All About Gama Cendekia

GC Logo

GC Logo

Gama Cendekia (GC) is a study group formed by students of GMU uniting from various faculties which solemn to interdisciplinary studying, science and technology development idealism. GC tries to observe and make analysis to erudite problems of society from various science perspectives, eliminate the exist partitions of science and optimally use campus academic facilities.

“if you are an ugm student, join with us, its impressive”

Since early, Gama Cendekia had been designed to become one of Students Activities Unite (UKM) of research. And GC has successfully proved its existence in various erudite activities held by GMU, non-GMU and also GC it self.  Therefore, GC feels proper to be official Students Activities Unite (UKM) of Interdisciplinary Studying and Research which is well-exist, creative, innovative, and well-achieve.

“bravo gc, u r rock”

Gama Cendekia is place of GMU students’ activities and actualities in academic aspect, especially erudite interdisciplinary studying and research which forwardly place morality and ethics, and highly hold religious values in every single activity in a framework of believe in God and fear improvement..

“to be a social scientist and a science socialist”

Advertisements

SEHARIAN BERSAMA GAMA CENDEKIA (GC)

Wah di saat yang lain asyik-asyik jalan-jalan menikmati Sunday morning (sunmor), aku harus ngumpul di Fakultas Ekonomi buat dateng di acaranya GC, untuk kumpul. Yang bikin agak malas kumpulan kali ini lama banget, jam setengah enam sore baru selesai. Karena udah kebiasaan kalo kumpul di GC selalu ngaret akhirnya aku dateng jam 08.15 (di jadwal dateng jam 08.15)

“wah tumben nih ngaret, tapi gak bagus lho kalau keterusan, jangan diulangi lagi ya!”

Tapi untungnya pertemuan ini ngaretnya gak terlalu lama. Acara pun di mulai dengan sambutan Mas Andrie (Presiden GC). Pidatonya tentang keGCan. Dan dari sini aku baru tahu, pendiri GC itu salah satunya dari anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

“oow, pantes, GC jadi UKM Interdisipliner yang islami banget, good good”

Setelah itu ada persentasi dari mbak siapa gitu, yang pasti dia mahasiswa S2 Psikologi. Hehehe satu fakultas sama dia. Yang pasti dia mempresentasikan tentang organisasi. Saat itu kami membuat kelompok. Dimana setiap kelompok harus merumuskan mana yang lebih penting dari semboyan GC, kompeten, profesional atau kontributif. Di kelompok ku terjadi perdebatan yang sangat sengit, 4 dari enam orang menjawab kompeten, sementara aku dan seorang lagi menjawab profesional. Mengapa profesional? Bagiku profesional mencakup kompetensi dan kontribusi. Mana ada orang yang disebut profesional kalau nggak berkompeten atau berkontribusi.

Setelah itu kita dapat materi dari mas-mas, aku juga gak tau nama dia siapa. Yang pasti dia dah jadi Sarjana Psikologi (S.Psi)

“jayalah psikologi”

Kita diberi materi mengenai potensi kita yang tidak terlihat yang jauh lebih besar dari potensi kita yang tidak terlihat. Materi ini awalnya diberikan di GSP

“bingung gue??????”

Udah gak usah rewel, jadi kita diibaratkan punya empat anggota tubuh yang sangat penting, yaitu mata, mulut, tangan, dan kaki. Kita sekelompok ada berenam, dan masing-masing anggota harus memilih dua anggota tubuh yang tetap dipakai, sementara anggota tubuh yang lain, akan dinonaktifkan untuk sementara waktu. Tiap kelompok harus berbeda-beda milihnya. Aku sendiri memilih mata dan tangan, berarti kaki aku di ikat dan mulut aku ditutup pakai slayer supaya nggak bisa bicara. Lalu mas-masnya berkata

“oke anggap kalian tentara palestine dengan kondisi yang demikian, silakan anda mencari tempat aman, yaitu Selasar Fakultas Ekonomi, dan ingat jangan gunakan anggota tubuh kalian yang tidak berfungsi”

Whaaat? Selasar FEB? Dari GSP ke FEB dengan kondisi kaki terikat?

“pasti yang ada dipikirannya guling-guling. gak papa wan, itung-itung belajar gerper”

Berarti aku harus cari anggota yang kakinya masih bisa digunakan. Ah ada satu orang. Dia matanya tertutup dan tangannya terikat. Dan akhirnya aku digendong dia dan aku berusaha sekuat tenaga buat mengarahkan dia. Karena mulut aku gak bisa bicara aku pakai tepukan. Jadi kalau belok kanan, aku nepuk bahu kanannya, kalau belok kiri nepuk bahu kiri, kalau berhenti nepuk kepalanya dan kalau berhenti nepuk lehernya.

