Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Riam-Riam Mahakam Yang Legendaris

“Ke Long Apari tanpa naik perahu itu bagai sayur tanpa sayur”

Tebing indah di Riam Haloq

 Istilah itu cukup tepat untuk menggambarkan perjalanan kami yang mengesankan menyusuri Sungai Mahakam menuju ke Long Apari. Selama dua hari, saya beserta dua orang prajurit TNI yang tergabung dalam tim Ekspedisi Khatulistiwa berada di Long Apari untuk membantu Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kutai Barat menyampaikan penyuluhan kamtibnmas kepada masyarakat di sana. Tim Ekspedisi Khatulistiwa rencananya akan menyampaikan materi wawasan kebangsaan kepada warga Long Apari mengingat kecamatan ini merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Air terjun sebelum memasuki Riam Panjang

Kami berangkat dari Long Bagun pada pukul 08:30 WITA dengan menggunakan speed boat satu mesin motor. Beberapa orang dalam rombongan sempat mengkhawatirkan kondisi tersebut mengingat perjalanan ke Long Apari akan melewati beberapa riam atau jeram yang cukup ganas. Riam adalah aliran sungai yang mengalir sangat deras karena perbedaan ketinggian. Riam juga dapat dikatakan sebagai jeram besar. Riam-riam di Sungai Mahakam umumnya berada di bagian hulu dan disertai batu-batu yang besar. Oleh sebab itu perahu yang akan menuju Long Apari biasanya menggunakan mesin motor lebih dari satu untuk mengantisipasi mesin mati pada saat melewati riam. Menurut keterangan penduduk sekitar sudah banyak korban berjatuhan akibat kecelakaan perahu di riam-riam Mahakam. Riam yang sangat terkenal di Sungai Mahakam ada tiga, yaitu Riam Udang, Riam Panjang dan Riam Enam Sebelas.Riam Udang dan Riam Panjang berada di antara kecamatan Long Bagun dengan Long Pahangai. Sementara Riam Enam Sebelas berada setelah ibukota kecamatan Long Apari di Tiong Ohang. Oleh karena itu kami tidak melewati Riam Enam Sebelas. Penamaan Riam Enam Sebelas memiliki sejarah tersendiri yaitu pada saat personil Satgas Perbatasan yang gugur pada saat melalui riam. Personil tersebut berasal dari Batalyon Infantri 611 Kodam Mulawarman. Oleh karena itu riam tersebut dinamakan Riam Enam Sebelas.

Riam Udang

Kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa pada saat mulai meninggalkan Long Bagun. Sungai Mahakam diapit oleh tebing batu yang terkadang dihiasi oleh air terjun. Riam pertama yang kami lewati adalah Riam Udang. Bagi sebagian penduduk, Riam Udang adalah riam yang paling berbahaya karena perbedaan ketinggian air yang dapat mencapai lima meter pada saat debit Sungai Mahakam tinggi. Beberapa ratus meter dari Riam Udang terdapat warung terapung yang menjual bahan bakar minyak dan minuman keras. Hal yang menarik adalah kru perahu mengkonsumsi minuman keras terlebih dahulu sebelum melewati riam. Mereka beralasan mengkonsumsi minuman keras dapat membuat tubuh lebih rileks dan tidak tegang ketika menghadapi riam yang ganas. Di Riam Udang terdapat jalur untuk berjalan kaki bagi penumpang yang tidak mau menghadapi risiko. Dari sekitar 20 penumpang, hanya empat orang termasuk saya yag tetap berada di perahu, sementara yang lain lebih memilih berjalan kaki. Setelah bersandar sebentar untuk menurunkan penumpang yang berjalan kaki, perahu berbalik arah untuk mengambil ancang-ancang bersiap menghadapi riam sama seperti pesawat yang akan tinggal landas. Setelah jarak yang dirasa cukup, perahu langsung melesat dengan kecepatan tinggi melewati Riam Udang yang pada saat itu kondisinya cukup jinak. Kondisi perahu pada saat itu sangat menegangkan. Guncangan yang keras siap melemparkan siapapun yang tidak berpegangan erat pada badan perahu. Nahkoda perahu, juru batu dan motoris selalu siaga mengawasi batu yang bersembunyi di balik derasnya Riam Udang. Perahu akhirnya bersandar kembali untuk menunggu penumpang yang masih berjalan kaki.

Sebuah Long Boat menerjang ganasnya Riam Panjang Sungai Mahakam

Perjalanan berikutnya kami berhenti di sebuah warung terapung untuk makan siang. Ternyata di seberang warung tersebut adalah lokasi dari Gunung Ular yang akan menjadi daerah penelitian Tim Flora Fauna. Masyarakat menamakan Gunung Ular konon karena banyak anjing yang dibawa oleh pemburu hilang di gunung tersebut. Masyarakat menduga bahwa pemangsa anjing itu adalah ular besar yang menghuni Gunung Ular. Di kaki Gunung Ular terdapat PT. KBT yang merupakan perusahaan kayu.

