Mendaki Pergasingan di Kala Malam Purnama

Menurut saya, ini pendakian paling syahdu dalam hidup.

Memenuhi janji di Pergasingan

Saya pernah dikecewakan oleh Pergasingan. Bagaimana tidak, teringat beberapa bulan yang lalu pergi ke tempat ini seorang diri menggunakan motor. Cuaca saat itu gerimis. Perjalanan dari Mataram memakan waktu 3 jam. Di Suela, hujan lebat menerjang, memaksa saya menggunakan jas hujan yang tersimpan diujung bawah tas carrier. Cobaan gak hanya berhenti disitu. Sampai Desa Sembalun, saya nyasar. Seharusnya saya menyimpan lokasi pintu masuk Bukit Pergasingan sebelum sampai ke Sembalun. Cobaan berikutnya adalah sampai puncak, saya tidak melihat setitik sinar matahari pun. Pergasingan berselimut kabut pekat, sore, malam hingga pagi. Bingkai Matahari Fajar Pergasingan saat itu hanyalah mitos belaka, kecewa? pasti. Tapi itu yang membuat saya berjanji, akan kembali ke tempat ini.

Preeeeet, hahahahahaah. Sudah sudah kecewanya. Tapi sekarang, saya sudah merasakan kesempurnaan matahari fajar di Bukit Pergasingan yang legendaris itu. Gini nih ceritanya!!

Aku dapat teman baru, sama-sama perantauan, sebut aja Ozi, pegawai BUMN di Bandara. Dia ngajakin kemping, nanya lokasi paling enak dimana? Naaah mumpung ada temen akhirnya saya mencoba kembali mendaki Pergasingan. Awalnya kami mengincar bintang, Namun karena suatu hal, kami berangkat ketika ada fenomena Minimoon alias bulan kerdil.

Kami berangkat jam 4 sore, sampai Sembalun jam 6 sore. Kami mampir ke masjid untuk berbuka puasa dan sholat maghrib. Jam 7 malam, kami tiba di titik awal pendakian.

Menurut saya ini pendakian paling syahdu dalam hidup. Bagaimana gak syahdu, kami mendaki bukit yang curamnya nyaris 90 derajat sambil disinari bulan purnama. Suasana jadi gak gelap-gelap amat.

Mendaki pergasingan ini menurut saya lebih susah dari summitnya Rinjani, hahaha. Setidaknya ada 3 sesi pendakian. Sesi pertama ini adalah perjalanan menuju punggung bukit yang lumayan menguras tenaga. Kemiringan tebingnya nyaris 90 derajat. Pendakian sesi satu ini harus berhati-hati. Pastikan kaki berpijak dan tangan menggenggam di tempat yang benar kalau gak mau jatuh terguling-guling. Di beberapa titik kami beristirahat sambil menikmati cahaya bulan.

Sesi kedua adalah menyusuri punggung bukit yang lumayan panjang. Konturnya datar dan melewati semak-semak. Dari punggung bukit ini, kita dapat menyaksikan Sembalun yang bermandikan cahaya bulan purnama.

Sesi ketiga adalah menuju puncak Pergasingan. Tidak securam sesi yang pertama tapi lumayan menguras tenaga. Di wilayah ini kita sudah dapat melihat lokasi mendirikan tenda yang berupa kumpulan pohon-pohon cemara.

Purnama, Rinjani, Sembalun dan saya dalam satu bingkai

Menikmati malam di Pergasingan

Jam 11 malam kami tiba di puncak bukit Pergasingan. Rasanya luar biasa melelahkan. Sebelum mati kedinginan kami langsung mendirikan tenda. Dengan senter sepeda dan handphone, akhirnya kami berdua berhasil mendirikan tenda berkapasitas 5 orang itu dengan rapih. Setelah tenda rapih saatnya masak untuk buka puasa. Saya beruntung mendaki bareng Ozi. Ozi ini pemadam kebakaran bandara. Dan kali ini kompor yang saya bawa bukan parafin seperti biasanya tapi kompor gas. Kompor ini terakhir kali dipakai setahun lalu, pas naik Rinjani. Hehehe biasanya saya malas pakai kompor gas mini karena takut masangnya, takut meledak. Karena si Ozy ini pemadam, yaa jadi ngerasa safety aja. Bekal yang kami bawa lumayan banyak. Mulai dari Apel, mie dan bubur instan sampai snack. Nggak lupa juga bikin kopi, yang membuat malam di Puncak Pergasingan saat itu makin keren.

Jam 3 malam alarm sukses membangunkan kami. Saatnya sahur. Benar kata orang, Sembalun itu terasa dingin ketika pagi hari musim kemarau. 2 lapis pakaian dan 2 lapis jaket gak pengaruh sama sekali. Badan masih merinding disko. Selesai makan sahur, kami naik ke hutan pinus mencari batangan kayu yang menjadi selfie venue paling hits di Pergasingan.

Menanti fajar dari batang pohon yang merupakan selfie venue-nya Rinjani

Sampai Jumpa Minimoon!! Bulan yang tenggelam di balik Pelawangan Senaru

Setidaknya ada tiga keberuntungan saya dalam pendakian menuju Pergasingan kali ini.
Keberuntungan pertama, kami mendaki ketika fenomena Minimoon sedang berlangsung.
kedua, cuaca sangat baik sekali, cerah sepanjang malam, nyaris tanpa angin kencang
dan yang ketiga adalaaah…

Mozaik Pergasingan yang legendaris

Hanya ada dua kelompok pendaki, pemilik tenda berwarna merah dan kami

Pendakian kami ke Pergasingan tepat ketika lahan pertanian sayur warga Sembalun sedang masa-masa pembesaran. Artinya, lahan pertanian kotak-kotak yang menyerupai mozaik keramik itu banyak yang dilapisi plastik. Kalau dilihat dari atas bukit jadi kelihatan keren, karena plastik-plastik itu akan memantulkan cahaya matahari.

Hayo, siapa yang di mention lewat kertas ini, hehehe (bukan saya yang nulis ya)

Terima kasih Bukit Pergasingan yang membuat Ramadhan kali ini sangat istimewa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s