Serunya Gowes Bareng Psikopit (Imogiri Session)

Selama itu ada di daratan, ku kayuh sepeda hingga kesana!

Segar itu adalah bersepeda menyusuri sawah di pagi hari🙂

Bersepeda pada hari Sabtu (29 September 2012) bersama Psikopit (Klub sepedanya Fakultas Psikologi UGM) sangatlah menyenangkan lalu menantang. Menyenangkan karena kegiatan gowes dilakukan di Sabtu pagi yang cerah dan ceria, sementara menantang, hmmmmm nanti ya di baris kesekian dijelasinnya😀.

Melewati perkampungan warga di daerah Pleret, Kabupaten Bantul

Kami yang terdiri dari dosen, karyawan Fakultas Psikologi UGM serta segelintir mahasiswa berkumpul di Markas Brimob yang berada di seberang terminal Giwangan. Perjalanan kali ini adalah menuju rumuh salah satu karyawan fakultas yang terletak di Jalan Imogiri. Awalnya,  tidak ada sesuatu yang spesial bersepeda menyusuri Jalan Imogiri. Namun , anggapan itu diubah ketika kita berbelok kiri menyusuri jalan kecil ke arah Pleret yang belum pernah aku lewati. Kami melewati perkampungan, sawah, dan kebun tebu yang sangat memanjakan mata. Belum lagi ketika kami bergabung dengan anak-anak kecil yang bersepeda menuju sekolah membuat acara gowes kali ini menyegarkan perasaan. Setelah itu kami tiba di sebuah jembatan gantung berwarna kuning yang terbentang di atas Kali Opak. Kita harus mengantri karena lebar jembatan ini sangat sempit dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua searah. Pembuatan jembatan gantung di Kali Opak sangatlah tepat karena sungai ini merupakan salah satu aliran lahar Gunung Merapi. Sehingga sangat berisiko jika membuat jembatan yang tiang penyangganya menancap di tengah sungai.

Prof. Dicky melewati jembatan gantung, meski sudah Profesor, tapi tetap fit lho kalau sepedaan😀

Setelah beberapa saat tibalah kami dengan rute yang sangat menantang dan tidak kami perkirakan sebelumnya. Di hadapan kami terlihat perbukitan yang ditumbuhi tanaman jati. Karena sedang musim kemarau, bukit itu tampak indah karena pohon jatinya sedang meranggas, pokoknya mirip dengan suasana musim gugur di luar negeri. Namun keindahan itu harus kami tahan sejenak karena bukit-bukit tersebut harus kami lewati. Jalanan yang berkelak-kelok dan menanjak membuat kami semua harus turun untuk menuntun sepeda. Kondisi jalanan mulus dan sepi karena lokasi kami berada cukup terpencil. Bahkan di GPS pun jalan yang kami lalui tersebut tidak tercatat.

Ketika sepeda dituntun di jalanan menanjak🙂

Di antara Jati yang meranggas😀

Ketika tiba di puncak kami beristirahat sejenak sambil menunggi rekan-rekan yang masih menuntun sepedanya di bawah sana. Setelah semua berkumpul di atas kami melanjutkan perjalanan. Kali ini rute yang dilalui cukup berbahaya, kondisi jalanan terdiri dari kerikil dan pasir serta banyak turunan maupun tanjakan yang curam. Jati-jati yang meranggas seolah memberikan kami penyemangat untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Hingga tibalah kami di penghujung bukit dimana kami melewati jalanan menurun yang lurus. Lalu kami bertemu dengan jalan raya dan terus menyusuri hingga sampai di tujuan.

Disambut ”sesajen’ oleh tuan rumah😀

Kami mendapatkan sambutan dari tuan rumah berupa hidangan ringan serta sarapan pagi dengan menu daging kambing. Rasa lelah terbayar sudah dengan pemandangan yang indah serta pengalaman yang tidak terlupakan bersepeda menyusuri kawasan selatan Jogja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s