Di manakah aku?

Benarkah banjir Januari 2013 lebih besar daripada tahun 2007? Atau hanya twitter, facebook atau online news yang membuat banjir 2013 ini tampak lebih menakutkan?

18 Januari 2013 : Niatnya mau pulang ke Jakarta, tiket kereta pun sudah dipegang untuk keberangkatan pada tanggal 21 Januari karena masa sewa kost sudah akan habis pada tanggal 26. Ternyata hari ini dapat SMS dari teman bahwa ada pemberangkatan relawan DERU UGM ke Jakarta untuk memberikan bantuan. Rombongan relawan UGM kali ini terdiri dari mahasiswa Fakultas Keperawatan, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Menwa, Unit Selam dan teman-teman yang sudah tergabung dalam DERU. Pemberangkatan akan dilakukan pada nanti malam. Waaah sempat bingung juga, apakah harus ikut pemberangkatan relawan atau tetap berangkat pada tanggal 21 sesuai tiket kereta. Karena hari ini belum siap sama sekali ke Jakarta, termasuk beres-beres kost, pack barang dan pamit sama beberapa teman. Akhirnya aku putuskan ikut berangkat bersama rombongan relawan, siapa tahu masih butuh bantuan. Apalagi bencana banjir kali ini terjadi di Jakarta, my proud city😀. Kali ini aku membawa tiga tas berukuran besar, satu tas carier dan dua tas ransel. Isinya apalagi kalau bukan sisa-sisa barang di kost yang masih tertinggal.

Perjalanan menuju Jakarta menggunakan bus eksekutif yang cukup nyaman. Jarak antar tempat duduk yang lebar, serta adanya fasilitas charger sehingga kami dapat mengupdate info banjir Jakarta dari gadget tanpa harus khawatir kehabisan baterai. Namun kenyamanan yang kami nikmati segera berubah menjadi petaka ketika berada di Indramayu. AC bus tiba-tiba mati membuat suhu dalam bus meningkat. Kemudian bus kami terjebak macet hampir selama 5 jam akibat banjir yang terjadi di Pasar Ciasem, Subang. Dari pada berpanas-panasan di dalam bus, aku dan beberapa teman berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju Pasar Ciasem untuk mengetahui kondisi di lapangan. Ternyata banjir di Ciasem, Subang lumayan parah. Ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. Menurut keterangan beberapa warga kemacetan banjir ini bahkan mencapai 20 km.

Setelah menempuh kemacetan yang melelahkan, akhirnya rombongan tiba di ibukota. Rombongan telat beberapa jam dari jadwal semula yang direncanakan. Di Jakarta posko kami terleak di Kampus UGM Jakarta. Selain di Yogyakarta, Kampus UGM juga ada di jakarta, tepatnya di daerah Jalan Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan. Kampus UGM Jakarta hanya untuk jenjang S2 jurusan Ekonomi dan Hukum.

Menjadi Navigator Di Kota Sendiri

Jalanan di Jakarta dapat dikatakan sangat rumit. Bagi yang belumpernah ke Jakarta sama sekali,pasti akan kesulitan mencapai lokasi yang diinginkan dengan jarak tempuh terdekat. Di Jakarta kita akan sering mejumpai jalan tol, perlintasan kereta api, flyover dan underpass, oleh karena itu sangat sulit mencari petunjuk jalan yang pasti. GPS merupakan alat bantu yang sangat tepat digunakan untuk berpetualang di jalanan Jakarta. Apalagi dalam tugas relawan saat ini, kecepatan dalam memberikan bantuan sangat diperlukan. Bagi yang tidak paham mengenai jalanan Jakarta bersiap-siaplah terjebak macet atau salah jalan.

Karena cukup lama tinggal di Jakarta, dalam tugas kali ini aku dipercaya sebagai pemandu jalan. GPS yang aku gunakan adalah Garmin Mobile XT yang ada di Nokia C5-03 dan Nokia N97 ku. Memang bukan HP Android, Black Berry atau iPhone yang sekarang lagi trend. Kalau urusan kecanggihan, saya rasa HP Nokia yang memiliki System Operasi Symbian tidak kalah hebat dengan Smartphone terkini, semua terkantung dari brainware-nya alias pemakainya.

Kelebihan dari Garmin Mobile XT adalah kemampuan navigatornya serta peta yang dapat membedakan jalan tol, jalan besar, jalan kecil dan gang. Waypoint atau keterangan objek di GPS Garmin Mobile XT juga sangat lengkap, mulai dari pom bensin, perkantoran hingga tukang tambal ban. Dengan fitur navigator kita dapat membuat rute berdasarkan jarak terdekat. Fitur ini membuat perjalanan  yang akan kita lakukan menjadi lebih efektif dan lebih efisien.

Fitur lain yang diberikan oleh GPS ini antara lain menentukan titik koordinat lokasi pengungsian. Koordinat titik lokasi ini penting untuk memberikan laporan kepada Kampus UGM mengenai pergerakan yang telah dilakukan. Titik lokasi yang disertai dengan koordinat juga akan memudahkan menemukan lokasi tanpa menanyakan “dekat ini, dari sini belok kiri dll”. Begitu koordinat lokasi banjir ditemukan, kita tinggal memindahkannya di GPS lalu segera membuat rute perjalanan terdekat.

Saat menyalurkan bantuan ke Bukit Duri misalnya, kami harus menikmati kemacetan di Jalan Saharjo Manggarai. Namun dengan bantuan peta di GPS kami menemukan jalan perkampungan yang ternyata dapat memangkas jarak tempuh perjalanan 30% nya.

Itulah salah satu manfaat dari GPS yang ternyata sangat membantu ketika dalam keadaan darurat. Tidak perlu HP yang terlalu canggih, dengan memanfaatkan fitur yang ada, kita pun dapat beraksi bak detektif😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s