Apakah yang Dimaksud Kecemasan Tes?

Belajar sebelum ujian banyak dilakukan para siswa sebelum mengikuti tes

Belajar sebelum ujian banyak dilakukan para siswa sebelum mengikuti tes

Definisi mengenai kecemasan mulai muncul pada awal tahun 1950 dengan adanya skala kecemasan yang digunakan untuk mengukur kecemasan dalam belajar, ingatan, dan persepsi (Lazarus dan Folkman, 1984). Penelitian mengenai kecemasan mulai meningkat pada tahun 1980, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan gangguan kecemasan (Rachman, 2004). Kecemasan menarik perhatian para ilmuwan psikologi mengingat kecemasan merupakan salah satu dari reaksi emosi yang sering muncul, serta banyak orang merasa tertekan oleh perasaan cemas yang berlebihan.

Menurut Ormrod (2004) kecemasan adalah perasaan khawatir terhadap situasi tertentu yang akibatnya tidak jelas. Sementara Calhoun dan Acocella (1990) menyebutkan bahwa kecemasan adalah perasaan takut terhadap suatu stimulus baik nyata maupun yang tidak nyata disertai dengan peningkatan gejala psikologis yang lazim dalam dinamika emosi. Zeidner (1998) mengungkapkan bahwa kecemasan adalah emosi dasar manusia dalam menghadapi situasi mengancam yang tidak jelas. Bandura (1997) mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan seseorang yang khawatir terhadap kemungkinan buruk yang terjadi.

Berdasarkan definisi-definisi yang telah disebutkan di atas, kecemasan secara umum dapat diartikan sebagai perasaan khawatir terhadap suatu stimulus yang dirasa mengancam dirinya yang sifatnya tidak jelas disertai dengan gejala-gejala psikologis.

Kaplan dan Saccuzzo (2005) menyebutkan ada dua jenis kecemasan yaitu:

  1. Trait anxiety yaitu reaksi kecemasan yang tertanam pada diri seseorang yang sifatnya stabil dan muncul dalam berbagai macam konteks. Trait anxiety merupakan karakteristik kepribadian seseorang.
  2. State anxiety yaitu reaksi kecemasan yang muncul sementara ketika seseorang berhadapan dengan situasi tertentu.

Kecemasan merupakan respon alami seseorang dalam menghadapi ancaman yang berupa ketegangan dan kekhawatiran. Kecemasan mengakibatkan seseorang mengalami gangguan adaptasi antara lain fungsi kognitif, kemampuan bersosialisasi di masyarakat serta kesejahteraan hidup. Di Amerika Serikat, kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya kasus gangguan mental (Everly dan Lating, 2002).

Sarason (Zeidner, 1998) menyebutkan beberapa ciri orang yang menghadapi kecemasan antara lain:

  1. Seseorang akan berpikir bahwa situasi yang dihadapinya sangat sulit, dan mengancam.
  2. Seseorang merasa tidak mampu dalam menghadapi tugas yang diberikan serta tidak mampu dalam menghadapi setiap permasalahan yang akan diberikan.
  3. Seseorang akan berfokus pada hal-hal buruk yang tidak diinginkan misalnya kegagalan.
  4. Seseorang sibuk memikirkan persaingan antara dirinya dengan orang lain.
  5. Seseorang akan berharap mampu mengantisipasi kegagalan serta menghindari anggapan remeh oleh orang lain.

Pada era modern ini, tes merupakan instrumen yang dinilai paling objektif dalam membuat gambaran seseorang. Tes digunakan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, industri dan militer untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam melaksanakan suatu tugas tertentu (Passer dan Smith, 2007). Hasil tes kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan terhadap orang yang bersangkutan.

Situasi tes yang dipenuhi dengan ketidakpastian serta hasil tes yang akan sangat berpengaruh pada kehidupan di masa mendatang akan memunculkan reaksi kecemasan. Seseorang akan cemas ketika harus menghadapi konsekuensi dari hasil tes yang buruk, yaitu kegagalan maupun respon negatif dari masyarakat.

Zeidner (1998) mendefinisikan kecemasan tes sebagai kecemasan yang dialami seseorang terhadap kegagalan dalam tes. Seseorang yang mengalami kecemasan dalam tes pada umumnya cenderung melihat hasil tes dan pada khususnya melihat situasi tes sebagai sesuatu yang mengancam dirinya. Spielberger dan Sarason (2005) menyebutkan bahwa kecemasan tes merupakan kecemasan yang dirasakan oleh seseorang pada saat tes dilaksanakan. Kecemasan tes memiliki dampak negatif terhadap peserta tes yang bersangkutan. Hal ini disebabkan seseorang yang sebetulnya memiliki kemampuan yang baik, namun memiliki kemampuan regulasi afeksi yang rendah sehingga mudah cemas pada saat tes.

Istilah kecemasan tes di Indonesia sendiri telah digunakan sebagai judul dalam beberapa penelitian ilmiah misalnya yang dilakukan oleh Adeleyna (2008) tentang pengaruh kecemasan tes terhadap insomnia pada mahasiswa. Istilah kecemasan tes tersebut digunakan untuk mengefisienkan kalimat kecemasan menghadapi tes. Hal ini sama dengan istilah fobia ular yang memiliki makna fobia menghadapi ular. Istilah kecemasan tes juga memiliki variasi seperti kecemasan ujian dan kecemasan seleksi.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan tes adalah reaksi kecemasan terhadap kegagalan hasil tes yang dialami seseorang pada saat menghadapi situasi tes. Kecemasan tes dapat menghambat kemampuan seseorang dalam mencapai hasil tes yang memuaskan.

Referensi:

  • Lazarus, R. S. & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer.
  • Rachman, S. (2004). Clinical Psychology, A Modular Course. New York: Psychology Press Ltd.
  • Ormrod, J.E. (2004). Human Learning. New Jersey: Pearson Education,inc.
  • Calhoun, J.F. & Acocella, J.R. (1990). Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan Edisi Ketiga. Semarang: IKIP Semarang Press.
  • Zeidner, M. (1998). Test Anxiety: The State of the Art. New York: Kluwer Academic Publisher.
  • Bandura, A. (1997). Self Efficacy: The Exercise of Control. New York : W.H. Freeman and Company.
  • Kaplan, M.R. & Saccuzzo, D.P. (2005). Psychological Testing: Principles, Application, and Issues. California: Wadsworth.
  • Everly, S.G. & Lating, J.M. (2002). A Clinical Guide to the Treatment of the Human Stress Response. New York: Plenum Publisher.
  • Passer, M.W. & Smith, R.E. (2007). Psychology: The Science of Mind and Behavior 3rd edition. New York: McGraw-Hill.
  • Spielberger, C.D. & Sarason, I.G. (2005). Stress and Emotion: Anxiety, Anger & Curiosity. New York: Taylor & Francis Group
  • Adeleyna, N. (2008). Analisis Insomnia pada Mahasiswa Melalui Pengaruh Kecemasan Tes. Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s