Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Mencontoh Kerukunan di Long Apari

“Kita Ini Satu, Kita Ini Orang Indonesia”

Suasana pengajian anak-anak di Long Apari. Dayak, Jawa, Banjar, Bugis hidup rukun disini

Coba deskripsikan pendapatmu mengenai kehidupan masyarakat di wilayah pedalaman Kalimantan? Mungkin sebagian di antara kita akan berpikir tentang orang Dayak yang masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan pakaian seadanya lalu mereka berburu dengan menggunakan sumpit serta mengenakan atribut khas mereka yang penuh dengan bulu Burung Enggang. Jika itu yang kamu rasakan, tampaknya pandangan seperti itu harus diubah. Setidaknya itulah hasil dari pengamatan saya di Tiong Ohang, kecamatan Long Apari yang berada di tengah-tengah Pulau Kalimantan atau istilah kerennya Heart of Borneo (Jantung Kalimantan)

Masyarakat Suku Dayak memang terkenal akan ciri khasnya yaitu berkulit putih serta memiliki wajah yang mirip dengan ras mongoloid. Hal tersebut terjadi karena Suku Dayak sendiri memang berasal dari daratan China ribuan tahun yang lalu. Meski sudah cukup lama berada di Kalimantan, penampilan fisik Suku Dayak masih menunjukan kemiripan dengan orang-orang Tiong Hoa, oleh karena itu jangan heran ketika datang ke pedalaman Kalimantan, kita serasa berada di Vietnam. Wanita Suku Dayak terkenal dengan kecantikannya, berkulit putih, dan cenderung pemalu.

Long Apari merupakan kecamatan paling ujung di Kabupaten Kutai Barat. Di wilayah inilah sumber mata air Sungai Mahakam berada. Kecamatan Long Apari hanya dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat perintis dan kapal motor. Jika ingin merasakan sensasi riam Sungai Mahakam, saya sangat merekomendasikan menggunakan kapal motor. Pemandangan menuju kecamatan Long Apari luar biasa indah. Masih banyak hutan alami yang akan kita jumpai serta keindahan tebing-tebing yang dihiasi air terjun yang dibelah oleh Sungai Mahakam. Di Long Apari tidak ada sinyal seluler. Jika kita ingin berkomunikasi jarak jauh, kita dapat menggunakan warung telepon (Wartel) yang banyak tersedia. Meski demikian, banyak warga yang sudah memiliki handphone. Namun mereka menggunakan handphone sebagai sarana untuk sekedar mendengarkan musik maupun mengambil gambar dengan kamera.

Meski berada di pedalaman Pulau Kalimantan, penduduk Long Apari tidak hanya di huni oleh Suku Dayak saja. Saya sendiri cukup heran dengan kondisi ibukota kecamatan Long Apari di Tiong Ohang yang sudah sangat multikultural. Di sepanjang jalan kampung dapat kita jumpai pertokoan yang sebagian besar dimiliki oleh orang Bugis dan Jawa. Kita juga akan mudah menjumpai wanita berjilbab, padahal mayoritas Suku Dayak adalah beragama nasrani. Mereka saling berbaur dan bersama-sama melakukan aktivitas sehari-hari tanpa terkurung dalam perbedaan-perbedaan yang kasat mata.
Meski demikian bukan berarti wilayah ini tidak pernah mengalami konflik etnis. Menurut beberapa keterangan penduduk, kecamatan Long Apari pernah dilanda kerusuhan berbasis SARA sekitar tahun 90-an. Konflik ini sebetulnya terjadi karena perebutan sarang walet yang berujung pada konflik pendatang dengan warga lokal. Namun berdasarkan keterangan dari aparat desa, kondisi Long Apari kembali kondusif. Bahkan sama sekali tidak ada jejak-jejak konflik pada masa lalu. Semuanya begitu membaur. Toleransi beragama di sini patut diacungi jempol. Misalnya saja pada saat pembangunan Masjid, umat nasrani dengan ikhlas menyumbangkan kayu-kayu untuk dijadikan pondasi masjid. Sementara ketika ada umat nasrani yang meninggal dunia, umat islam dengan inisiatif memberikan uang takziah kepada keluarga yang ditinggalkan. Warga di kecamatan Long Apari sangat ramah. Ketika disapa mereka akan membalas dengan senyuman.

Permasalahan yang ada di Long Apari saat ini adalah minimnya akses jalan serta adanya rencana pembukaan lahan sawit. Secara umum, warga kecamatan Long Apari menolak keberadaan perkebunan sawit. Hal ini tampak di dermaga-dermaga di tepian Sungai Mahakam yang bertuliskan sikap penolakan warga terhadap perkebunan sawit. Warga menolak sawit karena khawatir dengan dampak buruk yang akan dirasakan karena areal sawit berada di tepian Sungai Mahakam. Namun warga merasakan dilema ketika pihak perkebunan sawit berencana ikut membantu dalam membuat akses jalan menuju kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini. Akses jalan darat bagi warga Long Apari ibarat angan-angan yang belum terlaksana. Akses jalan adalah salah satu solusi untuk melepaskan Long Apari dari keterpencilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s