Riam berikutnya yang kami lewati adalah Riam Panjang. Sesuai namanya, riam ini sangat panjang mencapai kurang lebih 3,5 KM. Berbeda dengan Riam Udang, Riam Panjang justru akan menjadi ganas ketika debit Sungai Mahakam kecil. Hal tersebut terjadi karena batu-batu yang ada di riam akan terlihat sehingga perahu yang lewat mengalami kesulitan mengarungi sungai. Suasana menjadi tegang ketika satu-satunya mesin motor yang ada di perahu mati tiba-tiba menjelang Riam Panjang. Perahu sempat terbawa arus namun keadaan berhasil dikuasai oleh nahkoda. Hampir seluruh penumpang terdiam melihat ke arah belakang tempat motor perahu berada. Kami sangat bersyukur karena mesin mati tidak terjadi saat ada di tengah riam. Jika hal tersebut terjadi, mungkin perahu akan terbawa arus lalu menghantam bebatuan yang ada di tengah sungai. Motoris segera memperbaiki mesin kemudian melanjutkan perjalanan melalui Riam Panjang. Suasana di Riam Panjang lebih menegangkan. Perahu menghantam riak-riak air yang besar dan meliuk-liuk menghindari bebatuan besar di tengah sungai. Sekitar 15 menit kami meluncur di Riam Panjang dengan jantung berdetak kencang. Akhirnya kami berhasil melalui riam terakhir dengan keadaan selamat. Sampai di Long Apari sudah tidak ada riam lagi.

Riam bagi sebagian warga hulu Mahakam adalah momok yang menakutkan. Riam menjadi hambatan tersendiri bagi dua kecamatan terakhir di Sungai Mahakam bagian hulu yakni Long Apari dan Long Pahangai. Kedua kecamatan itu terutama Long Apari hanya bisa di akses melalui Sungai Mahakam dan jalur udara melalui penerbangan perintis. Beberapa kali warga di Long Apari meminta pemerintah untuk membuat akses jalan darat. Namun karena jalan tersebut bberada dalam lingkup satu kabupaten, maka anggaran yang digunakan adalah APBD kabupaten . Melihat kondisi alam Long Apari yang berbukit-bukit terjal serta di aliri banyak anak sungai Mahakam, tentu saja biaya yang dikeluarkan sangatlah besar. Sempat ada usulan menghancurkan bebatuan yang ada di kedua riam dengan bom agar perahu bisa melaju dengan aman. Namun hal tersebut bisa berdampak negatif karena aliran sungai Mahakam menjadi semakin deras dan berisiko mengerosi wilayah sekitarnya.

Riam-Riam Sungai Mahakam

11 thoughts on “Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Riam-Riam Mahakam Yang Legendaris

  1. anwar says:

    Keren banget riamnya. Coba foto nya di perbanyak kan bisa jadi promosi ke KUBAR, sayangnya untuk menuju ke Hulu Mahakam di perlukan Tenaga dan BIaya yang Cukup Mahal. Dengan Adanya Blog’s, bisa membantu aku yang kini hanya bisa bermimpi tuk ke pedalaman Kalimantan.

    • Terima kasih, memang betul karena infrastruktur yang sangat terbatas, butuh perjuangan yang berat untuk menuju kawasan hulu Sungai Mahakam. Semoga pembangunan yang akan segera dilaksanakan kedepannya tidak berdampak buruk pada ekosistem lingkungan di sana!

  2. Kak kami dari Barong Tongkok berencana ke Ulu cm serem jg liat foto riamnya.. Kalo kesana kapalnya kecil ya? Lebih enak naik perahu dari Ulu ke Ilir apa Ilir ke Ulu? mana yang lebih serem kak? Soale kt cewek2 jd ya gak seberani itu hahaha..

    • Halo,,, Kapalnya kecil, karena kalau kapal besar tidak kuan menerjang arus. Kalau Riam Udang sepertinya lebih parah yang dari ilir ke ulu. Kalau riam panjang sama aja.

  3. alpian says:

    ingin rasanya membuat film buat tugas akhir kuliah tentang kalimantan dan terutama lebih menarik lagi tentang sungai mahakam yang menajubkan.. tetapi saya kurang mempunyai dana untuk itu menjadi terlaksana😦

      • alpian says:

        kira kira kemana ya saya bisa mengajukan proposal yang bisa recomended? permasalahannya saya juga kurang begitu memahami kalimantan, cuman sekedar cerita dari teman-teman saya yang berasal dari sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s