HR Tidak Melulu Soal Rekrutmen

Kita hidup dimana efisiensi adalah segalanya

Kita hidup dimana efisiensi adalah segalanya

Revolusi Industri yang terjadi di Inggris beberapa abad yang lalu telah menimbulkan perubahan yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual oleh tenaga manusia dan hewan, sebagian tergantikan oleh tenaga mesin. Tenaga mesin lebih diminati daripada tenaga manual yang menggunakan makhluk hidup antara lain dapat mengerjakan suatu tugas secara massal, simultan, dan memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. Pada masa awal revolusi Inggris tersebut munculah persoalan-persoalan yang cenderung mengarah ke hubungan sosial. Peran manusia tergantikan oleh tenaga mesin yang akhirnya menimbulkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Tidak hanya berhenti sampai di sini saja, permasalahan pengangguran juga  memunculkan chaos yang terjadi di London. Sesuai dengan teori sosial yang dikemukakan oleh para ahli, manusia akan mencari kompensasi akibat adanya perilaku yang hilang. Dengan adanya tenaga mesin, para pemilik usaha akan dihadapkan suatu kondisi yang dilematis, yaitu bagaimana memproduksi suatu barang atau jasa dengan efisien namun juga memperhatikan para pekerja yang berperan penting dalam membangun suatu komunitas di masyarakat.

Human Resources atau biasa disebut dengan HR, merupakan salah satu departemen yang berperan sangat signifikan dalam penyediaan, pengembangan, dan pemeliharaan sumber daya manusia (SDM) yang berada dalam suatu organisasi, dalam hal ini adalah perusahaan. Pandangan umum masyarakat yang menempatkan HR dalam lingkup yang terbatas pada rekrutmen atau bahkan sekedar pengurus administrasi pekerja seharusnya dapat disikapi dengan bijak. Peran HR boleh dikatakan sangat luas. Tidak hanya terbatas pada rekrutmen namun juga bertanggung jawab terhadap siklus pekerja dalam suatu organisasi, mulai dari rekrutmen, training, penempatan jabatan, hingga urusan pemutusan hubungan kerja. Sebagai aset yang sangat penting, manajemen pengembangan SDM sudah selayaknya menjadi prioritas dalam rangka menciptakan suatu hubungan industrial yang produktif sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan akan tercapai dengan maksimal.

HR juga dituntut untuk memiliki sistem manajemen yang mengacu pada perundang-undangan ketenegakerjaan yang berlaku di wilayah yang bersangkutan. Hal ini untuk memperoleh titik temu kesepakatan antara pihak perusahaan dengan pekerja. Dengan dasar legalitas yang sah, diharapkan kedua belah pihak dapat mendapatkan hak serta menunaikan kewajibannya sehingga hubungan sinergi dapat tercapai. Sebelum peran HR diperhatikan, sangat jelas bahwa kedudukan antara perusahaan dan pekerja kurang adil. Perusahaan yang merasa memiliki segala hal tentang lapangan pekerjaan bebas memperlakukan pekerjanya semena-mena. Perusahaan yang demikian biasanya tidak menganggap pekerja adalah aset perusahaan yang sangat berharga. Padahal riset membuktikan bahwa kepuasan kerja para pekerja terhadap perusahaan berpengaruh terhadap produktivitas.

Mengingat luasnya bidang yang ditangani HR Departement (HRD), maka latar belakang pendidikan tidak menjadi persoalan bagi kebanyakan orang yang akan menduduki jabatan tersebut. Meskipun beberapa posisi seperti rekrutmen, dibutuhkan orang-orang dengan latar belakang psikologi yang paham akan tes-tes psikologi untuk kebutuhan seleksi. Bahkan, banyak divisi yang terkadang memandang sebelah mata peran dan fungsi HR Departement. HRD diidentikan dengan biro kepegawaian pada pegawai negeri sipil yang mengurusi administrasi pekerja,mulai dari database, nomor pegawai, catatan kinerja, sanksi, hingga pemecatan.  HRD yang profesional tidak hanya berfokus pada pekerjaan yang sifatnya administratif belaka. Dibutuhkan suatu program yang terencana, terstruktur dan target-target yang harus dicapai dalam mengolah potensi-potensi pekerja untuk memberdayakan SDM sesuai dengan tujuan organisasi. Dalam hal ini, visi dan misi perusahaan akan sangat menentukan garis-garis besar program tersebut dengan memperhatikan segala potensi maupun hambatan yang ada di lapangan.

Seiring dengan majunya zaman, penerapan teknologi dalam lingkup kerja HRD pun semakin berkembang. Tidak hanya terbatas pada absensi pekerja secara online (penggunaan sidik jari) namun juga digunakan untuk mengolah database yang berisikan data administrasi, track record pegawai yang bersangkutan, serta pemetaan personil yang ada di perusahaan. Teknologi yang begitu canggih sangat membantu HRD dalam merumuskan strategi pengembangan kapasitas perusahaan berbasis SDM secara efisien sehingga pengambilan keputusan tidak terhambat oleh keadaan yang sifatnya administrasi. Teknologi juga telah memudahkan dan mempercepat koordinasi antar top management sehingga sangat membantu untuk menganalisis permasalahan yang terjadi pada setiap divisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s