Bubur Sumsum Anomali

Fotonya gak representatif memang, tapi kalau di sini dijamin kita akan 'dipaksa' belajar masak

Fotonya gak representatif memang, tapi kalau di sini dijamin kita akan ‘dipaksa’ belajar masak

Sampai saat ini banyak pembelajaran yang aku dapatkan di Desa Kuli. Selain kemampuan ku mengendarai motor yang berkembang pesat, kemampuan memasak sepertinya juga mulai terasah. Aku bukanlah seorang vegetarian, lebih tepatnya pemakan daun. Kalau untuk sayuran seperti wortel, tomat, dan labu aku masih bisa menelannya. Tapi kalau untuk dedaunan seperti kangkung, katup, daun pepaya maaf-maaf saja. Melihat benda layu berwarna hijau tua di piring saja sudah membuatku kehilangan nafsu makan.

Tiga minggu di Rote, bakat vegetarianku mulai muncul. Rumah keluarga ku di Desa Kuli ini sangat senang memasak sayur terutama sawi dan kangkung. Dua hari pertama rasanya sangat tersiksa hanya makan dengan nasi, tumis sayur dan sambal. Tetapi lama kelamaan aku terbiasa dan justru ketagihan.

Kesukaanku terhadap sayur bukan karena rasanya, tetapi aku melihat proses pembuatannya yang membuatku lebih menghargai masakan mama di rumah. Sayur yang aku makan sehari-hari disini ditanam dan dipanen di belakang rumah. Semua dikerjakan oleh keluarga. Di Pulau Rote yang tidak terlalu subur ini, menanam sayur adalah hal yang sangat istimewa. Maka jangan heran, harga sayur di Kota Ba’a cukup mahal.

Karena mereka telah membuatku menyukai sayur sebagai imbalannya aku merencanakan membuatkan bubur sumsum untuk mereka. Di Ba’a aku membeli bahan-bahan bubur sumsum yang tertera di resep masakan Mbak Anies. Semua bahan sudah aku beli kecuali santan kelapa yang jumlahnya melimpah di rumah. Aku meminta bantuan Pak Nathan untuk memetikkan kelapa di pohon sebelah rumah.

Ini adalah kali pertama aku memasak bubur sumsum dan aku tidak pernah mencoba sebelumnya. Bubur Sumsum yang akan aku buat ini pertaruhan besar, karena menyangkut reputasiku sebagai orang Jawa yang oleh masyarakat desa ini dikenal jago memasak. Pengajar Muda sebelumku di desa ini, Mbak Anies dikenal sebagai ibu yang pandai memasak. Bahkan dia sudah membuat resep makanan yang sudah beredar di seluruh wilayah penempatan Pengajar Muda di Rote. Hanya rasa percaya diri yang membuatku nekat memasak bubur sumsum ini. Segera aku campur seluruh bahan yang ada di depan mata. Santan, tepung beras, garam dan vanila. Orang rumah sudah penasaran dengan bubur sumsum yang akan ku masak.

“Pak Iwan, masak apa ko?” tanya mama.

“Bubur sumsum ma”

“Bubur sumsum? Itu bubur apa? Kenapa namanya sumsum?”

“Waduh, aku juga tidak tahu Ma” kataku dalam hati

“Ooooh gini Ma, bubur yang beta masak ni seperti sumsum hewan, warnanya putih halus, nah itu mungkin Ma dinamakan bubur sumsum”

Ketika melihat panci aku mulai panik. Adonan bubur sumsum menggumpal membentuk tekstur yang menjijikan. Aaah aku lupa mengaduk, langsung saja aku ambil sendok untuk mengaduk adonan bubur itu cepat-cepat. Permasalahan tidak berhenti begitu saja, setelah aku cicipi rasa buburnya terlalu asin. Aku ambil sisa tepung beras yang ada dan kutambah dengan air lalu ku aduk kembali. Namun sepertinya air yang kucampur jumlahnya terlalu banyak sehingga adonan menjadi sangat encer. Mama sudah mulai curiga karena aku merebus hampir 45 menit lamanya.

“Pak Iwan, bubur sumsum memang lama terlalu ya masaknya?”
“Oh iya ma, karena air yang beta masukkan banyak terlalu, jadi memang agak  lama”

Tiba-tiba rombongsn keluarga marga Suilima, marga keluargaku, datang. Sekitar delapan orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Aku menyerah, bubur sumsum perdana ku ini lebih encer dari bubur sumsum yang normal. Setelah kucicipi rasanya pun semakin tidak karuan karena aku perasa vanila yang tidak sesuai dengan dosis.

Dengan wajah yang agak lesu akhirnya aku menawarkan kepada mereka yang datang untuk merasakan bubur sumsum anomali yang aku buat. Karena tidak ingin melihat ekspresi mual mereka ketika makan bubur nanti, aku pergi ke atas bukit untuk mencari sinyal dan menelepon keluargaku. Mamaku di Jakarta tertawa terbahak-bahak melihat komposisi bubur sumsumku yang sungguh kacau balau. Hahahah, aku hanya bisa ikut tertawa asam. Satu jam kemudian aku turun kembali ke rumah, dan aku kaget melihat panci yang berisi bubur sumsum sudah habis tanpa bekas.

“Pak Iwan, buburnya enak terlalu, katong sampai nambah tadi, maaf Pak Iwan jadi tidak kebagian”

Waduuuuh, ini lidahku atau lidah mereka ya yang bermasalah?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s