Terima Kasih Keluarga Baruku!

Keluarga Baruku

Keluarga Baruku

Rumah ini mungkin yang paling besar di dusun Batulai, atau setidaknya rumah Bapak Marten adalah satu-satunya rumah bertingkat. Pak Marten berperawakan kecil, namun raut wajahnya menunjukan sosok yang keras. Rambutnya keriting agak panjang. Awalnya aku ragu beliau bisa menerimaku. Ketika pertama kali aku dan Mama Anies datang membawa banyak tas ke rumahnya, Bapak masih belum ada di rumah. Hanya ada beberapa saudaranya saja yang datang menemani kami ngobrol.

Dari arah timur terlihat puluhan kerbau berjalan lambat menuju halaman samping rumah yang dipagari oleh tumpukan batu. Di belakang iring-iringan kerbau itulah aku pertama kali melihat sosok Pak Marten. Pak Marten sudah ada di rumah sekarang, namun belum ada tanda-tanda ia akan menyapaku. Bahkan ketika waktu beranjak malam, aku dan tas-tas bawaanku masih berada di luar, padahal pintu sudah dMamaka dan Pak Marten serta istrinya sudah ada di dalam rumah.

Dari luar rumah aku melihat beberapa keluarga Pak Marten sedang mengutak-atik kabel dan lampu. Melihat ekspresi mereka yang mulai kesulitan merangkai kabel listrik, aku berinisiatif membantu meski dengan pengetahuan tentang listrik seadanya. Sementara merangkai kabel dan lampu, di lantai atas aku mendengar suara orang yang sedang menyapu.

Sekitar setengah jam kemudian Bapak dan Mama baruku itu akhirnya mempersilakan aku masuk menuju kamar. Beberapa anak perempuan keluarga Pak Marten juga ikut serta membawa barang bawaanku ke atas. Salah satu keluarga Pak Marten mengatakan bahwa mereka ingin mempersiapkan tempat yang sebaik-baiknya kepada anggota keluarga baru. Maka dari itu aku ditahan agak lama di luar rumah karena  kamar perlu dibereskan dan dipasangi lampu agar tidak gelap saat malam.

Penghargaan mereka kepada tamu tidak berhenti disitu saja. Mama menangkap seekor ayam lalu memintaku untuk memotongnya dengan cara islami agar halal. Mayoritas penduduk Rote Ndao beragama Kristen termasuk keluarga Bapak Marten. Meski demikian toleransi mereka terhadap agama lain sangat baik. Mereka tidak akan membiarkan aku memakan makanan yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam.

Sambil menunggu masakan matang, aku, Pak Marten, dan saudara-saudaranya yang hadir, mengobrol hingga malam. Aku senang karena suasana rumah yang ramai oleh keluarga besar Pak Marten. Mereka sangat senang menceritakan semua tentang kehidupan masyarakat di Batulai kepadaku. AKhirnya ayam yang dimasak oleh Mama matang dan kami semua makan bersama. Selesai makan aku berinisiatif mencuci sendiri piring yang aku gunakan di belakang rumah. Ketika aku kembali ke tempat makan, Pak Cornelis, kerabat Pak Marten yang ikut berkumpul mengatakan bahwa laki-laki kurang baik mencuci piring setelah makan karena itu adalah tugas wanita. Beliau juga menjelaskan bahwa masyarakat Rote menganut paham patrilinieal dalam memandang laki-laki dan perempuan. Di sini aku memang harus menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Meski mereka punya toleransi yang baik, namun ada hal-hal dimana akulah yang harus mengikuti aturan mereka.

Hari ini aku bahagia, banyak hal yang aku dapat, keluarga baru, rumah baru, pengetahuan baru dan pemahaman baru. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, peribahasa itu memang realistis. Semoga setahun ke depan aku bisa menjalankan semuanya dengan baik. Bisa hidup bersama masyarakat Rote sepertinya akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Semoga!

2 thoughts on “Terima Kasih Keluarga Baruku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s