Ada Kedamaian di Ladang Mamak

di Truk inilah kami berdesak-desakan bersama petani dan penambang emas lainnya

Ada secuil pengalaman di ladang nun jauh di sana. Ladang itu milik sebuah keluarga Dayak Kenyah, Kampung Batu Majang bernama mamak dan bapak Pandi yang sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri. Meski hanya dua hari dua malam tinggal disana, namun ada sebuah nilai baru yang mencerahi pandangan hidupku, kesederhanaan.

Continue reading

Pengalaman Pertama Nyembelih Ayam Nih!

Ritual Usang Adat

Bagi yang belum tahu, banyak orang akan membayangkan hal aneh-aneh mengenai Suku Dayak di pedalaman. Suku Dayak di media, selalu digambarkan dengan pakaian adat lengkap dengan bulu burung serta senjata tajam khasnya kalau gak mandau ya tombak. Namun jangan salah, suku Dayak yang aku temui di pedalaman Sungai Mahakam, yaitu Dayak Kalteng (sebutan kolektif untuk Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah) memiliki toleransi beragama yang tinggi. Itu gambaran pengalaman saya ketika mengikuti ritual adat mereka yang bernama Usang Adat yang secara jelasnya dapat dibaca di tulisan ini.
Continue reading

Sepenggal Tulisan Untuk Para Prajurit!

Tim Ekspedisi Khatulistiwa Sub Korwil 07/Kutai Barat

Mungkin agak terlambat aku menyampaikan rasa terima kasih kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) atas penyelenggaraan Ekspedisi Khatulistiwa 2012 di Pulau Kalimantan dimana aku terlibat di dalamnya. Kiprah TNI dalam pembangunan di Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi, berawal dari masa kemerdekaan, hingga masa reformasi ini, saya merasa bahwa institusi ini yang memiliki kedekatan begitu tullus dengan rakyat Indonesia (terlepas dari beberapa kekurangan-kekurangan yang ada). Tidak hanya bekerja dalam lingkup militer, reformasi TNI pada era sekarang ini justru malah semakin memperluas kesempatan TNI untuk dapat berkontribusi kepada bangsa dan negara. Salah satu hal yang sangat aku apresiasi adalah keterblibatan TNI dalam memfasilitasi kami, para mahasiswa dalam kegiatan penelitian melalui kegiatan Ekspedisi Khatulistiwa 2012.

Continue reading

LOST IN LONG APARI

Bersama anak gaul dari Long Apari

Inilah kali kedua saya ke ibukota kecamatan Long Apari yang ada di Tiong Ohang. Jika pada kesempatan pertama saya menaiki speed boat melalui Sungai Mahakam yang memang menjadi akses utama menuju kecamatan yang berada di ujung utara wilayah Kutai Barat, maka kesempatan kedua kali ini saya menggunakan helikopter penerbad. Mengikuti Ekspedisi Khatulistiwa memang sangat mengesankan. Banyak pengalaman luar biasa yang saya dapatkan disini termasuk terbang dengan pesawat herkules dan helikopter. Kesempatan tersebut sangat langka didapat oleh mahasiswa sipil semacam saya.

Kami berangkat menuju Long Apari pada tanggal 16 Juni 2012 pukul 09:20 WITA dari helipad yang ada di dekat pos kotis Kutai Barat, di Long Bagun. Di langit, kami menyaksikan keindahan alam jantung Kalimantan. Hutan lebat yang menyelimuti pegunungan membentang hingga batas mata dapat memandang. Sesekali kami menjumpai mozaik-mozaik yang menampakan aktivitas penebangan hutan serta kegiatan ladang berpindah masyarakat. Namun kami tidak menikmati pemandangan tersebut sepanjang waktu. Awan tebal bagaikan gumpalan kapas, menutupi keindahan Gunung Ayau yang kami lewati. Gunung Ayau merupakan pegunungan yang memanjang dan merupakan batas wilayah antara Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah. Jika kita menaiki perahu di Sungai Mahakam, Gunung Ayau tampak seperti dinding besar memanjang yang bagian atasnya sangat terjal. Gunung ini konon sering terjadi peperangan antara Suku Dayak yang berada di wilayah Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Timur.

