Menuju Koordinat S10 51.816 E123 03.466

Bersama Anies dan teman-temannya

Bersama Anies dan teman-temannya

Aku tidak tahu itu bukit apa, yang pasti banyak masyarakat Desa Kuli yang menangkap ikan disana. Sariawan yang hinggap di mulutku membuat aku malas bertanya ke penduduk apa arti nama bukit itu. AKhirnya setelah berkomunikasi ria di Batulai Hun, aku ingin menjelajahi bukit itu seorang diri. Untuk penunjuk arah, aku memanfaatkan aplikasi Garmin MobileXT yang ada di Nokia N97 ku.Di jalan, aku sapa semua orang yang ada. Berbeda dengan di Jawa, masyarakat Rote tidak menyukai basa basi. Kita sendiri yang harus inisiatif menyapa mereka. Jangan khawatir, aku jamin mereka akan membalas sapaan kita dengan sangat ramah.

Medan pertama yang aku lalui adalah persawahan yang cukup luas. Rote, khususnya Desa Kuli wilayah yang relatif subur jika dibandingkan dengan daerah lain di Nusa Tenggara Timur. Hal ini tidak lepas dari adanya sebuah sungai yang masyarakat sebut dengan Sungai Kuli. Sawah di Desa Kuli hampir sama dengan persawahan di Jawa. Tanaman padi dapat dipanen dua hingga tiga kali dalam setahun.  Pematang sawah disini ternyata tidak sekokoh di Jawa. Begitu diinjak, kakiku terbenam di dalam pematang yang terbuat dari tumpukan lumpur. Sepertinya pematang sawah di sini hanya berfungsi untuk penahan air, bukan untuk pijakan.

Bersama keluarga yang sedang memanen lontar

Bersama keluarga yang sedang memanen lontar

Selanjutnya aku melalui perkebunan lontar. Di sana aku menjumpai sekelompok warga yang memanen air nira dan buah lontar dengan cara menebang. Sayangnya, buah lontar yang mereka tebang sudah habis sehingga aku belum bisa berkesempatan memakannya.

Di tengah perjalanan menuju bukit aku berkenalan dengan seorang pemuda berusia 20 tahun bernama Anies. Anies tinggal di kampung Lutu dan pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia. Berbeda dengan pemuda Rote lain yang umumnya pemalu bertemu dengan pendatang, Anies lebih banyak inisiatif bertanya mengenai seluk belukku. Di bukit kami bertemu dengan sekelompok anak-anak yang sedang bermain. Aku diajak Anies dan teman-temannya menuju pantai yang ada di ujung bukit. Di seberang lautan terdapat Pulau Nusa Laik yang sering dimanfaatkan penduduk untuk mencari ikan. Hari sudah mulai gelap, aku berpamitan kepada Anies dan teman-temannya. Anies memberitahuku jalan pintas menuju Batulai lewat tepi pantai. Dia membantuku menyeberangi muara sungai. Sebelum berpisah, dia memberitahu bahwa empat hari lagi akan berangkat ke Kalimantan untuk bekerja. Dia ingin mengajakku ke Tangga 300, sebuah bukit yang menyajikan pemandangan indah Samudera Hindia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s