Harmoni yang Tak Harmonis (Tipe-tipe Antrian di Halte Harmoni)

Kalau ditanya halte TransJakarta mana yang paling ‘SUE’? Saya yakin, banyak yang akan menjawab Harmoni Central Busway. Harmoni Central Busway alias HCB adalah halte dengan pelayanan koridor paling banyak se-Indonesia. Hampir semua sudut Jakarta seperti kawasan Kota Tua, Kalideres, Pulogadung, Lebak Bulus, Cililitan, dan Pluit bisa dijangkau melalui halte yang dibangun di atas kanal ini.

Saya tidak butuh genggaman tangan ini, saya butuh tempat duduk

Saya tidak butuh genggaman tangan ini, saya butuh tempat duduk

Akibat jumlah koridor yang banyak, HCB menjadi titik utama penumpukan penumpang TransJakarta. Apalagi kedatangan bus yang tidak tentu waktunya karena beragam alasan, mulai dari macet, bus yang memang langka, hingga karena harus mengisi BBM. Penumpang yang menumpuk tersebut terjadi ketika interval kedatangan bus masing-masing koridor tidak sama. Saya ambil contoh di jam pulang kerja, Bus Koridor I yang rutenya melewati kawasan bisnis utama Jakarta adalah salah satu koridor yang paling banyak ‘membuang’ penumpang ke HCB. Di HCB inilah penumpang transit ke koridor yang memang melewati daerah pemukiman penduduk pinggiran Jakarta seperti Kalideres, Cililitan, Pulogadung dan Lebak Bulus.

Mendapatkan tempat duduk kelihatannya sepele, tapi berkah yang tak terkira ketika rush hour

Mendapatkan tempat duduk kelihatannya sepele, tapi berkah yang tak terkira ketika rush hour

Celakanya, koridor-koridor tersebut melewati ruas jalan yang pengaturannya sangat semrawut, tidak seperti jalan protokol yang dilewati koridor satu. Akhirnya bus datang terlambat, dan penumpukan penumpang terus terjadi. HCB yang memiliki 14 pintu pun tampak seperti kandang peternakan ayam negeri yang sedang menunggu dipotong😀 eh salah menunggu bus. Apalagi HCB berdiri di atas kanal, kok gak sekalian pengelolanya membuat lantai HCB berlubang, supaya bisa buang air langsung ke kanal😀. Hahahaha.

Sejauh ini saya menemukan karakter penumpang yang khas di masing-masing koridor. Sekali lagi, ini merupakan opini saya pribadi, bukan mengeneralisir. Jadi silahkan kalau ada yang mau ditambahkan.

Gate Koridor I (Blok M)
Kebanyakan calon penumpang Koridor I rute Blok M maupun Kota adalah para pekerja kantoran di kawasan bisnis Jakarta. Antrian berlangsung cukup tertib, yaa kadang kalau penuh banget juga ujung-ujungnya ricuh. Tapi beneran, Koridor I memang yang paling nyaman, penumpangnya menurutku lebih tertib dibandingkan koridor lain karena gate tiga pintu telah tersedia oleh pengelola, baik tujuan Blok M atau Kota . FYI semua bus Koridor I adalah bus gandeng.

Gate Koridor II (Pulogadung)
Gate Koridor II hanya terdiri dari 1 gate saja. Oleh karena itu sering sekali terjadi penumpukan penumpang di Koridor II. Saya bahkan pernah melihat ekor antrian sampai menempel di ekor antrian Koridor VIII Pulogadung. Namun penumpang koridor II yang ada di HCB adalah yang paling bahagia. Kenapa? Karena bus yang datang pasti kosong, karena HCB adalah halte pemberhentian pertama. So meskipun antriannya panjang, tapi cepat susut juga, apalagi kalau bus yang datang intervalnya teratur.

