Prasangka, Media dan Propaganda!

Pelangi indah karena ia memiliki banyak warna, begitu pula kehidupan

Sebaga negera yang multikultural, Indonesia memiliki kerentanan terhadap konflik sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Indonesia memiliki pengalaman buruk terhadap konflik sosial yang terjadi sejak kemerdekaan hingga era reformasi saat ini. Yang terbaru adalah konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi di Propinsi Lampung. Sebelumnya, kita mungkin mengetahui konflik berskala besar yang terjadi pada masa lalu seperti konflik Sampit, Poso, Ambon, dan Sanggauledo. Selain konflik sosial yang bersifat horisontal, adapula konflik vertikal yang melibatkan masyarakat dengan pemerintah yang berkuasa seperti konflik Aceh dan Papua. Kedua konflik ini umumnya bersifat separatis dengan tujuan melepaskan diri dari bagian negara Indonesia.

Continue reading

Garuda dan Perhiasan Masyarakat Aceh

Garuda Indonesia Menembus Angkasa

Garuda Indonesia Menembus Angkasa

melayang tinggi, menjelajah segala benua
mengibarkan sang saka, menebar citra bangsa
ke seluruh dunia terbanglah

Garuda Indonesia
kebanggaan bersama yang selalu kita bela

Garuda Indonesia
akan kujaga demi nusa bangsa

selalu kujaga kesetiaan kepercayaan
dari para sahabat Garuda Indonesia
senantiasa bersama

Garuda Indonesia
kebanggaan bersama yang selalu kita bela

Garuda Indonesia
akan kujaga demi nusa bangsa

Garuda Indonesia
akan kujaga demi nusa bangsa
akan kujaga demi nusa bangsa

Begitulah lirik lagu yang menggambarkan Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan nasional yang telah lama menjaga silaturahmi rakyat Indonesia yang berada di ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tapi tahukah teman-teman bahwa pesawat pertama yang dimiliki Garuda Indonesia adalah pesawat yang berasal dari sumbangan gelang emas, dan perhiasan lain sebagai loyalitas masyarakat Aceh pada negara Indonesia yang kala itu baru berdiri.

Pesawat itu bernama Seulawah alias Gunung Emas

Seulawah adalah pesawat jenis Dakota. Kemudian pesawat ini diberi nama Seulawah yang berarti Gunung Emas. Mengapa gunung emas? Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa dana untuk membeli pesawat tersebut merupakan sumbangan emas masyarakat Aceh yang jumlahnya mencapai 20 KG.

Pesawat inilah yang menjadi aat transportasi pemimpin bangsa saat itu. Pesawat ini pernah digunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, baik dalam acara kenegaraan maupun keperluan-keperluan lainSeulawah lah yang membuka hubungan udara antara Jawa dan Sumatera..Keberhasilan Indonesia yang berhasil lolos dari blokade penjajah Belanda juga tidak terlepas dari peran Seulawah.

Dan akhirnya sekarang Garuda Indonesia juga berhasil lolos dari “blokade” larangan terbang di angkasa Uni Eropa ^.^

Seulawah

Seulawah

Monumen Perjuangan Seulawah di Banda Aceh
Untuk menghormati pengorbanan masyarakat Aceh saat itu atas terbelinya pesawat Dakota, TNI AU mendirikan sebuah monumen pesawat Dakota di sebuah lapangan di Banda Aceh. Di bawah pesawat tersebut terdapat prastasi dengan tulisan:

PERANAN PESAWAT DAKOTA RI-001 “SEULAWAH” DALAM PERANG KEMERDEKAAN

PESAWAT JENIS INILAH YANG DISUMBANGKAN OLEH RAKYAT ACEH, KEPADA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA PADA MASA PERJUANGAN KEMERDEKAAN DENGAN NOMOR RI. 001.

DENGAN PESAWAT INI BLOKADE BELANDA DAPAT DI TEROBOS DAN HUBUNGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DI YOGYAKARTA DENGAN DAERAH-DAERAH DI SUMATERA KHUSUSNYA ACEH DAPAT DIWUJUDKAN SEHINGGA MEMPERLANCAR JALANNYA RODA PEMERINTAHAN.

