Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Pernikahan Adat Dayak Kenyah Kampung Batu Majang; Sarat Petuah

Pasangan Asung

Kami menghadiri pernikahan cucu perempuan dari kepala adat yaitu Asung. Sementara pria yang akan menikahi Asung adalah Ajang, yang berasal dari wilayah Mahak. Acara pernikahan dilangsungan melalui prosesi di gereja dan adat Dayak Kenyah. Acara pernikahan kali ini melibatkan dua pasang pengantin, yaitu pasangan Asung dan Ajang serta Hendri dan Ipih. Bagi warga Dayak Kenyah, pernikahan yang melibatkan dua pasangan ini dilaksanakan untuk menghemat beban biaya pernikahan. Pernikahan adat dilangsungkan pada pukul 15:26 WITA. Pasangan Asung dan Ajang diarak menuju rumah pasangan Hendri dan Ipih untuk di jemput dengan diiringi oleh musik gong bersama dengan keluarga dan tetangga.Selanjutnya kedua pasangan tersebut melangsungkan resepsi pernikahan di Rumah Lamin Kampung Batu Majang.

Rangkaian acara pernikahan antara lain sebagai berikut:

1. Pembacaan doa pembuka.
2. Kata sambutan dari orang tua pihak pengantin.
3. Menyanyikan Aloq, yaitu nyanyian khas Dayak Kenyah agar hadirin yang hadir menjadi semangat.
4. Kemudian penandatanganan berita acara pernikahan oleh saksi nikah.
5. Sambutan dari tetua adat Dayak Kenyah
6. Hiburan berupa tarian tunggal yang dilakukan oleh para pengantin.

Di hadapan pelaminan pengantin terdapat tajau atau semacam guci yang dihiasi oleh manik-manik, patung burung Enggang yang terbuat dari kayu, bulu ekor burung Enggang serta Mandau. Tajau merupakan perlambang dari rumah yang kokoh. Burung Enggang merupakan lambang persatuan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Sementara bulu burung Enggang melambangkan atap yang melindungi keluarga yang ada di dalam rumah. Manik-manik melambangkan mata yang senantiasa memandang satu sama lain. Tajau tersebut dialasi dengan tikar yang melambangkan bahwa setiap ada permasalahan harus diselesaikan secara musyawarah dengan mengundang para tetua. Di sebelah tajau terdapat rantai yang melambangkan ikatan janji yang sulit terlepas. Sementara Parang memiliki dua fungsi antara lain yang pertama sebagai jembatan penghubung yang tidak akan pernah busuk dengan masyarakat luas. Fungsi kedua adalah parang sebagai alat untuk mencari nafkah. Gong berfungsi sebagai penanda istri yang rindu akan suami. Maksudnya ketika sang suami pergi mengembara mencari nafkah dalam waktu yang lama, sang istri akanmeluapkan perasaan rindunya dengan memukul gong. Diharapkan sang suami akan merasakan suara gong yang berarti istrinya sedang merindukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s