Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Mengenal Upacara Perbaikan Adat Mongosang

Mongosang merupakan suatu ritual yang dilakukan untuk memperbaiki adat istiadat yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Mongosang dilakukan selama seminggu di rumah Lamin yang ada di desa Long Bagun Ulu, selama itu para pria di karantina. Selama Mongosang para wanita tidak diperkenankan berada di dalam rumah lamin, kecuali pada saat penutupan upacara. Terakhir Mongosang dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2011.

Upacara Mongosang menggunakan beberapa benda yang memiliki simbol-simbol tertentu. Batang pisang yang terasa segar dan dingin melambangkan kesuburan dan ketentraman pada masyarakat. Batang pisang juga digunakan sebagai bahan dasar membuat patung atau dalam bahasa setempat disebut tepatung putik yang berfungsi sebagai pemisah antara roh dengan manusia masih hidup. Tepatung ini nantinya akan dibawa keliling delapan kali oleh penari.
Selama Mongosang roh penjaga kampung berada di sebuah tugu kayu ulin yang letaknya berada di halaman rumah Lamin. Tugu ulin yang ada di rumah Lamin Long Bagun dibangun oleh kakek dari Mamak Hulo. Namun tugu ulin yang pertama kali dibangun telah diganti seperti kondisinya saat ini. Di sebelah tugu ulin diletakan bambu-bambu berisi nasi yang akan dibagikan kepada masyarakat. Bambu-bambu tersebut melambangkan semangat orang-orang yang ada di kampung Long Bagun Ulu. Selain bambu, terdapat bambu yang di atasnya diletakan tempat beras berwarna warni, antara lain putih merah, hitam, kuning. Peletakan beras tersebut ada aturannya antara lain beras merah tidak boleh diletakkan di tepi, karena warna merah melambangkan keganasan.

Para pria yang mengikuti ritual dimandikan air langit atau biasa disebut dengan Teli Ubung Langit. Air langit adalah air yang dipancarkan dari tengkorak burung Enggang yang seolah olah keluar dari paruhnya. Menurut kepercayaan setempat, seseorang yang bukan keturunan bangsawan akan merasa kedinginan atau kepanasan pada saat dimandikan. Ketika prosesi pemandian berlangsung, orang yang dimandikan menginjak mebang yang menyerupai gong.
Upacara Mongosang disertai dengan pengorbanan babi jantan. Babi tersebut diambil hati dan empedunya. Kantung empedu akan meramalkan kondisi kehidupan masyarakat di kampung tersebut. Jika kantung empedu penuh maka kampung tersebut akan aman, sementara jika kantung empedu kempis maka diperkirakan akan ada bahaya. Upacara Mongosang ditutup dengan pembacaan mantera yang dinyanyikan semalam suntu. Hal ini dilakukan untuk mengantarkan roh ke tempatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s