Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Uwa-Uwa Itu Masih Menyapa Long Bagun

Pagi itu aku, Fifah (mahasiswa UI) dan Mas John seorang pencari gaharu sepakat menuju hutan yang terletak di atas bukit Batu Majang, Kecamatan Long Bagun Kutai Barat. Masih terselip rasa penasaran kami terhada isi hutan yang selalu berkabut pada pagi hari itu. Mas John adalah orang yang kami temui pada saat kami mandi di Jantur Cinta beberapa hari yang lalu. Di balik wajahnya yang keras dan garang, ia adalah orang yang sangat ramah. Bahkan, Mas John sering kami jumpai bermain bersama anak-anak Long Bagun. Kami bersyukur bisa berkenalan dengannya sehingga mendapatkan pengalaman yang mengesankan menjelajahi hutan perbukitan Batu Majang.
Mengantisipasi kemungkinan yang terjadi, aku membawa handphone yang di dalamnya ku pasang GPS, peta, bekal beruupa mie dan kopi (yang terakhir ini sungguh tidak logis). Kami berangkat sekitar pukul 09:00 WITA menyusuri jalan yang becek karena hujan semalam. Selama perjalanan kami menyaksikan segerombolan kupu-kupu kuning dalam jumlah yang sangat besar. Kami bermain-main dahulu dengan mengacak-acak kumpulan serangga yang indah itu. Baru kali ini aku melihat kupu-kupu dalam jumlah besar dan berterbangan di mana-mana.
Setelah tiba di ujung jalan yang terpotong oleh Sungai Alan, kami mendaki bukit di arah utara. Kaki bukit di dominasi oleh ladang warga. Perbukitan yang kami tuju adalah hutan yang dilindungi oleh adat sehingga tidak boleh menebang kayu sembarangan. Selain itu, hutan tersebut juga menyimpan cadangan air bersih bagi warga kampung Batu Majang maupun Kampung Long Bagun Ulu seberang termasuk Posko Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat yang kami tempati.Perjalanan cukup melelahkan karena cuaca pada saat itu sangat terik. Namun karena semangat yang membara, kami menolak untuk istirahat. Kami tidak sabar berada di dalam hutan adat tersebut untuk menemukan hal-hal baru yang ada di atas sana.
Sekitar 20 menit perjalanan kami mulai memasuki hutan yang berisi pohon-pohon tinggi. Sinar matahari hampir tidak menyentuh tanah. Sepanjang jalan setapak yang kami lalui terdapat jebakan-jebakan yang terbuat dari tali. Mas john mengatakan jebakan tersebut biasanya digunakan untuk menjerat binatang kecil, seperti musang atau burung yang dianggap hama oleh warga setempat.
Perjalanan semakin masuk jauh ke dalam hutan. Jalan setapak sudah tidak dapat dibedakan dengan sekumpulan humus di atas tanah. Mas John sendiri mengaku baru dua kali mengunjungi tempat ini. Namun kami meyakini, sebagai pencari gaharu yang berbulan bulan di hutan, Mas John memiliki naluri yang kuat untuk menghadapi berbagai macam persoalan buruk yang mungkin akan menimpa kami. Kami mulai memasuki medan yang cukup sulit, baik turunan maupu tanjakan terjal kami lalui dengan peralatan yang seadanya.
Setelah berjalan dengan medan sulit yang cukup lama, akhirnya kami mendengar suara aliran air. Semakin mendekat kami mulai mendengar gemuruh seperti air terjun yang berada di atas. Namun karena keterbatasan waktu, kami memutuskan menyusuri sungai untuk kembali ke Kampung Batu Majang tanpa mampir ke air terjun. Sungai ini memiliki air yang sangat jernih. Beberapa kali kami meminum air sungai tersebut. Rasanya tentu saja sangat segar, karena langsung dari mata air. Medan di sungai tersebut penuh dengan batu-batu licin sehingga kami harus berhati-hati. Sering kami menjumpai jejak babi hutan yang berada di tepian sungai. Keindahan lainnya adalah banyak batang pohon yang tumbang melintang di atas sungai sehingga membentuk jembatan. Kayu-kayu tersebut sering kali ditumbuhi jamur dengan warna warni yang menawan.

Aku sempat menjumpai seekor kadal yang berada di atas batang pohon. Namun saat mengambil perekam video untuk di dokumentasikan, kadal tersebut langsung melarikan diri. Kekecewaanku akhirnya terobati saat melihat seekor kera besar bergelantungan di sebuah pohon yang sangat tinggi. Kera tersebut memiliki tangan dan kaki yang panjang. Kera tersebut tidak memiliki ekor, dan kami meyakini itu adalah Uwa-Uwa. Masyarakat meyebutnya Uwa Uwa karena primata tersebut setiap pagi selalu berteriak “UWA UWA”. Menurut warga sekitar, teriakan Uwa-Uwa mulai jarang terdengar akibat jumlahnya yang terus berkurang. Hutan-hutan di Long Bagun semakin berkurang akibat maraknya bisnis kayu baik legal maupun ilegal. Suara raungan mesin gergaji, telah menyebabkan satwa-satwa yang kini langka seperti macan dahan, burung enggang, beruang, kijang dan Uwa-Uwa itu sendiri menyingkir dari keramaian manusia. Belum lagi pohon-pohon yang merupakan rumah bagi sebagian besar satwa yang lenyap sehingga mereka terancam punah.

Keberadaan Uwa-Uwa yang kami temui hari itu menandakan bahwa hutan adat di atas perbukitan Kampung Batu Majang masih terjaga kelestariannya. Indikator lainnya adalah air sungai yang sangat jernih serta vegetasi yang lebat. Masyarakat Long Bagun Ulu dahulu sangat familiar dengan suara Uwa-Uwa di pagi hari. Olehkarena itu mari kita menjaga alam dan hutan kita. Agar Uwa-Uwa maupun binatang lainnya yang kini jarang ditemui, dapat bernyanyi untuk alam ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s