan, lagi pula dia cuma bawa 4 anak jadi tiket yang dia beli 5 termasuk untuk dia sendiri, sementara ada 6 kursi, berarti 1 kursi tanpa tiket. Dasar bapak-bapak egois. Jam sembilan, kereta pun berjalan. Inilah awal dari penderitaanku.

  1. Para pedagang mondar-mandir berkeliaran di dalam kereta, dan ini sangat-sangat mengganggu tidur aku. Begitu sudah tidur pulas, tiba-tiba dibangunkan oleh suara

“Permisi mas, mau lewat”

Kapan nih PT KAI betul-betul melarang pedagang berjualan di dalam gerbong? Aturan tuh mbok ya ditegakkan dong. Mentang-mentang ekonomi pelayanan yang diberikan harus yang terbaik lah.

“baru menyadari kau, kalau pedagang itu sangat, sangat mengganggu….”

  1. Kereta Api Gaya Baru Malam selalu selalu disusul oleh kereta yang sama-sama ke arah barat. Waktu menunggu jadi lebih lama daripada saat kereta berpaspasan, karena Kereta Api Gaya Baru Malam harus membuat jarak dengan kereta api yang ada di depannya (yang nyusul) jadi waktunya semakin lama. Inilah yang membuat kereta dateng super ngaret (ditambah minyak tanah) di jadwal tertulis datang di Stasiun Senen jam 7.15, tetapi baru sampai jam setengah sembian pagi. Ck ck ck
  2. Saat di Stasiun Kebumen seorang ibu-ibu yang super duper besar, dan anaknya yang juga besarnya minta ampun, mengambil lahan tidur ku, praktis dari Kebumen sampai Jakarta aku gak bisa tidur dengan posisi nyaman. Sebelumnya ibu-ibu tadi sempet ribut juga sama bapak-bapak yang tadi ngomelin aku, dan masalahnya pun sama. Tapi di akhir perjalanan ibu-ibu ini jadi akrab sama bapak-bapak yang ternyata seorang polisi tadi. Suit suit, kayaknya duda bertemu janda nih hehehe, betul-betul sepanjang jalan kenangan.

Dengan tiga permasalah di atas, sepertinya inilah pertama dan terakhir kalinya aku naik kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan. Betul-betul tidak manusiawi pelayanannya. Aturan pedagang tidak boleh berjualan di dalam gerbong kereta itu sudah jelas-jelas ada, bahkan berjualan di stasiun pun sebetulnya dilarang. Belum lagi penumpang tanpa tiket, meskipun ada polisi khusus kereta tapi kok mereka ikut-ikutan membiarkan ya, apakah para penumpang itu membayar di atas kereta kepada petugas? Mbok ya petugas seharusnya konsisten dong menegakkan aturan, kok malah melayani penumpang ilegal.

Jadwal kereta api juga gak konsisten. Kok bisa-bisanya KA Gaya Baru Malam Selatan ini setiap berhenti di stasiun selalu tersusul. Pasti pengaturannya ada yang gak betul. Kalau memang sampai di Jakarta jam 8.30 ya tulis dong di jadwal jam 8.30 tidak perlu berlagak sok cepat dengan manajemen yang amburadul. Banyak masyarakat yang berharap dari kereta api terlebih KA Ekonomi.

Semoga pelayanan yang diberikan PT KAI tidak hanya maksimal pada orang-orang berkantung tebal saja, Bagaimanapun masyarakat dari ekonomi lemah (seperti saya? hihihih) juga butuh pelayanan yang sama-sama memuaskan. Ekonomis juga harus manusiawi lah….

Kereta Tragis Itu Kini Bernama Progo

Masih ingat Tragedi Brebes dipenghujung tahun 2001? Tragedi kecelakaan Kereta Api Empu Jaya (Jakarta-Yogyakarta), yang menewaskan 31 orang ini merupakan kecelakaan kereta api terburuk pasca Tragedi Bintaro. Tidak beberapa lama setelah kecelakaan di Brebes itu, Kereta Empu Jaya kembali mengalami kecelakaan cukup parah. Kereta ini menabrak lokomotif KA Cirebon Ekspress yang sedang langsir di Stasiun Cirebon. Akibatnya beberapa orang tewas akibat terhimpit puing-puing gerbong KA, sementara lokomotif KA Cirebon Ekspress hancur tak berbentuk karena KA Empu Jaya saat itu melaju dengan kecepatan super tinggi.

KA Empu Jaya Mengalami Kecelakaan

KA Empu Jaya pun akhirnya berganti nama menjadi KA Progo. Progo merupakan nama sungai yang mata airnya di Temanggung dan berhilir di pantai selatan. Sementara alasan penggantian nama kereta ini adalah agar masyarakat tidak trauma apabila naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Yogyakarta  maupun sebaliknya ini. Namun ada juga yang mengatakan, nama Empu Jaya ini selalu membawa sial, karena terjadi kecelakaan pada kereta yang sama dalam waktu berdekatan. Penamaan KA Empu Jaya sendiri  menurut saya ada 2 alasan. Empu berarti pembuat keris, suatu keahlian yang berabad-abad lalu menjadi profesi yang begitu disegani karena hanya bisa dikerjakan oleh orang suci, dan memiliki magis yang tinggi. Tetapi Empu bisa jadi penggalan kata stasiun tujuan dari kereta ini, Lempuyangan. Dalam salah satu situs di internet, KA Empu Jaya seharusnya bernama Lempu Jaya.

Selama ini KA Progo menjadi alternatifku kalau ke Yogya atau ke Jakarta jika tiket kereta eksekutif atau bisnis habis terjual. Rasanya aman-aman saja naik kereta ini. Bahkan kalau ke Jakarta aku berharap kereta ini telat sampai di Jakarta, supaya aku tidak perlu menunggu pagi terlalu lama untuk mencari bis. Semoga KA Progo (dan kereta-kereta yang lain) tidak seperti pendahulunya yang sering dilanda musibah. Kereta ini selalu memfasilitasi terutama mahasiswa-mahasiswa Yogya yang hidup sederhana untuk dapat bersilaturahmi dengan keluarganya di kampung halaman dan siap melayani mereka yang kembali ke Yogya untuk menuntut ilmu.

Tapi perlu dipahami juga, bahwa rasanya penamaan sebuah kereta terlalu kecil kemungkinannya menjadi penyebab sebuah kecelakaan. Masih ada faktor-faktor lain yang lebih logis seperti human factor, nature condition dan maintenance procedure (dan TAKDIR ALLAH TENTUNYA) Oleh karena itu terlalu naif jika kita mengkambinghitamkan nama sebuah profesi penuh seni dengan tragedi yang mengenaskan itu. Salut buat PT KAI yang menjelaskan bahwa penggantian nama tersebut untuk memberikan efek psikologis kepada para penumpangnya. Salut, salut….