Metode Pembelajaran Kooperatif

Metode Pembelajaran Kooperatif, belajar sambil melatih siswa untuk bersosialisasi

Metode Pembelajaran Kooperatif, belajar sambil melatih siswa untuk bersosialisasi

Saya berada di lingkungan dimana warga termasuk anak-anaknya senang bergosip. Satu isu terlempar, mereka bersama-sama mengembangkannya.¬†Hal yang tadinya sangat remeh, tiba-tiba menjadi isu penting bagi satu kampung. Lalu sempat terlintas, ‘Nyong Nona, bisakah dong bagosip pelajaran?”, sambil menikmati macet, mari menikmati bahasan ‘Pembelajaran Kooperatif’ dari E-jurnal yang berserakan di folder SD Card.

Metode pembelajaran kooperatif merupakan metode yang digunakan dalam menyelesaikan suatu tugas pembelajaran melalui kelompok siswa yang telah dibentuk (Siegel, 2005). Continue reading

Advertisements

HR Tidak Melulu Soal Rekrutmen

Kita hidup dimana efisiensi adalah segalanya

Kita hidup dimana efisiensi adalah segalanya

Revolusi Industri yang terjadi di Inggris beberapa abad yang lalu telah menimbulkan perubahan yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual oleh tenaga manusia dan hewan, sebagian tergantikan oleh tenaga mesin. Tenaga mesin lebih diminati daripada tenaga manual yang menggunakan makhluk hidup antara lain dapat mengerjakan suatu tugas secara massal, simultan, dan memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. Pada masa awal revolusi Inggris tersebut munculah persoalan-persoalan yang cenderung mengarah ke hubungan sosial. Peran manusia tergantikan oleh tenaga mesin yang akhirnya menimbulkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Tidak hanya berhenti sampai di sini saja, permasalahan pengangguran juga  memunculkan chaos yang terjadi di London. Sesuai dengan teori sosial yang dikemukakan oleh para ahli, manusia akan mencari kompensasi akibat adanya perilaku yang hilang. Dengan adanya tenaga mesin, para pemilik usaha akan dihadapkan suatu kondisi yang dilematis, yaitu bagaimana memproduksi suatu barang atau jasa dengan efisien namun juga memperhatikan para pekerja yang berperan penting dalam membangun suatu komunitas di masyarakat.

Continue reading

Kecemasan Tes, Ketika Banyak Hal Muncul Saat Tes Berlangsung

TEST ANXIETY

Salah satu penyebab kecemasan tes dapat dijelaskan melalui pendekatan model drive. Drive model dikembangkan oleh JT Spence (Zeidner, 1998). Menurut model ini, kecemasan menghadapi tes disebabkan oleh banyaknya rangsangan atau stimulus pada saat tes berlangsung. Model ini dikembangkan berdasarkan Teori Belajar Hull tentang dorongan (drive) yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku tertentu. Drive (D) diartikan sebagai jenis-jenis kebutuhan seseorang yang jika digabungkan akan menentukan tingkat motivasinya dalam kurun waktu tertentu. Seseorang yang mengalami kecemasan, akan meningkatkan level drive secara keseluruhan.

Continue reading

Apakah yang Dimaksud Kecemasan Tes?

Belajar sebelum ujian banyak dilakukan para siswa sebelum mengikuti tes

Belajar sebelum ujian banyak dilakukan para siswa sebelum mengikuti tes

Definisi mengenai kecemasan mulai muncul pada awal tahun 1950 dengan adanya skala kecemasan yang digunakan untuk mengukur kecemasan dalam belajar, ingatan, dan persepsi (Lazarus dan Folkman, 1984). Penelitian mengenai kecemasan mulai meningkat pada tahun 1980, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan gangguan kecemasan (Rachman, 2004). Kecemasan menarik perhatian para ilmuwan psikologi mengingat kecemasan merupakan salah satu dari reaksi emosi yang sering muncul, serta banyak orang merasa tertekan oleh perasaan cemas yang berlebihan.

Continue reading

Kecemasan Tes dan Dampak Negatifnya

Suasana ketika Ujian Akhir Nasional berakhir di SMA Negeri 33 Jakarta tahun 2007

Suasana ketika Ujian Akhir Nasional berakhir di SMA Negeri 33 Jakarta tahun 2007

Tes merupakan hal yang sering dihadapi oleh manusia pada saat ini sejak masa sekolah dasar hingga di dunia kerja. Tes sejatinya adalah alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang yang berbeda-beda. Pada umumnya hasil tes digunakan sebagai dasar evaluasi untuk memberikan perlakuan secara individual berdasarkan potensinya masing-masing terutama dalam bidang pendidikan dan pekerjaan (Azwar, 2010). Kecemasan tes merupakan fenomena global yang sering dihadapi oleh jutaan pelajar yang ada di dunia (Lotfia, Eizadi-Fard, Ayazi, dan Nejad, 2011). Kecemasan tes juga merupakan hal yang sering dijumpai pada saat ujian maupun dalam situasi asesmen. Pernyatan tersebut juga dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad M. Nuh yang mengungkapkan bahwa dari hasil survey terhadap 15% peserta Ujian Nasional tahun 2012 di seluruh Indonesia terdapat 22,4% siswa merasa sangat cemas dan 56,0% siswa merasa cemas

Continue reading

Prasangka, Media dan Propaganda!

Pelangi indah karena ia memiliki banyak warna, begitu pula kehidupan

Sebaga negera yang multikultural, Indonesia memiliki kerentanan terhadap konflik sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Indonesia memiliki pengalaman buruk terhadap konflik sosial yang terjadi sejak kemerdekaan hingga era reformasi saat ini. Yang terbaru adalah konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi di Propinsi Lampung. Sebelumnya, kita mungkin mengetahui konflik berskala besar yang terjadi pada masa lalu seperti konflik Sampit, Poso, Ambon, dan Sanggauledo. Selain konflik sosial yang bersifat horisontal, adapula konflik vertikal yang melibatkan masyarakat dengan pemerintah yang berkuasa seperti konflik Aceh dan Papua. Kedua konflik ini umumnya bersifat separatis dengan tujuan melepaskan diri dari bagian negara Indonesia.

Continue reading

Remaja yang Bekerja sekaligus Bersekolah

Seorang anak di Long Apari, Kutai Barat. Usai bersekolah, ia bekerja mencari bahan makanan di hutan.

Keterbatasan ekonomi menyebabkan banyak  tuntutan. Salah satunya adalah remaja usia sekolah yang memilih bekerja. Beberapa tetap bersekolah, namun tidak sedikit di antara mereka yang putus sekolah. Kebanyakan dari mereka bekerja pada sektor informal karena beberapa instansi menerapkan batas usia minimum karyawannya. Berbagai macam alasan melatarbelakangi mengapa pada usia remaja yang seharusnya memprioritaskan pendidikan harus bekerja, namun yang tertinggi adalah alasan keterbatasan ekonomi.

Continue reading