Kembali Sunyi Di Rumah

Sudah pukul  07:00 WIB dan aku masih tertidur di Wisma Handayani, Jakarta Selatan. Seharusnya aku bangun pukul 05:00 supaya bisa berlama-lama di rumah. Baiklah, meski tanpa menikmati sarapan di wisma, aku putuskan untuk segera pulang ke rumah. Wisma-Blok M-Kalideres adalah rute yang telah aku lalui pagi ini.

Ketika di Metro Mini dan TransJakarta aku jadi teringat sesuatu. Hei, ini pernah menjadi bagian dari keseharianku selama satu setengah bulan. Inilah Jakarta yang aneh. Berdesak-desakan dalam bus, menyaksikan film di netbook saat TransJakarta sedang melaju, dan pada akhirnya rasa lelah yang terakumulasi ketika sudah di rumah. Sangat berbeda, dengan lima tahunku yang luar biasa di Jogja. Disini aku menyadari bahwa hidup bukanlah soal uang. Hidup adalah menjadikan kesenangan selalu ada pada setiap waktu. Menikmati hari di jalanan macet kota Jakarta mungkin bukan keinginan setiap orang. Namun mereka tetap saja melaluinya karena ada rupiah yang akan menanti mereka (tentu saja dengan pengorbanan).

Sampai di rumah, aku hanya menyaksikan ibu seorang diri menonton televisi, kedua adikku bersekolah dan ayahku bekerja. Ibuku bukan orang yang senang berbasa-basi, hanya pertanyaan standar yang terucap begitu melihatku, “Sudah makan belum?” *gubrak. Ya itulah yang aku suka dari ibuku, sederhana dan tidak suka berbasa-basi. Sama halnya ketika mengetahui lokasi penempatanku di ujung selatan sana. Sekali lagi hanya pernyataan standar “Jaga diri baik-baik ya”. Tapi dibalik sikapnya yang tidak basa-basi, kami sekeluarga sering direpotkan oleh sakit yang dialaminya sejak 8 tahun lalu. Bahkan aku sering menganggap ibuku sebagai proyek pembangunan yang dikerjakan pada jaman Soeharto, terlihat kokoh namun ternyata keropos. Tiba-tiba sakit, lalu sehat kembali, dan yang menjengkelkan adalah susah dinasihati untuk pergi ke dokter. Aku mengerti ibuku hanya ingin menjadi wanita yang kuat, yang tidak cengeng dan tidak membuat orang lain terbebani.  Didikannya ke kami, para anaknya selama ini sepertinya juga menjurus ke hal tersebut, agar kami tidak menjadi orang yang cengeng dan tetap tegar menghadapi masa-masa sulit bahkan menyakitkan sekalipun.

Baiklah, ini adalah satu hari yang sangat bermakna. Meski datang mendadak, namun masakan seafood buatan ibu memang tidak ada duanya. Cumi, udang, dan kerang yang dia olah rasanya jauh lebih enak daripada masakan restoran yang pernah aku coba. Belum lagi kalau membuat pempek, rendang dan lain-lain. Beda sekali sama anak sulungnya, masak makanan survival saja rasanya gak karuan.

Gaya masakannya memang biasa saja, tidak secerewet chef-chef  di televisi. Bahkan sering menolak ketika aku mau membantu, walaupun hanya sekedar mengupas bawang. Katanya, rasanya tidak akan enak kalau dipegang oleh tangan yang pernah memegang ular.  Dan belakangan aku baru tau kalau sebelum aku lahir, ibuku pernah menjadi juru masak di salah satu kedutaan besar di Jakarta.

Pantes saja -.-‘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s