Continue reading

Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Ketika Mereka Berduka

Kematian merupakan hal yang sangat sakral pada sebagian besar masyarakat tak terkecuali Suku Dayak Kenyah. Ritual adat penguburan Suku Dayak Kenyah di Kampung Batu Majang dilaksanakan pada bulan Juni 2012 ketika ayah Pak Iban Tanyiq meninggal.
Prosesi pemakaman Suku Dayak Kenyah tersebut menggambarkan akulturasi antara adat dengan agama kristen katolik. Pemakaman adat suku Dayak pada masa lampau biasanya menempatkan peti jenazah pada lumbung. Saat ini pemakaman dilaksanakan dengan cara mengubur jenazah karena terpengaruh ajaran agama kristen. Selain itu alasan mengapa pemakaman jenazah dilakukan dengan cara di kubur adalah agar terhindar dari ancaman beruang madu serta lebah penyengat.

Ketika upacara pemakaman berlangsung, kerabat dari jenazah akan menangis tersedu sedu sebagai ungkapan rasa kasih sayang terhadap orang yang dicintai atau dalam bahasa Dayak Kenyah berarti Tidau/Menidau.

Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Long Boat, Tumpuan Kehidupan Hulu Mahakam

Sebuah Kapal Long Boat menerjang Riam Panjang Sungai Mahakam di Kutai Barat

Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari merupakan wilayah Kutai Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Sebagai wilayah yang berada di pedalaman, pembangunan infrastruktur di kedua kecamatan ini sangat terbatas. Tidak ada akses jalur darat dari ibukota kabupaten di Sendawar, sehingga akses menuju kedua kecamatan ini adalah dengan jalur sungai serta penerbangan perintis bersubsidi di bandara Datah Dawai. Jika melalui jalur sungai, para penumpang transit berganti kapal terlebih dahulu di pelabuhan Kecamatan Long Bagun. Perahu yang bisa digunakan untuk menuju daerah hulu mahakam hanya berjenis long boat dan speed boat dengan jumlah motor lebih dari satu. Hal tersebut dikarenakan adanya riam riam Sungai Mahakam yang cukup berbahaya seperti Riam Udang dan Riam Panjang.

Continue reading

Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Mengenal Suku Dayak Punan Kampung Long Merah

Belian atau ritual pengobatan Dayak Punan di Long Merah

Tim peneliti sosial budaya merupakan salah satu dari tiga tim yang berada dalam struktur organisasi Ekspedisi Khatulistiwa. Tim sosial budaya Ekspedisi Khatulistiwa Subkorwil Kutai Barat memiliki tugas untuk mendata segala macam kekayaan kebudayaan serta cara hidup masyarakat yang menarik. Hal ini mengingat lokasi ekspedisi yang berada di wilayah cukup terpencil di hulu Sungai Mahakam sehingga diduga banyak potensi-potensi kekayaan budaya yang masih belum terungkap dan tidak diketahui oleh masyarakat luas. Selama Ekspedisi Khatulistiwa berlangsung, tim peneliti telah berhasil mengumpulkan data-data kehidupan sosial serta kebudayaan masyarakat seperti ritual adat, pernikahan adat, potensi pariwisata, mata pencaharian masyarakat serta aspek-aspek lain seperti pendidikan, kesehatan. Sasaran utama tim peneliti sosial budaya adalah kehidupan suku Dayak yang merupakan penghuni asli pedalaman Kalimantan. Di seluruh wilayah Kalimantan terdapat lebih dari 400 sub suku. Sementara di kecamatan Long Bagun yang merupakan lokasi penelitian tim sosial budaya ini, kami berhasil mengumpulkan data mengenai kehidupan beberapa Suku Dayak antara lain Dayak Bahau, Dayak Kenyah, dan Dayak Penihing. Hasil sementara yang kami dapatkan adalah proses akulturasi masyarakat Dayak di kecamatan Long Bagun sudah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu terlebih dengan munculnya perusahaan kayu. Modernisasi sudah terjadi pada hampir seluruh sendi-sendi kehidupan Suku Dayak, dimana adat istiadat setempat sudah mulai terkikis apalagi pada generasi mudanya. Kami beruntung tiba pasca panen raya atau tradisi Tebukoq. Biasanya setelah panen, masyarakat Dayak sering mengadakan acara-acara adat seperti pernikahan.

Continue reading