Jetak, Secuil Kehidupan di Kaki Gunung Lawu

Begitu dapat kabar dari orang tua kalau kedua Mbah ku di Ngawi sedang sakit, aku langsung mempersiapkan diri menuju kampung kedua ku di kaki Gunung Lawu. Orang tua ku juga sedang dalam perjalanan kesana dari Jakarta menggunakan bus, sementara aku, yeah harus dengan kereta api *maklum railfans.

Selamat datang Logawa, Aku sudah menunggu mu 1 jam lebih lho!

Sebenarnya membeli tiket pada hari keberangkatan adalah sesuatu yang agak nekat. Semenjak tiket kereta bisa dipesan 90 hari sebelum keberangkatan, sangat sulit mendapatkan tiket secara mendadak. Akhirnya dengan diantar adik kost ku, aku langsung menuju Stasiun Lempuyangan, seandainya tiket habis, ya sudah terpaksa menggunakan bus. Aku beruntung bisa mendapatkan tiket Kereta Logawa Purwokerto menuju Jember, di Ngawi nanti aku turun di Stasiun Paron. Harganya lumayan mahal yaitu Rp. 40.500,00. Hal ini disebabkan PT KAI memberlakukan kebijakan harga yang dipukul rata untuk kereta ekonomi jarak jauh. Jadi relasi Lempuyangan-Paron sama dengan Purwokerto-Jember. Penderitaan kembali terjadi saat menunggu Logawa, kereta itu rusak di Stasiun Wates sehingga telat kurang lebih satu jam lamanya. Begitu kereta tiba di Lempuyangan, kereta diberangkatkan setengah jam kemudian.

Pemandangan Jogja-Paron didominasi persawahan. Ya walaupun agak membosankan, perjalanan menggunakan kereta api lebih cepat dibandingkan dengan bus. Akhirnya 3 jam kemudian aku tiba di Stasiun Paron yang terletak di sebelah selatan kota Ngawi. Stasiunnya memang tidak terlalu besar, tapi beberapa kereta api bisnis dan eksekutif seperti Bangunkarta berhenti disini karena Paron adalah stasiun terdekat dari kota Ngawi.

Ini dia penampakan bis mini nya😀

Perjalanan dilanjutkan dengan bus kecil menuju Desa Simo. Saat ini bus kecil jurusan Ngawi-Simo lumayan langka karena semakin banyak warga yang menggunakan sepeda motor. Tapi biasanya bus ini ngetem di Stasiun Paron sehingga begitu aku turun dari kereta aku langsung naik bus ini. Suasana di dalam bus saat itu sangat penuh. Aku pun hampir bergelantungan di pintu yang jumlahnya Cuma satu. Bagi yang tingginya lebih dari 165 cm bersiap-siaplah menderita jika tidak kebagian tempat duduk karena atap bus sangat rendah sehingga kita harus menunduk. Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya tiba juga di Dusun Jetak, Desa Simo tempat mbah ku tinggal.

Dapur kenangan, masih pakai kayu bakar. Dulu kalau abis mandi pagi pasti langsung mangkal disini biar anget deket api😀

Aku pernah bersekolah di tempat ini pada tahun 1999 kelas 4 SD selama satu tahun. Selama tinggal bersama mbah, aku harus bekerja seperti mencari rumput untuk makan sapi dan kambing, memanen padi dan hasil kebun, dan kegiatan bertani lainnya. Pada awalnya sangat sulit, karena terbiasa di kota tiba-tiba harus beradaptasi menjadi orang desa yang terbiasa dengan sawah dan tegal.

Ini dia sumber mata airnya, pria wanita dipisahkan sama tembok di tengahnya

Waktu yang paling aku suka saat itu adalah ketika mandi di mata air yang sangat jernih. Mata air itu merupakan pemandian utama warga Jetak pada tahun 1999 ketika rumah-rumah disana banyak yang belum memiliki fasilitas MCK. DI sekitar mata air itu terdapat pohon-pohon yang sangat besar. Nah ketika aku kemarin kesana ternyata sudah jarang warga yang mandi di mata air itu karena sekarang hampir setiap rumah sudah punya kamar mandi sendiri. Meski demikian mata air itu masih tetap mengeluarkan air jernih yang menyegarkan.

Gunung Lawu dari Dusun Jetak

Dari Dusun Jetak kita bisa melihat pemandangan Gunung Lawu dengan jelas ketika langit cerah. Gunung Lawu merupakan salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung ini terletak diperbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri ada dua kabupaten yang terletak di kaki Gunung Lawu yaitu Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan. Bagi sebagian warga Jetak, Gunung Lawu merupakan salah satu gunung keramat. Bentu Gunung Lawu dari dusun jetak seperti tumpeng puncaknya di hilangkan. Waktu sekolah disini masyarakat Jetak itu cerita kalau dulunya Gunung Lawu bentuknya kerucut sempurna. Namun oleh Hanoman, bagian tengah hingga puncak Gunung Lawu dihempaskan hingga ke daerah Lumajang sana yang kini kita kenal dengan Gunung Semeru (kalau diperhatikan Gunung Semeru itu lancip kan?).

Desa Simo merupakan desa paling selatan Kabupaten Ngawi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magetan. Karena berada di perbatasan, infrastruktur yang ada disini sangat memprihatinkan, terutama akses jalan yang kondisinya rusak parah. Selain karena jarang diperbaiki, jalan yang menghubungkan Desa Simo dengan Dusun Jetak ini rusak karena sering dilalui truk pengangkut batu yang ditambang dari lereng Gunung Lawu. Truk-truk ini hampir setiap jam baik siang maupun malam selalu melintas.

Mayoritas warga Dusun Jetak berprofesi sebagai petani dan beternak. Sama halnya dengan daerah tertinggal lain di Indonesia, generasi mudadi Jetak banyak yang merantau ke luar daerah untuk mencari penghasilan yang lebih layak. Ini yang aku alami setiap kali ke Jetak yang selalu sepi dari anak muda. Bahkan aku jarang menemui teman-teman SD ku dulu karena hampir semuanya merantau ke luar daerah.

3 thoughts on “Jetak, Secuil Kehidupan di Kaki Gunung Lawu

  1. dje sasono says:

    Hmmm….. menarik. Sy selalu suka dengan kehidupan pedesaan yg masih murni, alami, jauh dari polusi perkotaan. Polusi udara, sosial, politik dan eknomi….. (Mestinya harapan hidup warga di wilayah spti ini lebh tinggi.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s