Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Mengenal Suku Dayak Punan Kampung Long Merah

Belian atau ritual pengobatan Dayak Punan di Long Merah

Tim peneliti sosial budaya merupakan salah satu dari tiga tim yang berada dalam struktur organisasi Ekspedisi Khatulistiwa. Tim sosial budaya Ekspedisi Khatulistiwa Subkorwil Kutai Barat memiliki tugas untuk mendata segala macam kekayaan kebudayaan serta cara hidup masyarakat yang menarik. Hal ini mengingat lokasi ekspedisi yang berada di wilayah cukup terpencil di hulu Sungai Mahakam sehingga diduga banyak potensi-potensi kekayaan budaya yang masih belum terungkap dan tidak diketahui oleh masyarakat luas. Selama Ekspedisi Khatulistiwa berlangsung, tim peneliti telah berhasil mengumpulkan data-data kehidupan sosial serta kebudayaan masyarakat seperti ritual adat, pernikahan adat, potensi pariwisata, mata pencaharian masyarakat serta aspek-aspek lain seperti pendidikan, kesehatan. Sasaran utama tim peneliti sosial budaya adalah kehidupan suku Dayak yang merupakan penghuni asli pedalaman Kalimantan. Di seluruh wilayah Kalimantan terdapat lebih dari 400 sub suku. Sementara di kecamatan Long Bagun yang merupakan lokasi penelitian tim sosial budaya ini, kami berhasil mengumpulkan data mengenai kehidupan beberapa Suku Dayak antara lain Dayak Bahau, Dayak Kenyah, dan Dayak Penihing. Hasil sementara yang kami dapatkan adalah proses akulturasi masyarakat Dayak di kecamatan Long Bagun sudah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu terlebih dengan munculnya perusahaan kayu. Modernisasi sudah terjadi pada hampir seluruh sendi-sendi kehidupan Suku Dayak, dimana adat istiadat setempat sudah mulai terkikis apalagi pada generasi mudanya. Kami beruntung tiba pasca panen raya atau tradisi Tebukoq. Biasanya setelah panen, masyarakat Dayak sering mengadakan acara-acara adat seperti pernikahan.

Setelah lebih dari setengah perjalanan Ekspedisi Khatulistiwa di kabupaten Kutai Barat, akhirnya tim peneliti sosial budaya berhasil menjumpai Suku Dayak Punan di Kampung Long Merah, Kecamatan Long Bagun. Bagi tim peneliti, Suku Dayak Punan memiliki keunikan tersendiri karena suku Punan dikenal masyarakat sebagai suku Dayak yang paling primitif. Sumber-sumber di media massa menyebutkan bahwa kehidupan Suku Dayak Punan masih menyatu dengan alam. Segala macam kebutuhan hidup seperti sandang, pangan dan papan masih bergantung pada tangkapan di alam. Suku Dayak Punan juga masih hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Pada tanggal 9 Juni 2012, tim peneliti sosial budaya mengunjungi kediaman Bapak Gani, seorang suku Dayak Punan yang menjabat sebagai petinggi kampung atau setingkat kepala desa Long Merah. Kediaman Bapak Gani persis berada di tepian Sungai Mahakam sehingga kita dapat melihat keindahan kerangan atau pulau di tengah sungai. Kampung Long Merah dihuni oleh Suku Dayak Punan dan Suku Dayak Kenyah. Sementara Kampung Rukun Damai yang terletak di sebelah timur Kampung Long Merah didominasi oleh Suku Dayak Kenyah. Kampung Long Merah dengan Rukun Damai dipisahkan oleh Sungai Bayak yang bermuara di Sungai Mahakam. Jalan darat menuju Long Merah belum dapat diakses dari ibukota Kabupaten Kutai Barat di Sendawar Kampung ini berada di jalur lalu lintas Sungai Mahakam yang menghubungkan Samarinda hingga Long Apari.

Di kediaman Bapak Gani, Tim Ekspedisi Khatulistiwa menyampaikan maksud dan tujuan tim di kampung Long Merah. Bapak Gani yang saat itu sedang meriang cukup antusias menjelaskan kepada kami mengenai asal usul Suku Punan yang berada di Kampung Long Merah melalui dokumen yang dibuat oleh leluhur Bapak Gani. Selain itu Bapak Gani juga menghadirkan dua tokoh adat Punan yang akan menceritakan asal muasal suku Dayak Punan kampung Long Merah.

Suku Dayak Punan selainberasal dari perbatasan Apo Kayan juga dari Kalimantan Barat juga. Sementara Suku Dayak Punan yang ada di Muararatah, Kutai Barat, berasal dari Kalimantan Tengah. Suku Dayak Punan pindah ke Long Merah sejak 1965, namunsebelumnya sudah pernah pada tahun 1838 dari Kalbar. Mereka berpindah pindah dari muara ke hulu Sungai Merah. Selama tahun 1921 Suku Punan selalu berpindah pindah hulu ke muara Sungai Merah. Pada tahun 1965 baru balik lagi ke Muara. Hal ini dikarenakan sumber makanan seperti sagu dan binatang buruan lebih mudah didapatkan di daerah hulu. Selain itu Suku Punan juga banyak mengalami penyerangan oleh suku suku Dayak lain yang berada di daerah aliran Sungai Mahakam. Suku Punan menempati Kampung Long Merah melalui perebutan wilayah dengan suku lain.

