Otak Kok Dicuci? (Indoktrinasi Intensif)

“Masyarakat lebih mengenalnya cuci otak. Lho kok otak bisa dicuci? Padahal komponen terbesar dari otak adalah air. Hehehe”

Menarik sekali kasus yang akhir-akhir ini dibicarakan di media mengenai fenomena cuci otak. Salah satunya adalah kasus Lian yang merupakan salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah kementerian. Cuci otak merupakan istilah yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menyebut sebuah fenomena psikologis yang sebetulnya masuk akal. Dalam psikologi sosial kita menyebutnya sebagai indoktrinasi intensif yang merupakan salah satu bentuk pengaruh sosial. Baron dan Byrne menjelaskan indoktrinasi intensif sebagai proses yang dilewati individu untuk menjadi bagian dari kelompok ekstrem dan menerima belief (kepercayaan) dan aturan dari kelompok tanpa bertanya-tanya serta berkomitmen tinggi. Indoktrinasi intensif merupakan pengaruh sosial yang dipaksakan. Jadi agak berbeda dengan kelompok yang anggotanya masuk secara sukarela tanpa paksaan.Dalam kasus Lian, kelompok yang dimaksud adalah Negara Islam Islamiyah (NII) yang bagi kebanyakan masyarakat dicap sebagai aliran yang menyesatkan islam, karena dalam aliran ini justru ibadah wajib seperti sholat boleh tidak dilakukan.

Continue reading

Advertisements

PENTINGNYA KOMUNIKASI PERSUASIF DALAM RANGKA MENGUBAH SIKAP SESEORANG

Komunikasi persuasif adalah upaya seseorang dalam mengkomunikasikan pesan kepada orang lain yang sikapnya ingin diubah atau dibentuk. Komunikasi persuasif biasanya banyak digunakan pada pekerjaan yang berhubungan dengan mempengaruhi orang lain seperti sales bahkan psikolog sendiri. Tidak mudah mengubah sikap orang lain, oleh karena itu setidaknya ada tiga hal yang perlu dipahami dalam komunikasi persuasif:

Yang pertama adalah komunikator. Komunikator adalah seseorang yang berinisiatif melakukan komunikasi dengan orang lain . Komunikator yang baik biasanya memiliki tiga ciri-ciri yaitu menarik, dapat dipercaya dan memiliki keahlian berkomunikasi yang baik. Oleh karena itu tidak jarang jika jabatan SPG maupun Sales mensyaratkan penampilan serta kecakapan berkomunikasi.

gak mungkin kamu jadi SPG wan

Yang kedua adalah komunikasi, komunikasi merupakan bagaimana cara penyampaian pesan yang efektif sehingga mampu untuk mengubah sikap seseorang. Komunikasi akan sangat efektif jika disertai dengan emosi, alasan yang logis serta kejelasan dalam penyampaian pesan.

inget ya emosi tuh gak cuma marah, tapi juga simpati, tenang dan lain-lain

Yang terakhir adalah kemampuan penerima pesan. Penyampaian pesan harus mempertimbangkan kepribadian, tingkat pendidikan, dan pengalaman dengan objek sikap penerima pesan. Jadi menyampaikan pesan kepada seorang direktur tentu saja berbeda dengan kuli bangunan.

Hehehehe kalau yang ini sih penting banget, jangan sampai kita ngomong panjang lebar dengan diksi yang mengesankan dan sangat emosional ternyata oh ternyata orang itu adalah…..

Pengenalan Psikologi Sosial

Hari ini sudah minggu ketiga aku belajar mengenai psikologi sosial. Berarti sudah tiga kali pertemuan dengan Pak Fauzan (dosen). Nah materi kuliah hari ini adalah pengenalan psikologi sosial.
Apakah psikologi sosial itu?

“hmmm, psikologi sosial itu mengamati kondisi psikis mas-mas yang bernama sosial itu?”

