Adu Betis di Pantai Sanama

Pantai Sanama yang sedang surut

Pantai Sanama yang sedang surut

Sudah tiga hari ini Desa Kuli dilanda oleh angin muson timur yang cukup kencang. Suara angin disini lebih mengerikan daripada angin yang berhembus di Barak Pusdikpassus Situlembang. Suara gemuruh angin semakin keras terdengar akibat suara gesekan daun lontar dan kelapa yang tumbuh lebat menyerupai hutan di sekeliling rumah. Meski demikian, angin semacam ini hampir tidak menimbulkan efek apapun di rumah-rumah penduduk. Banyak rumah-rumah disini yang masih terbuat dari kayu dan beratap tumpukan daun. Entah teknologi apa yang mereka gunakan sehingga angin yang melaju cepat itu tidak mampu menerbangkan atap-atap daun yang ringan.

Sore ini hari kedua aku berpuasa. Aku memutuskan mengajak anak-anak di sekitar rumah bermain di Pantai Sanama, Desa Oelasin, kecamatan Rote Barat Daya yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah. Aku sudah beberapa kali mengunjungi pantai berpasir krem ini. Jika dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di Rote, Pantai Sanama terlihat biasa saja. Namun jika pernah ke Parangtritis, Yogyakarta, ada keistimewaan yang akan kita dapatkan dari pantai ini. Ya, Parangtritis dan Sanama memiliki beberapa kesamaan seperti adanya pegunungan di sebelah timur dan hamparan pasir yang berasal dari muara sungai. Saat tiba di Pantai Sanama, laut sedang surut. Aku dapat melihat batuan karang yang muncul ke permukaan. Beberapa warga sibuk mencari binatang laut untuk dikonsumsi. Hutan bakau yang biasanya digenangi air, kali ini terlihat berdiri gagah dengan susunan akar yang rumit menyentuh pasir.

“Betis bapak besar sekali” celetuk seorang anak membuyarkan pandanganku ke arah pulau di seberang.

“Oh ini karena hobi lari dan bersepeda”

“Ooo”

“Mau diuji?, ayo kita balapan lari sampai ke ujung muara sungai, lalu balik lagi” tantangku kepada mereka.

Seorang anak berinisiatif menggoreskan kayu ke pasir membentuk garis lurus sebagai tanda start. Kami semua berbaris dan menanti aba-aba dariku.

“Bersedia, siap, Yaaaa!”

Kami semua melesat cepat. Satu persatu mereka kelelahan. Hanya ada dua anak yang bertahan hingga pada akhirnya tidak ada yang sanggup lagi menemaniku berlari. Mereka akhirnya percaya bahwa sosok guru culun dan berkacamata ini dulunya pernah mengikuti lomba lari tingkat internasional (yaaa walaupun Cuma jadi peserta peramai saja)

Anak-anak di Rote secara umum memiliki tubuh yang ramping. Bahkan aku hampir tidak pernah menjumpai anak-anak atau remaja yang memiliki badan gemuk. Hal ini disebabkan masyarakat Rote selalu mengkonsumsi nasi dan sayur setiap hari. Memakan daging biasanya hanya dilakukan saat ada Tu’u atau pesta. Padahal hampir semua masyarakat di desa ku memiliki hewan ternak seperti unggas, babi, kambing, sapi maupun kerbau. Namun menereka menyimpannya, dan memakannya hingga pesta itu diselenggarakan.

3 thoughts on “Adu Betis di Pantai Sanama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s