Metode Pembelajaran Kooperatif

Metode Pembelajaran Kooperatif, belajar sambil melatih siswa untuk bersosialisasi

Metode Pembelajaran Kooperatif, belajar sambil melatih siswa untuk bersosialisasi

Saya berada di lingkungan dimana warga termasuk anak-anaknya senang bergosip. Satu isu terlempar, mereka bersama-sama mengembangkannya. Hal yang tadinya sangat remeh, tiba-tiba menjadi isu penting bagi satu kampung. Lalu sempat terlintas, ‘Nyong Nona, bisakah dong bagosip pelajaran?”, sambil menikmati macet, mari menikmati bahasan ‘Pembelajaran Kooperatif’ dari E-jurnal yang berserakan di folder SD Card.

Metode pembelajaran kooperatif merupakan metode yang digunakan dalam menyelesaikan suatu tugas pembelajaran melalui kelompok siswa yang telah dibentuk (Siegel, 2005). Metode pembelajaran ini dapat dikatakan metode yang cukup rumit mengingat dilibatkannya interaksi antar siswa maupun kelompok dalam proses pembelajaran. Johnson dkk (dalam Nuegbuzie, 2001) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah metode belajar berupa kelompok-kelompok kecil dimana siswa belajar bersama-sama untuk meningkatkan pembelajaran dirinya. Sementara menurut Watson dan Marshal (dalam Baer, 2005) menyebutkan bahwa metode pembelajaran koperatif merupakan metode yang identik dengan kondisi siswa yang heterogen dalam hal prestasi akademik. Dari pernyataan para pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada interaksi dan kolaboratif siswa untuk mencapai prestasi akademik maupun keterampilan sosial, dimana siswa yang memiliki kemampuan beragam dapat diakomodasi melalui pembelajaran yang sifatnya kooperatif.

Johnson dkk (dalam Nuegbuzie, 2001) menyebutkan ada lima elemen yang mendukung proses pembelajaran kooperatif sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan optimal. Kelima elemen tersebut antara lain:

  1. Rasa saling membutuhkan.

Dalam metode pembelajaran yang kooperatif diharapkan setiap siswa memiliki rasa saling membutuhkan satu sama lain. Pembelajaran yang dilakukan tidak sekedar berupa kelompok, namun merupakan sebuah tim yang mengharapakan keberhasilan dari kegiatan di kelas. Situasi di atas akan merubah pandangan siswa bahwa metode belajar kooperatif tidak hanya menguntungkan kelompok saja, melainkan juga masing-masing anggota kelompok (hubungan timbal balik).

  1. Interaksi tatap muka.

Interaksi tatap muka terjadi pada saat siswa menghidupkan dan memfasilitasi suasana diskusi dengan kelompok lain agar tujuan pembelajaran tercapai. Dalam hal ini setiap siswa atau kelompok dapat memberi masukan terhadap hal-hal yang menjadi kekurangan pada kelompok lain demikian sebaliknya.

  1. Tanggung jawab individu.

Masukan maupun kritik dari siswa atau kelompok lain harus dipertanggungjawabkan oleh siswa yang bersangkutan dengan harapan terjadi peningkatan kualitas diri terhadap tugas yang diberikan. Dalam metode pembelajaran ini sikap apatis dan tidak peduli harus dihindari. Para siswa harus berperan aktif dan memberikan kontibusi terhadap kelompok. Hal ini juga untuk meminimalkan potensi social loafing yang terjadi pada situasi pembelajaran. Menurut Johnson, tanggung jawab individu dapat ditingkatkan melalui cara berikut :

  • Membuat kelompok dengan anggota yang terbatas (kelompok kecil)
  • Memberikan tes individu terhadap para siswa.
  • Mempresentasikan tugas kelompok dengan urutan yang acak.
  • Mengamati peran anggota di dalam kelompok.
  • Saling memberikan tugas antar kelompok.
  • Meminta setiap siswa mengajarkan apayang ia kuasai kepada siswa yang lain.
  1. Keterampilan sosial.

Seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal bahwa keterampilan sosial memainkan peranan penting dalam pembelajaran kooperatif. Keterampilan sosial merupakan landasan fundamental terhadap proses pembelajaran kooperatif. Keterampilan sosial pada metode pembelajaran ini sangat diperlukan ketika para siswa memberikan masukan dan kritik kepada kelompok lain dengan tujuan agar tugas-tugas yang diberikan dapat tercapai dengan optimal.

  1. Proses di dalam kelompok.

Proses dalam grup merupakan penilaian terhadap bagaimana gaya para siswa pada saat mereka berinteraksi dalam proses pembelajarn kooperatif apakah efektif atau tidak. Apabila dirasa tidak efektif, pendidik dapat segera melakukan tindakan, apakah memodifikasi atau mengganti gaya interaksi siswa agar hasil pembelajaran dapat tercapai. Proses di dalam kelompok sangat dipengaruhi oleh karakteristik siswa dalam kelas tersebut.

Ref

Siegel, Christine. 2005. The Journal of Education Research: Implementing a research Based Model of Cooperative Learning. Vol. 98. No. 6. 339-349.

Baer, John. 2003. College Teaching: Grouping & Achievment in Cooperative Learning. Vol. 51, No. 4, 169-174

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s