Menguji Nyali di Pancawati Trail Run (Tribute to Om Fandhi ‘Agi’ Achmad )

Rute Pancawati Trail Run (lihat kontur pegunungannya)

Rute Pancawati Trail Run (lihat kontur pegunungannya)

Siapa yang tidak bangga kalau ada anak bangsa yang bisa berpartisipasi menjelajah Mount Blanc, gunung tertinggi di Eropa bagian barat dengan berlari di event Ultra Trail du Mont Blanc (UTMB), Perancis pada Agustus 2015. Sebagai salah satu dukungan untuk Om Fandhi ‘Agi’ Ahmad, rekan-rekan Depok Running Buddy (Derby) menggelar Pancawati Trail Run. Selain itu ajang trail run ini juga sekaligus mengenalkan keindahan dan kesegaran Desa Pancawati kepada publik

Ceritanya saya sekedar ingin mencari ‘kesibukan’ di luar Jakarta. Lalu di salah satu grup FB ada yang menawarkan satu BIB (no lari) Pancawati Trail Run yang diadakan oleh rekan-rekan Depok Running Buddy (Derby) di kawasan Bogor di kaki Gunung Gede Pangrango. Saya ikut rute 16 KM nya.

Kami disediakan Shuttle Bus dari FX Senayan, yang akan berangkat menuju Desa Pancawati, Bogor Sabtu, pukul 02:00 WIB dari Jakarta. Waktunya nanggung banget, padahal kantor saya dekat sekali dengan FX. Di hari Jumat ini pula, saya ada janjian dengan Bos nonton film Spy di Blok M, walhasil saya sampai rumah sekitar jam 10 malam. Tapi mau gak mau saya harus pulang ke rumah dulu untuk mempersiapkan diri.

Setelah istirahat satu jam di rumah saya langsung menuju FX. Karena sudah tidak ada angkutan lagi menuju terminal Kalideres, saya menggunakan sepeda. Dari terminal Kalideres saya menggunakan Transjakarta Andini (ANgkutan DINi harI). Beruntung Bus Andini sudah tersedia di Shelter TransJakarta, sehingga saya tidak perlu lama menunggu. Perlu diketahui bahwa jumlah Transjakarta Andini memang sangat sedikit, biasanya saya butuh waktu sampai 45 menit menunggu.

Di FX sudah ada beberapa pelari yang ada di mobil ELF. Saya langsung menuju mobil 1. Karena start dimulai pukul 06:00 saya dan pelari yang lain langsung tidur nyenyak untuk mempersiapkan hari yang berat pada paginya.

Ketika bangun, ternyata mobil sudah berada di Balai Desa Pancawati, lokasi start Pancawati Trail Run ini. Waktu masih menunjukan pukul 04:00 WIB, beberapa pelari ada yang melanjutkan tidurnya, yang lain sibuk mencari toilet😀.

Pada saat sinar matahari mulai kelihatan, barulah saya menyadari lokasi Balai Desa yang berada di tengah-tengah pegunungan. Awalnya saya ragu, ‘beneran nih 16 Km lari-lari di tempat kayak gini?’. Peserta dibagi ke dalam dua kategori, 7K dan 16 K.

Start dimulai ketika Kepala Desa yang kami tunggu-tunggu akhirnya memberikan sambutan. Awalnya sempat minder, karena pelari lain banyak yang menggunakan tas kecil yang bisa menampung minuman dan kelengkapan lain. Jelas saja banyak peserta yang membawa perbekalan karena memang diwajibkan oleh panitia :D Saya hanya membawa handphone untuk bisa menghubungi orang rumah kalau terjadi sesuatu, serta KTP, ATM dan uang 100 ribu yang saya kalungkan di waterproff case, kalau sesuatu itu terjadi (atau buat ngojek kalau ga kuat :D). Begitu keluar dari gerbang start, kami melalui jalan raya desa yang menanjak, dan akan terus menanjak hingga 7,5 km ke depan. Hawa pegunungan sangat segar sehingga saya pun jadi semangat untuk berlari. Di KM 2 dan 3 saya melewati perkebunan sayur warga. Di tempat itu saya bisa melihat dengan jelas Gunung Gede Pangrango. Kondisi jalan meskipun tanah masih manusiawi dan tidak berdebu. Di KM 5 barulah saya merasakan trail yang sesungguhnya.

Keren bro rutenya!!

Keren bro rutenya!!

Sepertinya saya sudah memasuki kawasan hutan primer. Sinar matahari sudah mulai tidak tampak karena terhalang pepohonan tinggi. Kondisi trak sudah mulai menantang. Di beberapa bagian, terdapat jalan yang terbelah tiga bagian, dimana terdapat dua celah yang ketika hujan menjadi aliran air.Di beberapa tempat saya bahkan harus memegang dahan-dahan tanaman merambat, agar tidak terjatuh ke celah yang dalamnya bisa mencapai satu meter.