Gate Koridor III (Kalideres)
Gate koridor III memiliki dua gate, tapi yang sering digunakan hanya satu gate karena sebagian besar bus adalah bus single dengan satu pintu. Gate kedua digunakan ketika ada bus gandeng. Koridor inilah yang menurut saya paling menyebalkan. Mengapa? Karena tidak semua bus yang datang dalam kondisi kosong.Bus biasanya sudah terisi penumpang dari Halte Pasarbaru, Djuanda, Pacenongan bahkan Pulogadung (Koridor 2B). Hal ini lah yang terkadang membuat beberapa penumpang (terutama wanita) yang sudah berada di depan pintu rela menunggu bus kosong dan menghalangi penumpang yang akan masuk. Dorong mendorongpun kadang sulit dihindarkan, beberapa diantaranya berakhir pada perkelahian, dugaan pelecehan seksual dan pencopetan. Dulu sempat dibuat pemisah untuk antrean duduk dan berdiri. Mungkin karena kurang efektif akhirnya antrian ditumpuk jadi satu. Namun petugas memberikan jalur antran khusus bagi manula, ibu menyusui, ibu dengan balita, dan penyandang disabilitas.

Gate Koridor VIII (Lebak Bulus)
Gate Koridor VIII sebenarnya juga melayani koridor VIII A (Harmoni-Tomang), Koridor III (Pasar Baru). Meskipun melayani tiga koridor, Gate Koridor VIII malah lebih tertib. Petugas menjadikan pagar pemisah sebagai portal untuk mengatur antrian penumpang. Antrean di gate Koridor VIII juga merupakan salah satu antrian yang paling panjang di HCB. Seringkali penumpang yang baru turun dari Blok M shock melihat antran koridor VIII yang sudah sangat padat. Sama seperti Koridor II, bus yang datang dalam kondisi kosong karena memang HCB adalah halte pemberhentian pertama Koridor VIII.

Gate Koridor VII A (PGC)
Hufff, speachless saya dengan gate yang memiliki dua pintu ini. Gate Koridor VII A adlaah koridor yang paling semrawut di HCB. Kalau gate lain disediakan pagar pembatas antrean yang memanjang, di Gate VII A tidak saudara-saudara. Pagar pembatas tidak dibuat memanjang, tetapi dikapling, sehingga jalur antrian tidak jelas dan semrawut. Tidak ada gate lain yang seheboh VII A. Ketika bus datang, penumpang berebutan masuk. Karena antrian yang tidak jelas tadi, akhirnya ricuh terutama di gate bagian depan (wanita). Banyak ’emak-emak’ yang mengaduh kesakitan karena tergencet atau marah-marah karena ada penumpang yang sengaja berdiri di depan gate karena ingin dapat tempat duduk, padahal banyak yang ingin masuk di belakangnya. Interval kedatangan bus Koridor VIIA paling tidak jelas. Banyak penumpang memaki petugas karena kedatangan bus yang lama. Pernah saya mengalami ada penumpang yang ingin membajak bus koridor lain agar melayani penumpang koridor VII A. Koridor VII A ini juga yang paling rawan menurut saya. Saya paling banyak menemui kasus pencopetan di gate Koridor VIIA.

Meskipun halte TransJakarta terbesar, saya mengacungkan jempol ke bawah terhadap pelayanan petugas di HCB. Tidak ada informasi yang jelas mengenai kedatangan bus. Padahal dengan informasi yang jelas, penumpang bisa maklum jika memang bus datang terlambat. Informasi yang jelas akan membuat penumpang bisa mengatur perjalanan komuternya apakah tetap melanjutkan dengan TransJakarta atau moda transportasi umum lainnya. Jari jempol ke bawah juga saya acungkan kepada petugas HCB yang tidak profesional. Petugas HCB bahkan tidak update informasi yang terjadi terhadap perusahaan mereka. Pernah suatu ketika menunggu kedatangan bus tujuan Kalideres pada malam Tahun Baru antrian sudah menumpuk sangat parah. Situasi emosi penumpang makin tidak terkendali. Beberapa orang mulai berteriak menanyakan mengapa waktu tunggu sangat lama dan cenderung tidak normal. Petugas yang berjaga malah kabur keluar halte malalui gate.

Petugas juga terkadang berteriak-teriak seperti orang yang tidak berpendidikan. Apakah TransJakarta sudah tidak ada dana lagi dengan menambah fasilitas microphone dan speaker. Belum lagi nada tinggi petugas, membuat telinga penumpang menjadi panas. Sudah kesal menunggu kedatangan bus yang lama, ditambah himbauan petugas yang cenderung membentak. Bagaimana bisa membuat penumpang disiplin, kalau petugasnya tidak profesional.

One thought on “Harmoni yang Tak Harmonis (Tipe-tipe Antrian di Halte Harmoni)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s