Keong Mas dan Pengajar Muda

Escargot de Batulai

Escargot de Batulai

Ini bukan kisah balapan lari antara keong dengan pengajar muda. Ini adalah kisah seorang guru karnivora yang hidup di masyarakat vegetarian. Tiada hari tanpa tumis kangkung atau sawi sementara hewan ternak seperti babi, kambing dan sapi berkeliaran di luar sana “kenapa mereka tidak dimakaaaaan?” batin guru ini. Guru ini mencari-cari sumber protein, dan akhirnya berjumpa dengan hewan mungil musuh petani di Desa Kuli. Yaaa,,, Keong Mas, bukan santapan asing, karena di Jogja banyak angkringan yang menjual sate keong. Dengan campuran bumbu-bumbu seadanya, daging keong mas ini terasa sangat mewah di lidah. Pantas saja orang Perancis sangat suka escargot (siput). Rasa dagingnya beda tipis dengan kerang.Dengan hati was-was takut keong ini mengandung racun, guru ini menawarkan masakan amatirnya ke beberapa kerabat dan tetangga. Mereka bilang sangat enak. Lima jam berlalu dan tubuh kami tidak merasakan reaksi apapun. Finally, escargot for protein!

Advertisements

Muridku yang istimewa

Jekson sedang asik menggambar ketika pelajaran matematika

Jekson sedang asik menggambar ketika pelajaran matematika

Namanya Jekson, muridku kelas 3. Sulit berbicara, tidak bisa baca, sulit berkomunikasi, dan sangat pemalu. Konon, ketika kecil dia sempat hilang beberapa hari dan ditemukan di sebuah gua yang ada di pegunungan sebelah desa. Masyarakat menganggap hal itulah yang membuat Jack menjadi anak yang istimewa (bukan cacat mental seperti yang orang lain bilang). Sempat akan dimasukan ke SLB, tapi dia tidak mau. Dia tidak pernah absen datang ke sekolah bahkan terhitung siswa yang paling awal datang ke sekolah. Meskipun memiliki keterbatasan dalam beberapa hal, Jekson punya bakat di bidang lain, yaitu menggambar. Bahkan hasil gambarnya terlihat lebih realistis dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya yang ‘normal’. Ketika pelajaran matematika berlangsung, Jek asik dengan pensil warna, crayon, dan kertas. Yang membuatku bahagia, teman-temannya menyadari kondisi Jek yang istimewa. Tidak ada hinaan apapun kepada Jek. Mungkin itulah yang membuat Jek nyaman di SD Inpres Batulai daripada harus bersekolah di SLB.

Semoga Cepat Sembuh Sefine

Selfine dan rumah kecilnya

Selfine dan rumah kecilnya

Namanya Sefine, sudah kelas 3, sudah 2 kali tahan kelas, belum bisa membaca, tukang ngadu, dan tukang pukul. Trouble maker di dalam kelas. Berkali-kali mendapat sangsi, sikapnya masih sulit dirubah. Tapi sudah dua hari ada sesuatu yang hilang. Oooh iya, anak ini satu-satunya yang bersalaman cium tangan kalau pulang kelas. Anak ini satu-satunya yang selalu mengambilkan peralatan mengajarku yang sering jatuh ketika berjalan dari kantor ke dalam kelas. Anak ini yang paling keras kalau menyapaku di jalan. Semua itu tidak terasa selama dua hari ini. Oooo ternyata Sefine sedang sakit demam. Ia seorang diri, hanya anjing yang menemani di rumah mungilnya di perkampungan transmigrasi lokal istua yang sepi. Orang tuanya entah kemana, ia pun tidak tahu. Sefine yang sedang kedinginan menutupi tubuhnya dengan selimut.Semoga cepat sembuh ya Sefine.