Ini yang saya maksud jalan terbelah tiga

Ini yang saya maksud jalan terbelah tiga

Yang ini jalan terbelah dua

Yang ini jalan terbelah dua

Nah enak kalau saling bantu gini,, Lah sementara saya harus menghadapi sendiri

Nah enak kalau saling bantu gini,,

Setelah sampai di KM 7,5, rute trail run berubah menjadi menurun. Waw, inilah pertama kali saya merasakan sensasi lari down hill. Setelah tenaga hampir habis melalui rute menanjak, saya merasakan ada tarikan gravitasi ke bawah sehingga lari menjadi cepat. Di hadapan rute menurun ini, saya melihat dengan jelas gagahnya Gunung Salak yang terlihat sangat utuh.

Huh Hah Huh Hah

Huh Hah Huh Hah

Di rute menurun itu juga masih ada jalan yang terbelah tiga. Beberapa di antaranya ada bekas longsoran, mungkin ada pelari di depan saya yang terjatuh. Sangat sulit mengendalikan kecepatan lari ketika jalanan menurun tajam, jadi wajar saja ada yang terjatuh.

Ketika melewati Hutan tanaman Ketapang

Ketika melewati Hutan tanaman Ketapang

Nikmatnya lari itu bukan pada aksesoris yang kita pakai, tetapi udara sejuk dan suasana yang sangat alami.

Nikmatnya lari itu bukan pada aksesoris yang kita pakai, tetapi udara sejuk dan suasana yang sangat alami.

Sekitar KM 13 akhirnya saya sudah di pertigaan jalan aspal. Terdapat pos terakhir pemberian minum dan buah-buahan, dan saya baru menyadari belum berhenti satu kali pun di pos hidrasi. Karena ingin cepat selesai dan tidak ingin mengganggu pencernaan, saya memutuskan untuk melanjutkan lari tanpa mengambil minum dan buah di pos hidrasi terakhir tersebut.

Paling malu kalau lagi lari di foto orang :V

Paling malu kalau lagi lari di foto orang :V

Akhirnya saya bisa mencapai gerbang finish selama 1 jam 48 menit dengan jarak tempuh 16,22 KM. Meski tergolong agak lambat, namun saya bersyukur bisa menyelesaikan tantangan super ini. Sepatu saya pun bentuknya sudah tidak karuan karena sempat menginjak tanah berlumpur. Karena belum minum sama sekali, saya langsung menghabiskan Mizone dan Aqua yang diberikan oleh panitia serta semangka (4 kali ngambil :D)

Akhirnya jadi Finisher

Akhirnya jadi Finisher

1 jam 48 menit untuk rute yang freak, pemandangan yang keren, serta panitia yang oke

1 jam 48 menit untuk rute yang freak, pemandangan yang keren, serta panitia yang oke

Meski sangat parah kondisi jalannya, saya sangat menikmati trail run pertama saya ini. Kapan lagi bisa lari di lokasi yang sangat unik, pemandangan gunung yang dapat dilihat saat menuju puncak maupun menuju finish, keramahan warga Pancawati, udara yang sejuk. Panitia yang sangat ramah, penanda lari yang informatif, serta ketersediaan pos penyedia minuman yang mencukupi (meskipun saya tidak menikmatinya). Untuk even fund raising semacam ini, sungguh sangat worth it.

Punten Abang,, foto dulu yaa :D

Punten Abang,, foto dulu yaa😀

Mobil ELF yang menjemput kami berangkat lebih awal dari yang dijadwalkan pukul 2 siang. Dan saya pun langsung tidur nyenyak, karena esoknya harus bangun lebih awal untuk mengikuti OJK 5K Fun Run.

Masih bisa mengikuti OJK 5 KM Fun Run, keesokan harinya

Masih bisa mengikuti OJK 5 KM Fun Run, keesokan harinya. Sepatunya belum dicuci hehehe

Terima kasih banyak Derby Runner, semoga sukses juga Fandhi Achmad (Agi) yang akan berlaga mengharumkan nama bangsa di Ultra Trail du Mont Blanc (UTMB), Perancis.

4 thoughts on “Menguji Nyali di Pancawati Trail Run (Tribute to Om Fandhi ‘Agi’ Achmad )

  1. ikhsan sityardi says:

    mantap nih om sandy, jadinpelari trail. ayok ke merbabu kembali ke jogja, cuma 12km rute lari basecamp-puncak-basecamp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s