Prasangka, Media dan Propaganda!

Pelangi indah karena ia memiliki banyak warna, begitu pula kehidupan

Sebaga negera yang multikultural, Indonesia memiliki kerentanan terhadap konflik sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Indonesia memiliki pengalaman buruk terhadap konflik sosial yang terjadi sejak kemerdekaan hingga era reformasi saat ini. Yang terbaru adalah konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi di Propinsi Lampung. Sebelumnya, kita mungkin mengetahui konflik berskala besar yang terjadi pada masa lalu seperti konflik Sampit, Poso, Ambon, dan Sanggauledo. Selain konflik sosial yang bersifat horisontal, adapula konflik vertikal yang melibatkan masyarakat dengan pemerintah yang berkuasa seperti konflik Aceh dan Papua. Kedua konflik ini umumnya bersifat separatis dengan tujuan melepaskan diri dari bagian negara Indonesia.

Konflik di masyarakat yang umumnya berakhir pada aksi kekerasan. Seringkali penyebab permasalahan   adalah hal-hal sepele antar individu. Namun karena rasa solidaritas yang tertinggi, konflik individual yang seharusnya bisa diselesaikan secara hukum menjadi konflik yang melibatkan massa. Konflik yang melibatkan massa dalam jumlah besar biasanya sudah memiliki potensi-potensi konflik yang besar. Ibaratnya seperti jerami yang sudah tersiram bensin, akan menjadi bencana besar ketika kita melakukan hal sepele, membuang puntung rokok yang masih menyala baranya ke jerami tersebut.

Perbedaan sosial menjadi identitas para pihak yang berkonflik, baik itu suku, ras, agama dan golongan. Orang-orang yang awalnya tidak tahu menahu kemudian bisa saja menjadi korban maupun pelaku dari tindak kekerasan. Informasi yang beredar baik yang berasal dari kelompok maupun yang berasal dari luar seperti media massa ikut berperan meliarkan prasangka yang ada pada masing-masing pihak yang  berkonflik.

Dalam masa tanggap darurat konflik, aparat sudah seharusnya melakukan tindakan tegas  untuk mencegah aksi kekerasan. Tindakan tegas diperlukan karena tindakan yang bersifat persuasif kurang efektif mengingat emosi massa belum stabil. Aksi-aksi kekerasan dalam konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya berlangsung singkat daripada perang psikologis yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Meski aksi kekerasan sudah selesai, rasa dendam masih muncul dalam masyarakat sehingga berpotensi memunculkan kembali konflik yang berujung pada kekerasan. Untuk mencegah hal tersebut perjanjian maupun kesepakatan damai sering dilakukan oleh pimpinan tertinggi daerah maupun adat. Namun ikrar perjanjian sering kali hanya dipatuhi oleh para elit, belum sampai pada akar rumput masyarakat.

Prasangka-prasangka yang menjadi penyebab konflik harus segera diredam. Pada saat terjadi konflik, umumnya informasi yang beredar di masyarakat menjadi simpang siur. Masyarakat menjadi sangat sensitif terhadap informasi yang muncul dan selalu ditanggapi secara reaktif. Apalagi dengan adanya media sosial di internet yang dapat diakses dengan mudah, informasi yang menyesatkan bisa menjadi bola liar yang ikut menambah panas dalamkonflik. Dalam hal ini pemerintah sudah seharusnya berada di tengah-tengah masyarakat untuk menciptakan rasa tenang serta memberikan penjelasan secara netral mengenai kondisi yang terjadi. Sementara media massa juga harus meninggalkan prinsip bad news is good news. Media massa  sudah semestinya menjadi penyampai informasi yang mengarahkan masyarakat menuju perdamaian, bukan dengan berita yang sifatnya provokatif.

Dua hal menarik yang aku pelajari mengenai operasi psikologis sebagai media perdamaian adalah ketika konflik Aceh dan konflik horisantal yang terjadi di wilayah Sampit, Poso dan Ambon. Salah satu bentuk operasi psikologis itu sendiri adalah melalui propaganda. Ketika konflik Aceh misalnya, pada awalnya pesan perdamaian disampaikan melalui media cetak yang disalurkan di berbagai fasilitas umum di masyarakat yang isinya mengajak untuk kembali ke NKRI. Namun isi pesan tersebut juga mengandung intimidasi dengan menganggap orang menolak kembali ke NKRI adalah orang yang buruk. Dalam keadaan konflik yang memanas, tindakan intimidasi tersebut tidaklah tepat karena hanya akan menghilangkan rasa simpati dan mengurangi esensi dari penyampaian pesan tersebut. Hingga dalam perjalanannya, pesan-pesan perdamaian tersebut disampaikan dengan cara-cara yang santun sehingga mampu meraih simpati dari masyarakat.

Dalam konflik Poso, Ambon dan Sampit, operasi psikologis disampaikan dengan penulisan kisah nyata, orang orang yang diselamatkan oleh pihak lawan. Misalnya ketika konflik antara suku Y dan Z,  A yang berasal dari suku Z diselamatkan oleh suku Y dalam sebuah pengepungan. Begitu pula sebaliknya. Ada juga kisah nyata mengenai persahabatan antar individu  yang tetap terjalin meskipun suku mereka sedang berkonflik. Kisah-kisah nyata tersebut disusun hingga menjadi sebuah buku yang disebarkan pada masyarakat yang tengah berkonflik sebagai propaganda positif. Dengan penulisan kisah-kisah nyata tersebut, mendobrak prasangka masyarakat terhadap golongan tertentu. Harapannya, makin banyak masyarakat yang terinspirasi dari kisah-kisah nyata tersebut untuk membangun perdamaian.

Aku yakin, ketika kita masih menonjolkan chauvinisme yang berlebihan, masalah yang sifatnya individual, bisa menjadi prasangka yang ditujukan kepada golongan lain. Hal inilah yang paling berbahaya di negara yang multikultural seperti Indonesia. Sudah seharusnya kita bangga sebagai orang Indonesia, dan menganggap keanekaragaman yang ada sebagai kekayaan bangsa yang patut dibanggakan.

Referensi : Operasi Psikologi Sebagai Media Perdamaian (Anon Susilo Hadi)

2 thoughts on “Prasangka, Media dan Propaganda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s