AGRESI MILITER BELANDA II PADA TAHUN 1948 MEMAKSA PESAWAT RI OO1 “SEULAWAH” BERPANGKALAN DAN BEROPERASI DI RANGOON BIRMA.

PERJUANGAN YANG DILAKUKAN SELAMA DI LUAR NEGERI ANTARA LAIN :

• PENEROBOSAN PADA MALAM HARI TERHADAP BLOKADE BELANDA DENGAN MENGANGKUT SENJATA & MESIU KE PANGKALAN UDARA LHO’NGA
• MENDIRIKAN “INDONESIAN AIRWAYS” DALAM MEMBANTU MEMBIAYAI PENGADAAN SENJATA & MESIU, PENGADAAN PESAWAT-PESAWAT C-47 DAKOTA RI-007 DAN RI-009, MEMBANTU MEMBIAYAI PERWAKILAN-PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI DAN PENDIDIKAN CALON PENERBANG SERTA TEKNISI AURI DI LUAR NEGERI
• MELALUI PEMANCAR RADIO “INDONESIAN AIRWAYS” BERITA-BERITA PERJUANGAN DI TANAH AIR DITERUSKAN KEBEBERAPA PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI DAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA

PERJUANGAN RAKYAT ACEH DALAM PERJUANGAN MENEGAKKAN DAN MEMPERTAHANKAN NEGERA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG DIWUJUDKAN DENGAN SUMBANGAN PESAWAT INI MENCERMINKAN JIWA KEJUANGAN YANG PATUT DITAULADANI DAN DILESTARIKAN OLEH SELURUH RAKYAT INDONESIA SEPANJANG MASA.

UDEP SARE MATE SAHID

BANDA ACEH,

29 JULI 1984

Apa Yang Anda Ketahui Tentang Daan Mogot?


Banjir di Jalan Daan Mogot Februari 2007

Banjir di Jalan Daan Mogot Februari 2007

Daan Mogot bagi warga Jabotabek lebih dikenal sebagai sebuah jalan yang menghubungkan wilayah Tangerang dengan Jakarta. Jalan Daan Mogot ini cukup panjang, mungkin puluhan kilometer, membentang dari Grogol hingga Kota Tangerang. Jalan ini cukup ramai karena merupakan akses utama warga yang dari Tangerang ke Jakarta maupun sebaliknya. Pada tahun 2006, Jalan Daan Mogot dimeriahkan oleh kehadiran salah satu moda transportasi massal, yaitu busway.

Jalan Daan Mogot memiliki ‘sahabat’ yang selalu menemaninya, yaitu Kali “Mookervaat” yang merupakan saluran air buatan yang menghubungkan Kali Cisadane hingga Kali Angke. Saluran air ini selalu setia menemani Jalan Daan Mogot, namun setelah di daerah Pesing, Jalan Daan Mogot dengan Kali Mookervaat akan berpisah. Namun kehadiran sang sahabat ini juga memiliki dampak yang negatif. Setiap hujan, saluran air ini meluap hingga menggenangi Jalan Daan Mogot. Jalan ini pun tidak dapat dilalui lagi.

Daan Mogot Apa (Siapa) Sih?

Aku yakin banyak orang yang tidak tahu mengapa dinamakan Daan Mogot? Bahkan waktu kecil, saya kira Daan Mogot itu istilah untuk mobil-mobil yang sering “mogok” di jalan ini. Ternyata Daan Mogot itu adalah seorang pejuang kemerdekaan negara tercinta, Republik Indonesia. Ya Daan Mogot yang nama aslinya adalah Elias Daniel Mogot adalah seorang pahlawan. Tapi kok banyak yang tidak kenal ya?

Elias Daniel Mogot alias Daan Mogot

Elias Daniel Mogot alias Daan Mogot

Daan Mogot adalah seorang yang sangat sangat luar biasa sekali. Putra Minahasa kelahiran 28 Desember tahun 1928 (ulang tahunnya beda sehari sama aku ^_^v) ini penggagas Akademi Militer alias sekolah perwira sekaligus direkturnya. Yang lebih mencengangkan, pada saat ia menggagas, usianya baru belasan tahun. Pada usia 14 tahun dia adalah anggota salah satu organisasi miiter pribumi bentukkan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). Padahal saat itu pihak Jepang mensyaratkan bahwa anggota Peta harus berusia minimal 18 tahun. Keren juga yach.