“usul bos, kalau jalannya supaya cepet, cubit aja pantatnya hahahahahahha”

Hihihihi satu kelompok ma aku nih

Hihihihi satu kelompok ma aku nih

Ternyata digendong itu cuapek banget, tangan aku pegel, leher aku lecet kegesek tali tas. Tapi dengan sekuat tenaga, aku berhasil mencapai depan gerbang FEB paling awal. Hehehehe agak maen curang dikit sih.

dasar

Disini aku berpikir, ternyata berat juga ya kaum difable itu. Bayangkan kita gak punya tangan. Bagi orang awam pasti menganggap berat. Tetapi dari keterbatasan itu ternyata muncul banyak sekali kreativitas dan akhirnya kreativitas itulah yang sebetulnya potensi kita. Banyak sekali kaum difable yang tetap survive, karena apa? Mereka kreatif dalam mencari jalan keluar dari permasalahan hidup di tengah keterbatasan yang ada. Ternyata naif banget kalau hidup itu hanya digunakan untuk mengeluh, karena seharusnya kita yakin, setiap masalah pasti punya jalan keluarnya. Meskipun jalan keluar itu tidak mudah dicari, dan semua itu sekali bergantung pada kreativitas kita dalam memecahkan masalah.

Research Camp yang Bikin Bokek

Di UKM Gama Cendekia (GC) (salah satu UKM penalaran dan pengkajian) akan diadaan research camp. Yaitu salah satu kegiatan outdoor tentang teknologi dan pangan. Kita akan ‘dilepas’ di suatu tempat (gak dikasih tau tempatnya) dan disuruh membawa bermacam-macam keperluan. Di research camp ini kita dibagi dalam beberapa kelompok. Aku sendiri kebagian kelompok 6, bersama Deny (Teknik Fisika), Dhea (Ekonomika dan Bisnis) dan lain-lain.

Hari Kamis yang lalu kita kumpulan buat ngomongin apa aja yang mesti dibawa. Setelah kita berdiskusi aku kebagian bawa tikar, pisau, lap, dan logistik alias bahan-bahan makanan. Nah yang terakhir ini yang bikin aku agak pening. Uangku akhir-akhir ini cepet abis. Buat ke Temanggung lah, buat bayar inilah, itulah. Nah kalo semua pada patungan sih oke-oke aja. Masalahnya kalau logistikkan sekali makan abis beda kalau yang bawa kompor, laptop dll. Berarti aku harus belanja donk, ya iyalah masak ya iya donk. Yang bikin dongkol lagi, teman-teman yang lain seolah gak mempedulikan aku sebagai anak kost yang cukup melarat.

Masa’ dengan seenaknya salah satu temen bilang gini:

“Hmmm, pokoknya kita harus bawa yang 4 sehat 5 sempurna”

Wah, kalo yang ini aku nggak sanggup mbak, apalagi kalo memenuhi kebutuhan protein hewani, duh sumpah duitku abis

Terus pas aku ngusulin tempe ada yang ngoceh begini:

“Yah masak Cuma tempe aja, gak ada variasi lain apa wan? Tambah sosis atau bakso gitu?”

Yah si Mas, wong research camp Cuma 2 hari aja kok, dah gitu ntar juga ada snack dari panitia plus snack pribadi, ya ndak papa lah makan tempe. Gak mengandung kolesterol kok. Daripada makan sosis atau bakso , kalo ada formalinnya gimana


Dan sekian nada manja anak-anak rumahan lainnya. Tapi ya aku hargai, aku juga sebenarnya pengen enak juga sih. Tapi apa daya, kiriman masih lama.

Hari Jumat pagi ini aku pergi ke sebuah pasar tradisional di depan RRI jalan Affandi Gejayan. Di tengah gerimis aku berjalan dari kost ku ke pasar itu kurang lebih 1 km. Dan disana umayan rame juga biarpun masih pagi dan masih gerimis. Di sana aku beli minyak goreng, tempe, tahu, timun dan garam. Yang pasti semua itu aku beli dengan dana kurang dari Rp. 20.000. Hehehehe, soalnya aku harus ngirit sih. Belum lagi buat beli perlengkapan pribadi. Haduuuh bisa-bisa empat hari sebelum kiriman dateng aku puasa. Terserah deh yang lain mau komentar apa Yang penting dalam research camp nanti kita gak kelaparan dan tetep sehat. Toh bukannya tempe dan tahu juga makanan sehat. Mengandung protein nabati dan rendah lemak. Oke yang penting ketahanan pangan itu gak mesti lezat atau mewah. Tapi ketahanan pahan itu mampu memenuhi gizi masyarakatnya dengan memanfaatkan potensi yang ada. Betullllll??