Enam Jam Menuju Gunung Padang

Gunung Padang, sudah lama rasanya ingin pergi ke tempat ini. Sejak menjadi populer pada tahun 2014, situs megalitikum Gunung Padang menjadi salah satu tujuan utama lokasi wisata. Daya tarik tempat ini adalah adanya batu-batu berbentuk balok yang berserakan. Melihat beberapa foto di internet, saya sangat penasaran ingin berkunjung kesana.

IMG_2406

Awalnya saya mendapatkan pesan Whatsapp dari Ocha, teman kampus yang kini bekerja sebagai jurnalis di Antara. Dia menanyakan apakah saya masih suka berpetualang? Hahahaha, perasaan petualangan saya selama ini cemen-cemen aja. AKhirnya saya mengajaknya ke Gunung Padang dengan menggunakan sepeda motor. Setelah dia setuju saya langsung mempersiapkan informasi rute ke sana. Ada beberapa alternatif rute untuk menuju Gunung Padang yang berlokasi di Kabupaten Cianjur ini. Pilihan pertama adalah melalui Kota Cianjur. Dari Jakarta kita dapat menyusuri Bogor, lalu berbelok di Ciawi menuju Puncak, setelah di Cianjur kita memilih jalur ke arah Sukabumi.Jika sudah sampai di kecamatan Warungkondang, nanti ada pertigaan dengan papan penunjuk jalan ke Gunung Padang. Pilihan kedua adalah melalui Kota Sukabumi. Saya berangkat menggunakan jalur pilihan pertama dan pulang dengan jalur pilihan kedua.

Beristirahat sambil menikmati suasana pegunungan Puncak

Beristirahat sambil menikmati suasana pegunungan Puncak

Perjalanan menuju Gunung Padang saya tempuh dari Jakarta sekitar 6 jam. Sangat panjang memang, oleh karena itu sangat disarankan untuk berangkat sepagi mungkin, terutama untuk menghindari kemacetan di kawasan Puncak. Namun, waktu sepanjang itu akan terbayar jika sudah sampai di lokasi.

Akses jalan menuju Gunung Padang rusak di beberapa titik. Tetep hati-hati ya

Akses jalan menuju Gunung Padang rusak di beberapa titik. Tetep hati-hati ya

Terletak di ketinggian 800 meter dari permukaan laut, Gunung Padang memiliki hawa sejuk. Perkebunan teh akan menjadi penanda bahwa kita sudah mendekati gerbang masuk Gunung Padang.

Jika sudah berada di perkebunan teh, berarti tidak jauh lagi anda akan tiba di Gunung Padang

Jika sudah berada di perkebunan teh, berarti tidak jauh lagi anda akan tiba di Gunung Padang

Selamat datang di situs megalith Gunung Padang

Selamat datang di situs megalith Gunung Padang

Tarif parkir untuk satu sepeda motor sebesar Rp. 5.000 sementara tiket masuk dikenakan tarif Rp.4000 per orang.

Setelah membayar tiket masuk, saya mendaki tangga menuju teras utama Gunung Padang yang terbuat dari batu. Tangga untuk masuk dibedakan dengan yang keluar. Perlu diketahui bahwa kondisi tangga untuk masuk sangat labil dan curam. Berbeda dengan tangga untuk keluar yang sudah disemen.

Tangga untuk mendaki, labil dan curam

Tangga untuk mendaki, labil dan curam

Setelah melalui pendakian yang cukup melelahkan, akhirnya saya dan Ocha sampai di teras utama Gunung Padang. Luar biasa, itulah kesan pertama saya. Hamparan batu yang berantakan tersebut membuat bangunan punden berundak terbesar di Asia Tenggara ini sangat keren. Batu-batu yang mayoritas berbentuk balok tersebut tergeletak dalam beberapa posisi, ada yang vertikal, diagonal dan vertikal. Di beberapa lokasi, batu-batu tersebut tampak pernah disusun menjadi bangunan seperti makam. Pengunjung dilarang keras berada di atas batu yang posisinya horisontal. Sepengetahuan saya, ada tiga teras utama di situs Gunung Padang ini (mohon koreksi jika saya salah). Di teras ketiga, terdapat sebuah bangunan gardu pandang.

Keren banget

Keren banget

tampak ada campur tangan manusia

tampak ada campur tangan manusia ketika menyusun batu-batu tersebut

Harus taat aturan ya

Harus taat aturan ya

Meski sarat dengan nilai sejarah, pemerintah masih belum memperhatikan kelestarian situs Gunung Padang. Hal ini tampak dari banyaknya pedagang yang dibiarkan berjualan di sekitar teras utama Gunung Padang. Pengunjung juga tampak asik berdiri atau menduduki bebatuan yang posisinya vertikal sekalipun untuk sekedar bernarsis ria. Padahal perilaku tersebut berpotensi merusak situs megalitikum kebanggan Indonesia ini yang hingga sekarang masih dalam proses penelitian oleh para ahli. Alangkah baiknya jika pengelola memberikan pagar pelindung yang mengelilingi teras utama Gunung Padang sehingga mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Kami tidak berlama-lama di Gunung Padang, mengingat perjalanan cukup jauh. Semoga para peneliti yang hingga kini masih mencari tahu sejarah Gunung Padang bisa mengungkap Gunung Padang yang masih banyak memunculkan tanda tanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s