Bintang Itu Berserakan di Langit Rote

Bintang-bintang di Rote

Bintang-bintang di Rote

Setelah mengantarkan Pengajar Muda (PM) IV yang sudah selesai masa tugasnya ke Pelabuhan Ba’a, aku dan teman-teman PM VI langsung memindahkan barang-barang peninggalan PM IV menuju rumah kontrakan kami yang baru. Karena lokasi kontrakan yang baru cukup jauh, pengangkutan barang berlangsung hingga sore hari. Sementara aku harus segera menuju Desa Kuli untuk mengembalikan motor dan menginap di rumah keluarga baru ku.

Ini adalah pertama kalinya aku mengendarai sepeda motor sendirian pada malam hari dari Ba’a menuju Desa Kuli. Meski jarak yang ditempuh hanya 17 km, perjalanan menuju Desa Kuli bukanlah perkara mudah. Jalan yang menghubungkan antar desa itu sebagian besar dalam kondisi rusak parah. Jika tidak waspada, siap-siap saja akan jatuh tersungkur diantara batu kerikil yang tajam. Rumah penduduk relatif jarang dan jarak antar desa cukup jauh. Jadi, kalau terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di jalan seperti kecelakaan atau ban bocor, siap-siap saja menghadapi itu semua sendirian.

Jalan raya dari Ba’a hingga pusat pemerintahan Kabupaten Rote Ndao kondisinya cukup baik dan mulus. Setelah itu jalan mulai rusak dan naik turun menyusuri bukit. Kondisi jalan tersebut memaksa para pengemudi harus memperlambat laju kendaraannya. Tidak ada lampu yang menerangi jalan selain lampu kendaraan. Oleh karena itu masyarakat yang melewati jalan ini pada malam hari harus ekstra hati-hati.

Aku hanya menjumpai beberapa kendaraan saja. Setiap kali aku sapa dengan klakson, mereka membalasnya dengan klakson juga beberapa juga menyapa dengan suara. Hampir masyarakat Rote yang aku jumpai di pedesaan cukup  ramah. Mereka akan selalu merespon jika kita sapa. Para siswa juga umumnya berinisiatif mengucapkan selamat pagi kepada guru yang lewat dihadapan mereka.

Hari semakin malam, posisiku sudah berada di wilayah tengah Pulau Rote yang berbukit-bukit. Jalanan yang aku lalui semakin berbahaya karena rusak dan naik turun. Beberapa hewan seperti kambing dan anjing dengan seenaknya tidur di tengah jalan. Aku mengusirnya dengan mengklakson beberapa kali. Sambil menunggu mereka pergi, aku menghentikan sepeda motor dan memandang langit di atas. Sangat luar biasa pemandangannya.

Bintang-bintang itu berserakan menghiasi langit Rote. Sangat indah. Gugusan bintang itu membentuk pola memanjang. Inilah yang mungkin di sebut Milky Way. Tidak hanya bintang, bulan saat itu juga bercahaya meski sudah tidak purnama. Minimnya penerangan di daratan, membuat bintang-bintang terlihat sangat jelas dari langit Pulau Rote.

Rote merupakan salah satu tempat pengamatan bintang terbaik. Selain karena minimnya penerangan lampu yang dapat berakibat pada polusi cahaya, musim kemarau di Pulau Rote relatif lebih panjang dibandingkan dengan musim hujan. Musim hujan dapat mengakibatkan pengamatan langit terganggu karena benda langit terhalang oleh awan. Seringkali kita dengar observatorium Boscha yang sering gagal mengamati fenomena langit akibat tertutup awan. Mungkin sudah saatnya di Pulau Rote dibangun observatorium seperti di Boscha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s