Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat: Melenyapkan Pamalik Keluarga Baru Melalui Ritual Usang Adat

Tim Peneliti Sosial Budaya Ekspedisi Khatulistiwa mengikuti tradisi Usang Adat yaitu acara berlibur ke tempat menarik yang dilakukan pasca pesta pernikahan adat Dayak. Usang Adat bertujuan untuk menghilangkan pamalik atau pantangan bagi pasangan pengantin yang baru saja menikah.

Usang Adat pasangan Goris dan Ya kali ini berlokasi di Kerangan, yaitu sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Sungai Mahakam. Lokasinya asih di dalam kecamatan Long Bagun. Kami bersama-sama dengan keluarga dan kerabat pengantin berangkat dengan menggunakan Long Boat dengan waktu tempuh kurang dari 20 menit. Kami membawa beberapa bahan makanan seperti beras, ayam dan bumbu masak. Selain itu rombongan juga membawa peralatan seperti tenda dan alat masa.

Sampai di Kerangan, kami langsung mempersiapkan alat masak dan mencari kayu bakar. Para wanita memasak sementara pria mencari kayu bakar dan mendirikan tenda. Suku Dayak Bahau memang terkenal akan toleransi terhadap agama lain. Ketika dilaksanakan pesta bersama biasanya mereka akan tetap memberikan makanan yang halal bagi kaum muslim. Termasuk dalam acara Usang Adat kali ini, mereka meminta kaum muslim yang menyembelih tiga ekor ayam. Pada zaman dahulu, acara Usang Adat ini menggunakan bahan dari alam termasuk peralatan masaknya. Sampai saat ini, Dayak Bahau tidak menggunakan dandang untuk menanak nasi. Mereka membuat lekusan yaitu nasi yang dimasak di dalam bambu lalu di bakar.

Setelah masakan sudah siap, petinggi adat yang menyertai kami melaksanakan ritual utama Usang Adat. Pertama kali adalah prosesi pengangkatan anak yaitu ketika orang tua mempelai wanita menyuapi mempelai pria. Kemudian petinggi adat mengambil mandau lalu menempelkannya ke kepala, punggung, dan meminta mempelai pria menggigit mandau. Selanjutnya adalah ritual memasukan umbut rotan dan sayur pakis oleh pasangan suami istri dan kerabatnya yang pada akhirnya dimuntahkan di sungai. Maksud dari prosesi ini adalah untuk membuang pantangan, pamali dan bala yang akan berdampak negatif kepada pasangan suami istri ketika mengarungi bahtera rumah tangga.

Setelah seluruh prosesi telah dijalani acara selanjutnya adalah makan bersama dengan diiringi alunan musik. Rasa dari nasi lekusan berbeda dari nasi biasa karena cara masaknya yang khas. Semua merasa senang dan larut dalam suasana kebersamaan yang erat. Kami menikmati masakan yang dibuat oleh jerih payah semua orang yang terlibat dalam acara Usang Adat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s