Pada tahun 1945 ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Daan Mogot menjadi salah satu pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat MAYOR pada saat usianya 16 TAHUN. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang ABG. Tapi sungguh ironis, saat dia berjuang mati-matian melawan penjajah, ayahnya tewas dibunuh perampok, karena orang Minahasa saat itu dicap sebagai antek-antek Belanda. Oh iya Daan Mogot ini memiliki seorang saudara kandung bernama Alex E. Kawilarang. Tau gak siapa dia? Masak sih gak tau? Wah pelajaran sejarah pasti gak memperhatikan guru menjelaskan ya. Kawilarang adalah salah satu tokoh pemberontakan Permesta. Sekali lagi Ironis…!!

Daan Mogot Gugur di Usia Belia

Hal yang sangat mencengangkan bagi ku adalah Daan Mogot gugur pada tanggal 25 Januari tahun 1946, artinya belum genap sebulan setelah ia ‘merayakan’ ulang tahun yang ke 17 alias sweet seventeen ia harus pergi selama-lamanya meninggalkan dunia ini, tidak. Daan Mogot gugur saat ia bersama pasukan yang ia pimpin (terdiri dari teman-temannya dan 70 taruna Militer Akademi Tangerang) melucuti persenjataan Jepang di Hutan Lengkong Tangerang. Saat proses pelucutan terjadi di sebuah gudang senjata, terjadi baku tembak antara tentara jepang dengan pasukan Daan Mogot. Karena kekuatan yang tidak seimbang ditambah minimnya pengalaman para taruna di medan perang, pasukan Daan Mogot terdesak. Mereka melarikan diri ke hutan karet yang tidak jauh dari sana. Namun karena mereka masih berada di area tentara Jepang, maka dengan mudah pasukan Jepang menghabisinya. Mayor Daan Mogot terkena tembakan di paha dan dada, namun ia berhasil menembakan peluru ke arah Jepang meskipun pada akhirnya ia sendiri gugur dihujani peluru.

Akhirnya 33 taruna dan 3 perwira gugur, 10 taruna luka berat. Mayor Wibowo yang merupakan rekan Daan Mogot dan 20 orang taruna lainnya ditawan. Mereka yang ditawan diperintahkan oleh Jepang untuk membuat liang kubur bagi teman-temannya sendiri. Sementara mereka sendiri entah mau diapakan.

Tanggal 29 Januari 1946 diadakan pemakaman ulang bagi para pahlawan yang gugur di Hutan Lengkong itu. Ada kisah mengharukan ketika pemakaman ini, kekasih Daan Mogot, Hadjari Singgih, memotong rambutnya yang mencapai sepinggang, kemudian potongan rambut itu ikut dikuburkan di liang lahat Daan Mogot. Semenjak itu dia tidak pernah lagi memanjangkan rambutnya.

Hmmm gimana? Sudah tau tentang Daan Mogot itu siapa kan? Selain nama jalan, Daan Mogot juga menjadi nama sebuah mall yang berada di Kecamatan Kalideres Jakarta Barat, terletak persis dekat Jalan Daan Mogot. Semoga kita bisa meneladani beliau, bahwa prestasi bisa ditanamkan sejak dini. Ia rela mengorbankan masa mudanya demi kepentingan rakyat Indonesia yang menderita akibat penjajahan bangsa asing.

Daan Mogot Mall atau nama kerennya DM (De'Em)

Daan Mogot Mall atau nama kerennya DM (De'Em)

Yang Muda Yang Berusaha, Semangatzzz ^_^)v

Satu Persatu Pesawat-Pesawat itu Membumi

Pesawat mana lagi yang akan membumi

Pesawat mana lagi yang akan membumi

Helikopter Puma SA330 yang jatuh di Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaja adalah kecelakaan yang ketujuh kalinya melanda Tentara Nasional Indonesia (TNI). Banyak hal yang diduga menjadi penyebabnya, antara lain human error, machine error, natural disaster, atau maintenance error. Oleh para politisi kecelakan disebabkan oleh kurangnya anggaran belanja pertahanan negara. Namun apapun penyebabnya sebaiknya mari kita renungi, bukan dengan berkoar-koar meminta anggaran pertahanan dinaikkan.

