Senja di menuju Istua.

Istua atau orang Kuli menyebutnya Translok singkatan dari transmigrasi lokal. Istua merupakan daerah yang dihuni oleh para transmigran lokal yang berasal dari desa Kuli. Beberapa muridku berasal dari Kampung Istua yang letaknya cukup jauh dari sekolah dan terpencil. Translok merupakan salah satu cermin ketertinggalan yang masih ada di bumi Nusa Lontar. Tidak ada listrik, akses jalan yang rusak dan minimnya fasilitas umum membuat banyak transmigran akhirnya meninggalkan Istua. Banyak rumah-rumah yang kosong dan membuat malam di Istua sangat mencekam.

Bersama murid-murid ku di translok suatu ketika

Bersama murid-murid ku di translok suatu ketika

Kegiatan kerja bakti di Bukit Mando’o hampir selesai pada malam hari. Beberapa anak yang berasal dari translok menginap di rumah kerabatnya yang ada di Batulai. Sementara yang lain lebih memilih nekat berjalan kaki ke rumahnya di Istua. Agar mereka aman sampai di rumah, aku memutuskan menemani mereka ke Istua. Selain itu aku juga ingin mengetahui kondisi Istua pada malam hari yang konon sangat mencekam itu.

Itulah yang membuat siswa-siswa yang berasal dari Istua memiliki kebiasaan unik setelah pulang sekolah. Mereka akan berkumpul dulu di depan gereja pertigaan menuju Istua, sambil menunggu teman-teman SMP. Bahkan pada saat siang pun, anak-anak tidak berani berjalan sendirian ke Istua. Banyak orang jahat dan rampok kata mereka.

Saat mengantarkan mereka aku tetap membawa sepeda namun aku tuntun. Anak-anak memiliki ketertarikan tinggi terhadap sepeda gunungku sehingga aku membiarkan mereka menuntun sepedaku. Langit malam itu sangat gelap. Namun bintang-bintang memenuhi sudut-sudut langit yang membuat perjalanan menuju Istua kali ini tidak mencekam, justru menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari tim sepak bola yang baru dibentuk hingga cerita-cerita seram dari Istua. Anak-anak bahkan memintaku kembali karena takut aku ‘kenapa-napa’ bersepeda sendirian menuju rumahku di Batulai.

Sampai di Istua aku melihat perkampungan itu seperti kampung hantu, gelap, sepi, dan banyak rumah kosong. Tidak ada suara televisi yang berdengung atau sekedar suara orang yang bercengkerama. Aku mulai mengkaitkan keadaan kampong ini dengan prestasi anak-anak Istua di sekolah yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan anak-anak dari desa yang lain. Untuk menuju sekolah saja mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer dengan kondisi jalan rusak dan berbukit-bukit.

Setelah memastikan anak-anak kembali ke rumahnya, aku kembali ke Batulai. Jarak dua kilometer tentu bukanlah jarak yang jauh jika menggunakan sepeda. Langit tanpa bulan, namun jalanan yang kontras, berwarna putih sangat membantu mataku yang sudah rabun menuju Batulai. Aaaah, anak-anak Istua, semoga mereka akan selalu menjadi anak yang tangguh di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s