Merapi Yang Menyatukan Kita

Erupsi Merapi dari Kampus UGM

Tepat dua tahun yang lalu, Merapi menjadi hal yang menakutkan bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya. Merapi yang sebelumnya selalu menebar pesonanya di kala cerah, tiba-tiba sakit. Meski sudah diduga sebelumnya, letusan Merapi tahun 2010 begitu aneh. Dalam berita yang aku dengar, Merapi kembung hingga mencapai 50 cm per hari, sebuah pembengkakan yang luar biasa untuk sebuah gunung berukuran cukup besar. Perkiraan letusan besar pun akhirnya terjadi beberapa hari kemudian, ya inilah letusan terbesar Merapi dalam seabad terakhir.

Dampak Erupsi Merapi di kawasan Kali Code Gondolayu

Malioboro bertabur abu Merapi

Aku merasakannya, ya aku merasakannya dan aku berada di sana. Keadaan saat itu begitu kacaunya ketika aku menghirup hujan abu untuk pertama kalinya. Ini bukan lagi abu, tapi pasir, pasir berbau belerang yang menyesakan dada. Untungnya hujan abu terjadi pada dini hari, entah bagaimana paniknya jika terjadi pada siang hari. Dengan sepeda aku berusaha melihat keadaan sekitar Kampus UGM yang sudah tertutup abu sekitar setengah centimeter. Ketika matahari terbit (meski tak nampak karena abu) disitulah aku menyaksikan tanah Yogyakarta menjadi hamparan abu Merapi, perkampungan Kali Code Gondolayu, Malioboro, Gedung Agung, hingga Keraton semua terbalut oleh abu Merapi yang menyesakkan. Bagiku ini pertama kali aku menyaksikan bencana alam yang cukup dahsyat, seolah sebuah realisasi akan cerita ibu bapak mengenai letusan Gunung Galanggung pada tahun 80-an.

Dampak erupsi Merapi di Gedung Agung

Keraton Yogyakarta yang tidak luput dari abu Merapi

Beberapa hari kemudian tepatnya 5 November 2010, letusan yang sangat dahsyat terjadi di malam hari. Getaran itu terasa hingga kostku, gelombang pengungsian mulai terjadi. Jalan Kaliurang, Jalan Palagan penuh dengan kendaraan yang berduyun-duyun mengarah ke selatan. Dari informasi di media, terdapat korban dalam jumlah besar di utara sana. Dan secara berurutan dari kilometer paling jauh hingga mendekati pusat kota, seluruh warga mulai menginformasikan terjadi hujan kerikil. Kami yang berada di bawah hanya tinggal menunggu kapan hujan kerikil itu terjadi. Ketika pasir berukuran lebih besar dari hujan abu yang pertama mulai kami rasakan, saat itulah Kampus UGM tepatnya Gelanggang Mahasiswa menjadi tempat pengungsian warga. Mayoritas berasal dari Turi, daerah penghasil Salak Pondoh yang sangat terkenal.

Kepiluan yang luar biasa terjadi di Stadion Maguwoharjo. Stadion terbesar di Yogyakarta ini menjadi pusat pengungsian korban Merapi. Kondisinya sangat mengenaskan, puluhan ribu berdesak-desakan di ruangan bawah stadion. Akses menuju stadion sangat macet. Yang membuat ku terharu adalah ribuan nasi bungkus yang berasal dari kebaikan hati masyarakt Yogyakarta terhadap saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Dengan sukarela mereka berkontribusi dengan membuatkan nasi bungkus yang diserahkan ke titik-titik pengungsian. Betul-betul kebersamaan yang luar biasa.

Tidak selamanya bencana selalu mengakibatkan hal-hal buruk. Bencana dapat menjadi momen untuk memupuk kebersamaan kita sebagai umat manusia. Segala macam bantuan baik harta, tenaga maupun doa merupakan wujud kepedulian bagi mereka yang sedang diurung duka. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa ketika dalam kondisi sulit, manusia akan saling membutuhkan. Itulah mengapa manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan sesama.

2 thoughts on “Merapi Yang Menyatukan Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s