Kecelakaan demi kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini sungguh unik. Biasanya pasca kecelakaan, pihak yang berwenang akan menyelenggarakan evaluasi besar-besaran agar tidak terulang kembali. Seluruh sistem di evaluasi kemudian diambil keputusan, apa penyebabnya dan mengapa bisa terjadi. Bahkan hampir sebagian besar dari kecelekaan yang terjadi dalam empat bulan terakhir ini ada di Pulau Jawa, yang seharusnya memudahkan koordinasi antar satuan. Kejadian ini lantas membuat presiden beberapa hari yang lalu menginstruksikan agar operasi dengan menggunakan alutsista dikurangi. Mungkin sang presiden khawatir banyak pesawat yang nanti akan membumi lagi.

Ketika aku mengikuti Latihan Dasar Bela Negara di Dodik Bela Negara Rindam Diponegoro, aku dinasihati oleh salah satu petinggi TNI, beliau bilang:

“kamu lihat bagaimana fasilitas pendidikan ini? semoga ketika kamu menjadi pemimpin nanti bisa merubah tempat ini, ya mudah-mudahan seperti West Point lah, Indonesia itu sangat luas, kalau pendidikan prajurit kita seperti ini, ya bagaimana menurutmu?”

Aku menyadari bahwa yang perlu dinaikan anggaran bukan hanya alutsista semata. Banyak fasilitas lainnya yang harus segera dibenahi, seperti institusi pendidikan militer dan lain-lain. Huaaaahhh ngantuk, udah ah capek ngeluh mulu. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

KENAPA YA DENGAN MENWA SEKARANG INI

PVDC

Menwa, mendengar kata itu seluruh isi kampus berpikir, “owh UKM ‘satpam kampus’, yang kerjanya hanya jaga wisuda, jaga upacara mahasiswa baru” dan jaga lain-lain. Pasca reformasi (ketika anggaran untuk hankam termasuk menwa berkurang drastis) menwa sudah tidak lagi sejaya dulu. Menwa kini dalam posisi lemah dan tidak (terlalu) berdaya menghadapi euforia reformasi yang penuh dengan kebebasan (yang sulit bertanggung jawab). Jika posisi menwa dahulu penuh dengan nilai-nilai perjuangan yang cukup mengesankan seperti terlibat dalam pengiriman kontingen Pasukan Garuda yang dikirim ke beberapa negara berkonflik . Bahkan menwa UGM dulu mudah sekali diberi fasilitas oleh militer, seperti meminjam helikopter dan senjata untuk demonstrasi pada upacara penyambutan mahasiswa baru. Kini peran menwa cenderung seperti yang sudah disebutkan di atas.

Perlu dijadikan renungan nih

Resimen Mahasiswa atau menwa boleh dikatakan sebagai generasi penerus tentara pelajar. Peran tentara pelajar sendiri amatlah besar dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kala itu para pelajar sudah mampu bertempur melawan penjajah meskipun dalam suasana menuntut ilmu. Tak jarang mereka lebih memilih bertempur ketika pelajaran sedang berlangsung. Ketika dentuman meriam memekakan telinga, para siswa ini menggantikan penanya dengan senapan berhamburan keluar kelas dan siap menyerang penjajah yang hendak merebut bumi pertiwi dari rakyat Indonesia.

