Remaja yang Bekerja sekaligus Bersekolah

Seorang anak di Long Apari, Kutai Barat. Usai bersekolah, ia bekerja mencari bahan makanan di hutan.

Keterbatasan ekonomi menyebabkan banyak  tuntutan. Salah satunya adalah remaja usia sekolah yang memilih bekerja. Beberapa tetap bersekolah, namun tidak sedikit di antara mereka yang putus sekolah. Kebanyakan dari mereka bekerja pada sektor informal karena beberapa instansi menerapkan batas usia minimum karyawannya. Berbagai macam alasan melatarbelakangi mengapa pada usia remaja yang seharusnya memprioritaskan pendidikan harus bekerja, namun yang tertinggi adalah alasan keterbatasan ekonomi.

 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan memperbolehkan anak bekerja dengan syarat mendapat izin dari orang tua dan bekerja tidak lebih dari 3 jam setiap harinya. Namun faktanya pelanggaran terhadap undang-undang ini kerap terjadi. Perlu diketahui bahwa pekerja anak menurut undang-undang ini adalah individu yang berusia dibawah 18 tahun dimana remaja masuk dalam rentang usia tersebut. Menurut Data Sensus Kesejahteraan Nasional (Susenas) tahun 2003, di Indonesia jumlah pekerja anak semakin meningkat. Jumlahnya bahkan mencapai 1,5 juta jiwa pada tahun 2003. Data pada Susenas juga menunjukan adanya korelasi positif pada pekerja anak dengan ketidakhadiran di sekolah. Di daerah pedesaan, jumlah ketidakhadiran siswa akibat bekerja lebih banyak jika dibandingkan dengan di kota.

Ketidakhadiran di sekolah atau membolos pada pekerja anak tentu akan menimbulkan permasalahan bagi individu yang bersangkutan maupun lingkungannya. Ketertinggalan materi pelajaran mengakibatkan remaja tersebut akan mengalami hambatan dalam pendidikan, seperti tidak naik kelas, tidak lulus ujian, bahkan hingga berujung pada putus sekolah. Meski demikian, para ahli perkembangan seperti Piaget menyebutkan bahwa remaja sudah mulai berusaha mandiri secara ekonomi.

Santrock (2003) menyebutkan bahwa remaja merupakan tahap transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Dalam tahap ini ada perbedaan antara remaja awal (akhir masa anak-anak) dengan masa remaja akhir (menjelang dewasa awal). Masa remaja merupakan masa pencarian identitas. Hal ini diungkapkan Erikson (Santrock, 2003) bahwa dalam tahap ini remaja berupaya menemukan identitasnya. Mereka menjadi individu yang lebih eksploratif terhadap dirinya dan mulai melakukan perbandingan dengan lingkungan sekitar. Mereka mulai mandiri dalam mengambil keputusan tanpa campur tangan dari orang tua dan lebih kohesif dengan teman sebayanya.

Remaja awal umumnya adalah pelajar sekolah menengah pertama, dan  remaja akhir biasanya merupakan pelajar sekolah menengah akhir dan perguruan tinggi. Sebagian hidup remaja dihabiskan di sekolah. Di institusi ini mereka memiliki sarana bersosialisasi dan mengembangkan hubungan interpersonal dengan sebaya selain mengembangkan kemampuan akademisnya. Hubungan dengan guru juga merupakan salah satu figur selain orang tua yang mengarahkan remaja dalam berperilaku.

Remaja memiliki pola pikir yang formal dan kemampuan fisik yang potensial dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh karena itu remaja sebenarnya mampu mandiri secara ekonomis. Di Amerika kebanyakan siswa sekolah menengah telah memiliki pengalaman kerja. Sebagian dari mereka bekerja paruh waktu. Ginzberg dalam teori perkembangan pemilihan karir menyebutkan bahwa remaja telah melewati tiga tahap pemilihan karir yaitu fantasi, tentatif dan realistis.