Ngawur, jadi dalam mendefinisikan psikologi sosial kita sebaiknya melihat pendapat para ahli psikologi sosial. Nah siapa saja para ahlinya dan apa pendapat mereka. Check it out:

  1. Menurut Hartley (1961), psikologi sosial adalah cabang ilmu sosial yang berusaha memahami perilaku individu dalam konteks sosial.
  2. Menurut Myers (1990), psikologi sosial adalah pengetahuan tentang bagaimana orang berpikir, mempengaruhi, dan berhubungan dengan orang lain
  3. Brigham (1991) psikologi sosial ialah pengetahuan tentang perilaku saling pengaruh mempengaruhi antar individu atau kelompok individu

Dari pendapat para tokoh di atas dapat kita simpulkan bahwa psikologi sosial ialah ilmu tentang perilaku individu dalam situasi sosial. Sebetulnya masih banyak pendapat-pendapat lain dari para ahli. Silakan tanya Om Google atau cari di perpustakaan

“sosial, sosial, sosial melulu, apa sih bedanya sama sosiologi”

Sabar mas, perbedaan psikologi sosial dengan sosiologi salah satunya adalah pada objek yang dikaji. Jika sosiologi objeknya adalah masyarakat serta norma-normanya, maka psikologi sosial membahas individunya, dalam hal ini adalah perilaku dan proses mentalnya.

“duh masih bingung, kasih contoh dong”

Contohnya, misalkan mempelajari negara Indonesia. Maka yang dipelajari dalam sosiologi adalah interaksi di dalam masyarakat, norma-norma masyarakat tersebut serta adat istiadatnya. Sementara psikologi sosial sendiri mempelajari bagaimana setiap orang Indonesia berperilaku, apa motif individu dalam melakukan interaksi dengan masyarakat, yaa intinya psikologi sosial lebih mempelajari perilaku individu dalam konteks masyarakat.

“aduh terlalu luas, please deh, yang ada disekitar lingkungan kita aja napa sih”

Uuuuuh, bawel banget sih, nih perhatikan gambar berikut:

Sekelompok Petani di Kalimantan Barat Gotong Royong Membersihkan Parit

Sekelompok Petani di Kalimantan Barat Gotong Royong Membersihkan Parit

Dari gambar di atas, sosiologi mungkin mengkaji bagaimana sistem norma dalam masyarakat petani di Kalimantan Barat masih menanamkan nilai-nilai gotong royong dalam kehidupan mereka. Sementara psikologi sosial mengkaji apa yang mendorong individu untuk melakukan interaksi sosial. Apakah ada hasrat ingin bersosialisasi, atau karena perilakunya memang dipengaruhi norma-norma, dan lain-lain.

“owh begitu wan, jadi mana yang lebih penting dipelajari, psikologi sosial atau sosiologi?”

Aduh kamu ini, apapun di dunia (kecuali Sang Pencipta) ini semuanya tidak dapat berdiri sendiri. Batu, meskipun ia hitam, pendiam, keras, jelek, gak mulus dan lain-lain ia tetap membutuhkan bumi sebagai tempat berpijak.

“tapi meteor, dia gak berpijak di bumi masih eksis tuh, weeee”

Yeeee, meteor juga butuh dimensi ruang untuk tetep eksis, meskipun ia berada di luar angkasa yang hampa tanpa udara. Nah begitu juga dengan ilmu. Ilmu tidak dapat berdiri sendiri, kedokteran selalu berdampingan dengan ilmu teknik dalam hal pengembangan alat-alat medis. Ilmu hukum dibutuhkan dalam ilmu pemerintahan untuk mengawasi jalannya kekuasaan. Sementara psikologi sosial sendiri sudah pasti akan selalu membutuhkan sosiologi sendiri. Karena yang dipelajari hampir sama yaitu permasalahan interaksi antar individu (sosial). Jadi psikolog sosial jangan merasa sombong bahwa dia mampu menyelesaikan segala problema yang ada di dunia ini dengan ilmu yang ia pelajari. Akan lebih baik lagi ia berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain.