Owh dari buku Perjuangan Tentara Pelajar Kapten Marwoto itu yah

Pena dan senapan, dua benda itulah yang menjadi lambang menwa. Lambang pena yang berada di atas senapan menunjukan bahwa tugas utama seorang menwa adalah belajar. Bagaimanapun menwa adalah tetap seorang mahasiswa, warga sipil yang tugasnya adalah belajar untuk membangun negeri. Peran senjata dalam perjuangan telah digantikan dengan pena yang melambangkan ilmu. Namun, kenyataan terlihat lain.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa teman satu Yudha saat Diksar, sebagian besar mengatakan bahwa sebelumnya mereka bercita-cita masuk TNI atau Polri namun gagal saat tes. Kemudian untuk mendapatkan pengalaman ilmu militer seperti menembak, merayap dan lain-lain, mereka menjadikan menwa sebagai kegiatan yang diikuti selama kuliah. Kemudian saya mengamati mereka selama diksar, hasilnya sangat memprihatinkan. Mereka tidak terlalu antusias dalam mendapatkan materi Diksar dalam kelas, kebanyakan mengantuk bahkan beberapa asyik mengobrol sendiri. Saya yakin mereka tidak memahami pelajaran dengan baik. Saya sempat malu sebagai mahasiswa, terutama ketika guru militer dan pelatih mengejek tingkah mahasiswa yang tidak ada bedanya dengan anak SD yang ribut di kelas pada saat pelajaran. Saya juga sempat mendengar, beberapa teman mengatakan “duuh kapan sih selesainya, BT ah” “ngapain sih lama banget nih pelatih, jam brapa ya selesainya?”. Inikah Menwa? Yang sejatinya adalah pelajar yang terpelajar? Menwa yang nantinya akan mendharmakan ilmunya kepada negara? Agaknya kami kurang memahami lambang Menwa (terutama pena dan senapan).

Kegiatan-kegiatan menwa di markas pun sebagian besar adalah latihan fisik dan beberapa keterampilan. Jarang sekali kegiatan akademik, seperti diskusi, belajar kelompok, maupun mengadakan atau mengikuti seminar. Yang patut saya syukuri adalah ketika Menwa UGM mengadakan seminar yang cukup berkualitas dengan tema “Republik Jogja”. Seminar ini bekerja sama antara Menwa UGM, Dinas Sosial, dan UGM sendiri.

Sayang sekali kamu jadi penjaga pintu saja

Terkadang saya membayangkan, teman-teman Menwa UGM duduk melingkar dengan seorang yudha sebagai pembicara. Agi dari jurusan Hubungan Internasional mempresentasikan materi mengenai keadaan geopolitik Indonesia. Kemudian Khibran dari jurusan Hukum mempresentasikan materi Hukum Militer di Indonesia. Lalu Ilham dari Geografi berbagi ilmu tentang kompas dan penggunaan peta. Dan Tyas dari Psikologi mungkin bisa menjelaskan tentang psikologi militer. Tentu itu akan membuat Menwa UGM menjadi semakin berbobot dan lebih dihargai, tidak sekedar dianggap sebagai ‘satpam kampus’ saja. Selain itu aktif di menwa juga dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi diri. Sehingga ilmu yang selama ini kita dapatkan selama kuliah mampu berkontribusi terhadap Menwa.

Alhamdulillah ide aku ini mendapatkan respon yang sangat positif dari teman-teman Yudha XXXII Menwa UGM. Bahkan Khibran sempat mengeluarkan ide agar kegiatan ini dikolaborasikan dengan UKM lain. Agi juga dengan antusias langsung mengadakan diskusi perdana meski hanya diikuti oleh 3 orang yudha saja. Aku berharap semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik, bahkan kalau perlu mendapat perhatian khusus dari komandan dan para alumni Menwa UGM.

Saya yakin suatu saat kampus akan dapat memandang menwa beberapa tingkat lebih baik, ketika mereka tahu, bahwa menwa unggul dalam prestasi dan kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Akhir kata saya berpesan kepada sobat Yudha XXXII Menwa UGM, untuk selalu belajar dan berlatih. Okeee. PVDC

Mengenal Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (Komandan Mahakarta Pertama(1962–1965), Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada)

Pak Jo (wikipedia)

Pak Jo (wikipedia)

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes lahir tanggal 23 Mei, beliau sendiri tidak megetahui secara pasti tahun dia lahir. Pak Jo, begitulah panggilan akrabnya, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke Technische Hogerschool atau Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (STT) berbekal nilai tertinggi waktu sekolah Menengah. STT ini menjadi Fakultas Teknik UGM setelah pindah ke Yogyakarta. Pak Jo adalah mahasiswa yang cerdas, ulet dan kreatif. Bahkan ia pernah memuat tulisannya di majalah terkemuka saat itu, yaitu De Ingenieur in Netherlandsch Indie. Sambi melanjutkan kuliah beliau juga mengajar di STT. Akhirnya ia diwisuda pada Oktober 1946. Pak Jo ini ternyata suka sekali pada ilmu Fisika. Meskipun beliau adalah mahasiswa Teknik Sipil, ia diberi kepercayaan mengajar ilmu fisika di sekolah kedokteran. Pada saat itu, Pak Jo juga berjuang sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili daerah Bali, NTB, dan NTT.