Tahap fantasi adalah ketika seorang anak memilih karir berdasarkan keinginannya tanpa mempertimbangkan kemampuan serta risiko-risiko yang mungkin muncul. Contoh paling mudah adalah ketika kita menanyakan cita-cita pada anak usia sekolah dasar. “Dek kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”, mau jadi pilot kak”. Apakah anak tersebut sudah memikirkan biaya pendidikan untuk menjadi pilot, atau risiko-risko seorang penerbang misalnya kecelakaan pesawat? Tampaknya belum.

Pada tahap tentatif merupakan peralihan tahap pemilihan karir dari anak-anak menuju dewasa, yaitu ketika seorang anak mulai mengevaluasi pemilihan karir mereka pada masa anak-anak. Kalau yang ini contohnya dapat kita lihat pada amak yang berada di tingkat sekolah menengah. Mereka menyadari cita-citanya dahulu tidak realistis terhadap kemampuan diri atau lingkungan sekitarnya. Mereka mulai memikirkan kira-kira karir apa yang cocok ke depannya

Sementara pada tahap realistis, remaja akhir akan mulai memilih karir secara objektif didasarkan pada bakat yang ia punya dan kesempatan yang ada. Remaja akan memilih karir berdasarkan apa yang telah ia capai, misalnya dengan ijazah yang kudapat saat ini, sepertinya saya cocok dengan pekerjaan ini.

 Remaja yang bersekolah sambil bekerja memiliki keuntungan sekaligus permasalahan yang harus dihadapi. Keuntungan pada pelajar remaja yang bekerja antara lain memiliki pengalaman mengatur waktu, mendapatkan pengalaman seputar bisnis dan kegiatan yang berorientasi profit, dan manajemen keuangan. Namun beberapa permasalahan muncul pada remaja yang bersekolah sambil bekerja.

Permasalahan tersebut antara lain:

  1. Bahwa remaja yang bekerja paruh waktu jarang berolah raga sehingga berpengaruh terhadap stamina baik di sekolah maupun di dalam pekerjaannya.
  2. Remaja jarang berinteraksi dengan teman-teman sebaya.
  3. Remaja harus menyesuaikan dan menyeimbangkan antara kehidupan sekolah, kerja dan keluarga.

Keadaan-keadaan tersebut mengakibatkan beberapa remaja mengalami kesulitan dalam mengatur kegiatannya yang lebih padat daripada pelajar remaja yang tidak bekerja paruh waktu. Greenberger dan Steinberg menemukan bahwa remaja yang bekerja paruh waktu  mengalami penurunan nilai-nilai . Selain mengalami penurunan nilai, remaja yang bekerja paruh waktu tidak terlalu menikmati masa-masa di sekolah jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mereka sering absen dalam kehadiran sekolah dan berpotensi mengalami kecanduan alkohol.

Nah kalau dilihat dari masalah yang muncul di atas, ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi dampak negatif yang akan dialami oleh remaja yang bekerja sekaligus bersekolah. Kita tidak bisa serta merta melarang remaja yang masih bersekolah untuk bekerja, karena mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain salah satunya adalah alasan keterbatasan ekonomi. Kebanyakan permasalahan yang ada pada remaja tersebut adalah tersitanya waktu luang sehingga tidak dapat melakukan hal-hal yang sifatnya rekreatif. Solusinya adalah mengurangi jam bekerja, sehingga masih ada waktu luang bagi pekerja remaja untuk beristirahat dan berinteraksi dengan rekan-rekannya. Permasalahan selanjutnya adalah intensitas bergaul dengan rekan sebaya yang kurang. Rekan-rekan kerja remaja tersebut mungkin kebanyakan adalah orang-orang yang sudah dewasa. Solusinya adalah menempatkan pekerja remaja tersebut kedalam bagian yang diisi oleh orang-orang yang mayoritas masih seusia.

Sementara yang terahir dan yang paling penting adalah pendamping bagi pekerja remaja tersebut dalam hal ini bisa orang tua, guru, maupun atasannya di tempat kerja. Fungsi dari pendamping tersebut adalah sebagai pemberi semangat dan saran ketika remaja mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya sebagai pelajar maupun pekerja.

Referensi : Santrock, J.W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.

2 thoughts on “Remaja yang Bekerja sekaligus Bersekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s