Suku Punan yang berjumlah sekitar 78 sub suku dapat dijumpai di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Setiap sub suku dipimpin oleh seorang raja. Uniknya seorang raja suku Dayak Punan bisa berasal dari laki-laki suku lain yang berbeda yang menikahi wanita Dayak Punan. Suku Punan yang berada di Kampung Long merah berasal dari sub suku Punan Kuhi dan Punan Ga’ai. Mereka berasal dari Sungai Seratah yang berada di kawasan hulu Sungai Mahakam. Mereka berjalan hingga sampai di Gunung Hudoq yang berada di anak sungai Merah. Kemudian datang lagi Uma Asa dan Uma Uwa yang merupakan Suku Bahau ke kawasn Sungai Merah. Kedua sub suku Bahau ini mengetahui bahwa Suku Punan telah mendiami kawasan Sungai Merah. Agar mereka bisa menempati Sungai Merah maka Uma Uwa mengikuti Punan Kuhi, sementara Uma Asa mengikuti suku Punan Ga’ai. Suku Punan Ga’ai dan Kuhi saling bertarung untuk menguasai Sungai Merah. Mereka melakukan tradisi ngayau atau memenggal kepala musuh. Pertarungan ini menyebabkan perkampungan Punan Ga’ai habis dan hanya menyisakan dua orang saja yang masing-masing terdiri dari seorang pria yang bernama Berawing dan seorang wanita yang bernama Bina. Melihat kondisi kampungnya yang telah luluh lantak, mereka membuat perkara. Wina mengenakan pakaian menyerupai kucing sementara Berawing menggunakan pakaian yang meyerupai anjing. Tidak lama kemudian langit sangat gelap. Punan Kuhi yang mengetahui kondisi alam tersebut langsung melarikan diri. Hujan batu turun di perkampungan Punan Ga’ai yang telah hancur. Sisanya masih dapat kita jumpai pada situs Batu Aruq yang terletak di Sungai Merah. Kemenangan bersama antara Suku Punan Kuhi dan Suku Bahau Uma Uwa berlanjut pada pembagian wilayah. Sukku Bahau Uma Uwa mendapatkan wilayah dari Sungai Tajau hingga Mahakam. Sementara Punan Kuhi mendapatkan wilayah di Hulu Sungai Tajau.

Berbeda dengan Dayak Bahau yang memiliki banyak benda koleksi seperti mandau dan tombak, Dayak Punan jarang memiliki senjata-senjata pusaka tersebut karena barang-barang yang dimiliki akan diikut sertakan dalam penguburan ketika pemiliknya meninggal dunia. Alasannya adalah agar anak cucu orang yang meninggal tersebut tidak menyimpan dendam ketika mewarisi senjata-senjata yang digunakan untuk berperang. Suku Dayak Punan juga tidak mengenal rumah lamin yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Hal ini terjadi karena Suku Dayak Punan memilih tinggal berpindah-pindah atau hidup di goa-goa.

Kini seiring dengan perkembangan zaman, Suku Dayak Punan yang berada di kampung Long Merah juga mengikuti proses modernisassi. Kehidupan mereka hampir sama dengan masyarakat tepian Mahakam lainnya. Masuknya ajaran agama kristen serta pendidikan telah merubah tatanan kehidupan Suku Dayak Punan yang primitif menjadi lebih terbuka dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Kebijakan pemerintah terhadap masyarakat suku terasing termasuk Suku Dayak Punan telah dilaksanakan selama berpuluh-puluh tahun yang lalu melalui program reseattlement atau memusatkan penduduk Kalimantan Timur yang tersebar agar lebih memudahkan penerapan program pemerintah. Menurut keterangan beberapa tokoh masyarakat disana, tidak adanya asesmen yang mendalam mengenai kebutuhan masyarakat telah menyebabkan program pemerintah tidak berjalan maksimal. Suku Dayak Punan di kampung Long Merah sendiri suatu kali pernah diberi bantuan rumah oleh pemerintah agar tidak kembali lagi ke hulu. Namun setelah beberapa waktu berjalan, warga Punan mengambil bagian-bagian rumah seperti seng dan triplek kemudian dibawa ke hulu Sungai Merah. Sebagian besar masyarakat Dayak Punan di Long Merah berprofesi sebagai pengolah ladang. Minimnya kualitas sumber daya manusia menyebabkan hampir tidak ada warga Dayak Punan di Long Merah yang menjadi pegawai negeri.

Sebetulnya permasalahan warga Dayak Punan yang berada di Long Merah juga dialami oleh sebagian besar masyarakat yang berada di hulu Sungai Mahakam. Infrstruktur seperti jalan dan layanan telekomunikasi yang minim menyebabkan masyarakat sulit memenuhi kebutuhan hidup baik sandang, pangan, papan, pendidikan serta layanan kesehatan. Fasilitas listrik masih mengandalkan genset, padahal seperti yang kita ketahui, Kalimantan Timur merupakan salah satu wilayah penghasil sumber energi (minyak bumi, gas alam dan batu bara) terbesar di Indonesia. Terlebih setelah otonomi daerah, pemerintah setempat seharusnya mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan hidup warganya. Warga hulu Mahakam termasuk Suku Dayak Punan itu sendiri pun akhirnya hanya bisa hidup dengan segala macam keterbatasan yang ada.

2 thoughts on “Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Mengenal Suku Dayak Punan Kampung Long Merah

  1. selamat ya pak..jangan lupa menjalankan pemerintahan yg anti korupsi, jangan asal mendukung dan sangat menganjurkan permintaan sumbangan pada pemerintahan dan perusahaan nanti bisa kena jerat hukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s