Ada Kedamaian di Ladang Mamak

di Truk inilah kami berdesak-desakan bersama petani dan penambang emas lainnya

Ada secuil pengalaman di ladang nun jauh di sana. Ladang itu milik sebuah keluarga Dayak Kenyah, Kampung Batu Majang bernama mamak dan bapak Pandi yang sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri. Meski hanya dua hari dua malam tinggal disana, namun ada sebuah nilai baru yang mencerahi pandangan hidupku, kesederhanaan.

Setelah hampir satu jam berdesakan di truk yang membawa para petani dan penambang emas, akhirnya kami tiba di persimpangan yang akan menuju ladang mamak Pandi. Jarak dari jalan utama tersebut sekitar satu setengah kilometer melalui jalan setapak. Terkadang kami harus melewati genangan air, serta tanaman yang menghalangi jalan. Namun kedua orang tua itu beserta cucunya Dheon dengan sigap menebas apapun yang menghalangi jalan kami. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah ladang dengan gubug di tengahnya.

Inilah gubug mamak

Bersama Fifah dan Dheon cucu Mamak

Eh Pratu Sunardi nongolđŸ˜€

Gubug itu saya rasa lebih mirip rumah sederhana, dimana di dalamnya terdapat banyak sekali perabotan dan peralatan untuk berladang. Saya, Mbak Anin, Fifah dan Pratu Sunardi dari Yonif Raider Ambon, ingin mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan berladang masyarakat Suku Dayak Kenyah. Selama dua hari, tanpa listrik tanpa sinyal seluler, serta berada lebih dari 19 KM jauhnya dari pos kotis Ekspedisi Khatulistiwa, kami  merasa betul betul terasing, namun disitulah kami merasa ketenangan serta kehangatan dari keluarga yang sederhana.

Mamak Pandi sedang menjaring ikan di tengah Sungai Alan

Dengan baik hati Mamak Pandi mencarikan ikan untuk makan malam kami di Sungai Alan. Sementara bapak sibuk membersihkan gulma dari tanaman cokelat yang masih kecil. Sementara kami mengamati dan mencatat hal-hal yang mereka lakukan sambil menikmati segarnya ladang yang berada di tengah hutan. Kami diajak Dheon jalan-jalan mencari sesuatu yang bisa di makan.

Suasana memasak pada malam hari

Suasana memasak pada malam hari

Suasana makan malam sambil berkumpul di tengah keluarga baru

Akhirnya tibalah pada malam yang begitu indah. Bintang-bintang begitu semarak di atas langit. Tentu saja, di daerah sini hanya cahaya bintang atau bulan lah yang berkuasa tanpa diganggu oleh lampu-lampu buatan manusia. Suara binatang malam ikut meramaikan suasana ladang, sementara dengan penerangan seadanya kami memasak dan melakukan santapan malam sambil berkumpul bersama keluarga Pandi. Kami mulai mengobrol satu sama lain dan terkadang diselingi candaan hingga membuat gubug itu begitu damai.

Membantu mengupas cokelat

Membantu mengupas cokelat

Mereka adalah salah satu potret kehidupan masyarakat pedalaman yang minim akan fasilitas. Meski demikian mereka merasa apa yang dimilikinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ladang mereka memang cukup jauh dari rumah tempat mereka tinggal di Kampung Batu Majang. Ketika keadaan sedang sulit di kampung sana, maka ladang menjadi tumpuan hidup mereka, setidaknya ada sesuatu yang bisa dimakan sendiri. Tanpa direpotkan oleh fasilitas elektronik, mereka tetap bisa menikmati indahnya hidup.

Foto bersama sebelum pamit pulang

Kesederhanaanlah yang membuat manusia memiliki batasan akan hawa nafsunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s