Ayah Angkatku

Pak Marten sedang membuat Haik atau ember dari daun lontar

Pak Marten sedang membuat Haik atau ember dari daun lontar

Namanya Marten Suilima, jabatannya maneleo (kepala suku) di Kampung Batulai. Dia bapakku selama ada di Rote. Walaupun kepala suku tapi dia tidak pernah memanfaatkan jabatannya semena-mena. Terbukti ketika kerbaunya yang berjumlah lebih dari 20 ekor menginjak-injak lahan semangka milik warganya ia tetap terkena denda, dan membayarnya. Pak Marten memang pendiam, tapi dia tidak pernah diam ketika aku sedang sulit. Dia pemanjat pohon lontar yang hebat. Hampir setiap pagi tersedia tuak segar (air sadapan lontar) untuk ‘bahan bakar’ sepeda.

Itu Tarian Saudara Sebangsamu!

Anak-anak menonton tari Saman dari Aceh

Anak-anak menonton tari Saman dari Aceh

Sejenak, keramaian itu menjadi hening ketika kami menyaksikan Tari Saman dari Nangroe Aceh Darussalam. Itu bukan tarian luar negeri, itu tarianmu, karena kamu anak Indonesia, begitulah yang saya katakan ketika mereka menyangka itu tarian dari negeri antah berantah. Sekarang anak-anak itu seperti kecanduan menyanyikan lagu Sik Sik Si Batumanikam dari Sumatera Utara, Lembe-Lembe dari Maluku dan lagu-lagu ciptaannya Pak SBY. Politis? Tidak. Faktanya itu lebih mendidik dan menyenangkan.

Ini Mister Pesepeda di Rote

Mr. Patterson lewat depan sekolah

Mr. Patterson lewat depan sekolah

Ternyata Mr. Paterson ini tersangkanya yang membuatku sering diteriaki Bule ketika bersepeda di Rote. Ketika melintas di depan sekolahku, anak-anak berteriak “Pak Iwan, itu bulenya, mister….mister”. AKu menghampirinya mengucapkan salam dalam bahasa inggris dan dia membalasnya dengan bahasa Indonesia. Dia telah bersepeda sejauh 18 km dari Baa ke Desa Kuli dengan jalanan rusak dan berbukit-bukit. Dia akan menuju Boa, sekitar 20 km lagi. Lebih hebatnya lagi dia akan menjelajahi China hingga Mongolia dengan sepeda pada bulan September ini. Ketika aku mengajak anak-anak berfoto bersama dengan bule itu, anak-anak ketakutan. “Dia mirip monyet” kata salah satu anak. Ternyata kulit Mr. Paterson yang berwarna merah ini memang ditumbuhi rambut yang lebat. Dan anak-anak pun baru tahu kalau tidak semua bule itu GANTENG!!!!

Senja di menuju Istua.

Istua atau orang Kuli menyebutnya Translok singkatan dari transmigrasi lokal. Istua merupakan daerah yang dihuni oleh para transmigran lokal yang berasal dari desa Kuli. Beberapa muridku berasal dari Kampung Istua yang letaknya cukup jauh dari sekolah dan terpencil. Translok merupakan salah satu cermin ketertinggalan yang masih ada di bumi Nusa Lontar. Tidak ada listrik, akses jalan yang rusak dan minimnya fasilitas umum membuat banyak transmigran akhirnya meninggalkan Istua. Banyak rumah-rumah yang kosong dan membuat malam di Istua sangat mencekam.

Bersama murid-murid ku di translok suatu ketika

Bersama murid-murid ku di translok suatu ketika

Kegiatan kerja bakti di Bukit Mando’o hampir selesai pada malam hari. Beberapa anak yang berasal dari translok menginap di rumah kerabatnya yang ada di Batulai. Sementara yang lain lebih memilih nekat berjalan kaki ke rumahnya di Istua. Agar mereka aman sampai di rumah, aku memutuskan menemani mereka ke Istua. Selain itu aku juga ingin mengetahui kondisi Istua pada malam hari yang konon sangat mencekam itu.

Continue reading