Selamat Datang di Bumi Nusa Lontar

Di Bandara El Tari Kupang

Di Bandara El Tari Kupang

Mungkin, inilah tempat paling timur dan paling selatan yang pernah aku kunjungi selama hidup di Indonesia. Setelah sekitar empat jam berada di dalam pesawat, akhirnya aku menjejakan kaki di Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Cuaca di Bandara Eltari saat aku dan rekan-rekan Pengajar Muda (PM) tiba sangat cerah. Begitu menemukan tulisan Bandara Eltari kami langsung berpose di depan kamera. Sejauh mata memandang, nampak padang ilalang yang merupakan pemandangan alam yang khas di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Perjuangan belum usai, satu persatu kami mengamati tas yang lewat di papan berjalan bandara. Semua sudah mendapatkan tasnya kecuali aku. Petugas pun akhirnya mengatakan, sudah tidak ada tas lagi. Ya dan sekali lagi aku mendapatkan pengalaman pahit terbang bersama maskapai Singa Terbang ini. Tas Carrier ku ternyata tidak ikut serta terbang ke Nusa Tenggara Timur. Hal ini pernah aku alami ketika penerbangan dari Pekanbaru ke Yogyakarta 2 tahun silam. Tas yang aku letakkan di bagasi menyasar ke Batam. Beruntung tas segera ditemukan setelah aku dibantu petugas membuat laporan kehilangan. Namun kejadian di Bandara Eltari ini lebih merisaukan. Tas  yang hilang ternyata memang tidak terdaftar di manifest, padahal aku sudah memprosesnya ketika check in di Bandara Soekarno Hatta. Beruntung, barang-barang berharga tidak aku letakkan di tas itu. Akhirnya aku mengurus laporan kehilangan barang kepada petugas terkait dan menunggu sampai ada kepastian tas carier ku bisa ditemukan. Di Kupang kami sudah disambut oleh PM IV yang sudah bertugas di Rote hampir setahun lamanya. Mereka akan bersama PM VI selama dua minggu dalam program transisi.

Kami menginap semalam di Kota Kupang sebelum akhirnya pergi ke Pulau Rote. Di Kupang aku berjumpa dengan rekan-rekan Resimen Mahasiswa Mahadana, Nusa Tenggara Timur. Sebagai mantan anggota menwa  sudah menjadi semacam kewajiban untuk ‘lapor diri’ kepada menwa setempat. Beruntunglah mereka datang ke tempat aku menginap dan mereka menerima keberadaanku di Kota Kupang dengan sangat baik. Ada banyak hal menarik yang kami bicarakan hingga tak terasa sudah larut malam.

Ternyata ilmu teritorial yang aku dapatkan ketika mengikuti kegiatan Ekspedisi Khatulistiwa banyak manfaatnya. Istilah teritorial mungkin terdengar asing, bahasa mudahnya, ilmu teritorial adalah cara kita menghimpun potensi di lingkungan sekitar untuk mendukung tugas dan langkah kita ke depan. Salah satu kemampuan teritorial yang harus dimiliki adalah mampu bergaul dan menarik hati masyarakat. Penerimaan masyarakat sangat penting artinya ketika kita berada di lingkungan yang baru. Tanpa ada penerimaan yang baik, masyarakat akan curiga terhadap kedatangan kita di tempat mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s