Beliau pasti bangga banget kalau ada menwa ugm atau menwa indonesia yang bisa mengikuti jejaknya, cerdas ulet dan kreatif

Perjuangan Pak Jo dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga sangat mengesankan. Pak Jo menggunakan laboratorium perguruan tinggi kedokteran untuk merakit berbagai jenis persenjataan pembunuh dan penghancur musuh. Pada tangal 5 November 1945, Pak Jo datang ke Yogyakartamemenuhi panggilan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk membangun laboratorium persenjataan markas tertinggi tentara. Kemudian Pak Jo membangun laboratrium Knalwik, bahan peledak dan granat tangan di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kota Baru yang kini adalah SMAN 3 Padmanaba dan berbagai macam pabrik senjata. Di dalam laboratorium itulah para dosen, asisten, dan mahasiswa perguruan tinggi Kedokteran dan Sekolah Tinggi Teknik bekerja.

Waaah berarti pak jo tuh teroris dong

Iya bagi penjajah, tapi bagi kita beliaulah pahlawan sejati. Berkat jasa-jasanya itu Pak Jo diberi pangkat mayor. Dan tugas utama sebagai gerilyawan adalah meledakan jembatan jalan raya dan kereta api. Dan kerennya lagi Pak Jo ini menjadi dosen Sekolah Tinggi Teknik lho meskipun masih berstatus mahasiswa. Pak Jo juga menyusun buku tentang bagaimana membuat bahan peledak. Pada tanggal 19 Desember 1948, Pak Jo nyaris gugur karena 70 buah ranjau darat di gudang persenjataan meledak.

wah untung pak jo masih bisa hidup, syukur deh

Boleh dibilang Pak Jo adalah Mahaguru yang jujur, ilmuwan teladan, gerilyawan yang rapuh secara fisik namun bermental baja. Pak Jo sendiri akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Oktober 1992 usia beliau saat itu diperkirakan sekitar 80 tahun. Sungguh merupakan kehilangan yang amat sangat bagi keluarga besar UGM dan bangsa Indonesia. Semoga semangat beliau dapat diteruskan oleh para mahasiswa saat ini.

Pak jo, kami sangat bangga terhadap mu, semoga bapak bisa terus menginspirasi dan memberi motivasi bagi kami generasi muda yang nanti akan membangun negeri.

Referensi :

Menjadi Pembelajar Sukses, Neila dkk, Program Peningkatan Pertumbuhan Kepemimpinan Berkualitas Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2008

Sejarah Lahirnya Universitas Perjuangan Universitas Gadjah Mada, Senat Akademik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2008

Satu Helai

Aku adalah sebuah helai yang terombang-ambing di antara deru angin.
Dari sini aku dapat melihat mereka bercengkrama, penuh semangat dan canda.
Sinarnya mampu menembus tubuhku yang tidak seberapa tebalnya
Sinar itu terus dan terus memancar, hingga akhirnya aku kembali terbawa menuju suatu tempat

Kini aku berada di sebuah tempat yang amat gelap
Aku bangga, karena di sini aku merasa terang
Dan ku yakin aku mampu menerangi semuanya
Namun….
Aku terlilit dalam gelapnya dimensi
Aku meronta, dan terus menghindar
Namun apa daya…
Tubuhku tidak seberapa
Aku terhembus lagi

Saat ini aku berada di antara jutaan tanda tanya
Seolah mereka memohon jawaban dari ku
Aku tak kuasa,,,,
Tubuhku tidak seberapa
Aku ingin menghindar, aku ingin menghindar
Aku benci semua ini