TIM PENELITI SOSIAL BUDAYA DIUNDANG MENGIKUTI RAPAT PERSIAPAN PERNIKAHAN ADAT DAYAK OT DANUM

Sama halnya dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, pernikahan bagi masyarakat suku Dayak merupakan hal yang sakral. Pernikahan adalah suatu ritual yang bertujuan untuk mengesahkan pria dan wanita sebagai istri. Pernikahan yang dirangkum dalam suatu upacara adat mengandung makna sosialisasi kepada masyarakat luas bahwa ada sepasang kekasih yang menjalin ikatan keluarga.

Pada tanggal 20 April 2012 kami tim Peneliti Sosial Budaya diundang oleh petinggi desa untuk mengikuti rapat persiapan pernikahan yang akan diselenggarakan pada keesokan harinya di Kecamatan Long Bagun. Pihak-pihak yang terlibat dalam rapat tersebut antara lain, orang tua dari kedua mempelai yang bersangkutan, petinggi desa dan ketua adat Dayak Bahau. Mempelai pria berasal dari Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah sementara mempelai wanita berasal dari Suku Dayak Kenyah. Rencananya pernikahan yang akan diselenggarakan menggunakan adat Dayak Ot Danum. Meskipun menjadi salah satu suku minoritas di Long Bagun, perangkat desa Long Bagun Ulu memberikan kebebasan kepada yang keluarga pengantin untuk menyelenggarakan acara pernikahan sesuai adat yang bersangkutan. Hanya saja petinggi desa menghimbau agar dalam pelaksanaan acara pernikahan nanti tidak menggunakan buraq atau minuman keras secara berlebihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Petinggi desa juga meminta agar pelaksanaan pernikahan adat nanti harus mematuhi aturan-aturan yang ada dan jangan sampai ada kesalahan. Karena setiap kesalahan akan menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Pernikahan adat suku Dayak tidak menggunakan undangan resmi. Undangan resmi hanya dipakai ketika pelaksanaan upacara pernikahan di gereja. Saat kami berada di Long Bagun memang cukup banyak yang menyelenggarakan upacara pernikahan. Petinggi desa menyebutkan bahwa masyarakat Suku Dayak pada umumnya memilih waktu pernikahan ketika usai masa panen hasil bumi. Sebelumnya memang ada perayaan Tebukoq atau pesta perayaan panen masyarakat Dayak. Petinggi desa menyebutkan ada dua kelompok masyarakat di Long Bagun yaitu masyarakat adat dan masyarakat kampung. Beliau juga menyampaikan bahwa pada masa modern ini hanya masyarakat adat sajalah yang melangsungkan pesta pernikahan dengan adat Dayak. Keuntungan menjadi masyarakat adat adalah ketika terjadi perselisihan rumah tangga, maka petinggi adat akan membantu dalam meluruskan permasalahan tersebut. Namun petinggi adat tidak berhak memutuskan apakah pasangan tersebut harus bercerai atau tidak. Petinggi adat hanya dapat mengesahkan perceraian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s