“makanya kamu ikut Gama Cendekia kan?”

So Pasti

Kuliah Perdana Psikologi Sosial

Di Psikologi Sosial nanti kita akan banyak belajar atribusi atau menilai orang lain (memberi atribut pada orang lain). Disini kita akan belajar menilai isi hati sesorang melalui komunikasi nonverbalnya.

“wah kayak ngeramal gitu wan?”

Hmmm gak juga sih, kalau meramalkan sama saja dengan memprediksi, nah kalau atribusi itu menilai keadaan dalam hati seseorang berdasarkan komunikasi nonverbal (perilaku, raut wajah, dll) saat itu juga. Contohnya begini lho, “aku bisa menilai kamu lagi sedih terlihat dari wajahmu yang menunduk dan pertemuan dua bibir yang melengkung ke atas”

Perilaku manusia sendiri dipengaruhi stimulus (segala sesuatu yang berhubungan dengan reseptor atau panca indera). Nah kalau mempelajari perilaku, kita harus tahu juga teori-teori tentang perilaku.  Mempelajari perilaku berarti mempelajari juga tentang hubungan stimulus dengan respon. Apa saja pandangan-pandangan teori tersebut mengenai perilaku:


Pandangan Behavioris

  1. Perilaku sangat dipengaruhi lingkungan (contohnya orang yang tinggal di daerah pesisir memiliki daya juang yang berbeda dengan orang yang tinggal di pegunungan)
  2. Individu seakan-akan tidak mampu untuk menentukan perilakunya (maksudnya seluruh perilaku individu hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tidak ada dorongan mental untuk melakukan perbuatan)
  3. Hubungan antara Stimulus dan Respon bersifat mekanistis/otomatis (misalkan ketika kamu dicubit, kita selalu mengaduh, membalas cubitan dll)


“wah berarti pandangan behavior ini menjadikan manusia seolah-olah tanaman putri malu, segala tindakannya dipengaruhi stimulus dari luar”

Pandangan Aliran Kognitif

Nah teori aliran kognitif ini merupakan kebalikan dari pandangan behavior. Apa aja? Check it out.

  1. Perilaku memang merupakan respon terhadap stimulus, namun individu dapat menentukan perilakunya
  2. Hubungan antara stimulus dengan respon tidak bersifat otomatis, melainkan ada inisiatif dari individu apa yang harus dia lakukan ketika mendapat stimulus tertentu (misalkan jika kita dicubit, kita tentu merasa sakit, tapi kita masih dapat memutuskan apakah kita mau membalas cubitan tersebut atau tidak.

“kamu wan, kalau dicubit pasti langsung bales, gak pake mikir”

Nah teori aliran kognitif ini banyak sekali tokohnya antara lain Pak Woodworth, Mas Kurt Lewin, Om Albert Bandura, dll.

Nah sekarang sekarang kita akan mempelajari tentang jenis-jenis perilaku menurut Om Skinner (1976). Menurut Om Skinner perilaku itu ada dua jenis:

  1. Perilaku alami (Refleksif/innate behavior/bawaan). Ciri-cirinya antara lain, perilaku ini dibawa sejak lahir. Terjadi secara spontan, terjadi secara otomatis. Respon akan muncul begitu menerima stimulus Dan kebanyakan stimulus tidak sampai ke otak. Contohnya adalah mata yang berkedip ketika kita tiup.
  2. Perilaku Operan (Nonrefleksif). Ciri-cirinya adalah, perilaku ini dikendalikan oleh otak. Bukan bawaan sejak lahir. Perilaku dipelajari dengan proses belajar. Respon tidak terjadi secara spontan dan stimulus yang datang terlebih dahulu diproses di otak. Nah perilaku operan ini yang banyak sekali contohnya. Apa hayooo?

Nah sekian dulu, sharing kuliah perdana Psikologi Sosial. Maaf banget kalau ada yang belum jelas. Tapi masih bisa ditanyakan kok lewat komentar. Oke terima kasih.