Long Bagun, Denyut Kehidupan di Hulu Mahakam

Para gadis remaja Long Bagun Ulu

Pagi ini pukul 09:50 WITA kami berjalan kaki menuju Kampung Batu Majang yang berada di sebelah timur Pos Kotis Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat. Tujuan kami adalah untuk bersosialisasi dengan Kepala Adat, dan petinggi kampung.Kami melalui jalan logging yang berupa tanah dan kerikil batu. Kira-kira 500 meter perjalanan adalah perumahan pendatang. Beberapa dari rumah tersebut menjual barang-barang kebutuhan pokok, salon serta terdapat satu buah penginapan. Rumah-rumah kebanyakan terbuat dari kayu dengan atap seng. Di perjalanan kami menjumpai sebuah lapangan yang cukup luas, yang sering digunakan warga setempat untuk bermain sepak bola. Tidak jauh dari lapangan terdapat SD Negeri 005 Batu Majang. Kami menjumpai para siswa yang berada di luar sekolah. Sebagian menggunakan tas tampak seperti pulang sekolah padahal waktu masih menunjukan pukul 10:00 WITA. Setelah kami tanyakan apakah jam pelajaran sudah usai, para siswa menjelaskan bahwa mereka sedang istirahat. Mereka membawa tas karena sering terjadi pencurian di kelas. Mereka tidak mengetahui siapa yang mencuri, namun yang pasti membawa tas sekolah saat waktu istirahat jauh lebih aman. Kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Batu Majang. Tidak jauh dari SD terdapat TK Tunas Bangsa yang diluarnya terdapat anak-anak usia kira-kira 4-5 tahun berseragam biru bermain. Kondisi jalan lumayan bagus mulai dari SD yaitu terbuat dari beton dan dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Memasuki Kampung Batu Majang, kami melihat rumah-rumah panggung yang linear dengan jalan. Kebanyakan atap rumah-rumah di perkampungan ini terbuat dari sirap. Di bawah rumah-rumah panggung tersebut, penduduk menyimpan kayu-kayu yang telah dipotong serta kayu bakar. Kami menyapa penduduk yang mayoritas perempuan, dan mereka membalas dengan ramah. Para lelaki kami menduga mereka sedang bekerja. Dilihat dari ciri-ciri fisik menunjukan bahwa mereka adalah suku Dayak. Banyak di antara mereka menggunakan Seraung, yaitu topi khas dayak yang seperti digunakan oleh petani. Sama halnya seperti perkampungan Dayak di daerah Melak, di kampung Batu Majang ini kami menemukan gerbang gereja yang cukup megah bernama Gereja Santa Veronika. Dari tulisan yang ada di gerbang, gereja tersebut berjarak 3 meter dari jalan utama. Tidak jauh dari gereja kami menjumpai Lamin atau orang Dayak Kenyah bilang Amin Bioq yang artinya Lamin Besar. Akhirnya kami tiba di rumah kepala kampung. Di bagian teras terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang membuat Seraung. Sebutan kepala kampung di kampung Batu Majang adalah petinggi kampung.

Berdasarkan keterangan dari petinggi kampung, jumlah kepala keluarga yang ada di Kampung Batu Majang berjumlah 246 KK dengan rincian 1053 jiwa. Suku mayoritas adalah Dayak Kenyah. Sementara agama mayoritas Kampung Batu Majang adalah agama Katolik. Dalam pertemuan tersebut petinggi kampung menjelaskan ada tiga acara besar yang ada di Kampung Batu Majang, yaitu Alatau, Umanubeq, dan Halas. Alatau adalah acara yang dilakukan pada masa tanam. Dalam acara Alatau dilakukan pengukuran matahari untuk menentukan waktu yang tepat bercocok tanam. Makan Padi Baru adalah acara yang dilakukan pada saat makan hasil panen perdana, sementara Tebukoq adalah acara panen raya. Petinggi Kampung juga memberikan data statistik mengenai kependudukan Kampung Batu Majang. Pertemuan dengan Bapak Yosep Merang diakhiri dengan foto bersama. Setelah dari rumah Petinggi Kampung, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala adat Dayak Kenyah. Sebelumnya saya mendapatkan info bahwa akan ada pernikahan cucu kepala Dayak Kenyah pada tanggal 21 April 2012 dari seorang ibu pemilik salon. Benar saja ketika kami berada di rumah Kepala Adat, Pak Abdias, terdapat sekelompok ibu-ibu sedang membuat topi hias yang terdiri dari manik-manik dan imitasi taring macan. Suasana rumah pada saat itu cukup ramai. Kami disambut dengan ramah. Pemilik rumah menyuguhkan kami teh dan kue gunting. Di sebut kue gunting karena dibuat dari beras ketan yang digunting, kemudian ditaburkan gula halus. Pak Abdias mempersilakan kami untuk menyaksika pesta pernikahan cucunya.

Kami mempersiapkan diri untuk bergerak menuju Long Bagun Ulu yang terletak di seberang. Kami menaiki perahu karet miliki Marinir TNI AL untuk menyeberangi Sungai Mahakam yang pada siang itu cukup tenang. Kondisi perkampungan di Long Bagun Ulu sangat ramai. Bahkan terdapat pasar yang menjual hampir semua kebutuhan. Posko peneliti sosial budaya menempati kantor PKK yang terletak di depan SDN 003 Long Bagun Ulu.  Cuaca pada saat itu sangat terik. Kami mengobrol dengan warga sekitar di depan posko. Kami juga diberikan pengetahuan oleh petinggi desa seputar parang khas Suku Dayak atau Mandau yang gagangnya terbuat dari tulang binatang yang diukir. Beliau menjelaskan bahwa parang tersebut hanya digunakan untuk acara-acara adat, termasuk pada saat pesta perayaan panen kemarin. Sore harinya, saya dengan Pratu Ardi, prajurit Raider TNI AD, berolahraga dengan lari ke arah bukit. Setelah melalui jalanan kampung berupa aspal, selanjutnya adalah jalan logging yang berupa batu kerikil menembus bukit. Di sana kami menjumpai perkebunan karet. Kami berhenti beberapa waktu menikmati pemandangan tikungan Sungai Mahakam, serta burung-burung yang beterbangan dimana-mana. Ketika kami kembali menuju posko, kami menjumpai sepasang remaja putri yang mengaku sedang melakukan balap motor. Ia berada pada posisi depan di atas bukit. Kami juga menjumpai sekolompok anak usia 4—5 tahun yang melakukan ‘selancar’ dengan menggunakan potongan penampung air sebagai papan luncur. Mereka menggunakan papan tersebut untuk menuruni jalanan yang penuh kerikil. Kerikil-kerikil tersebut memudahkan papan yang ditunggangi oleh kelompok anak tersebut dengan cukup cepat. Ketika sampai di bawah, anak-anak tersebut berhamburan dan hampir tidak menunjukan ekspresi sakit. Tentu saja hal tersebut membuat kami tertawa, dan sempat kami abadikan melalui video.

Setelah tiba di posko, suasana sangat ramai. Ternyata disana sudah ada wadan subkorwil, serta rombongan tim Ekspedisi Khatulistiwa yang berada di Long Bagun seberang. Hal ini dapat dimaklumi karena memang di posko utama, suasananya sangat sepi. Yang ada hanya kumpulan satwa seperti anjing atau kambing. Kami bersama warga setempat berolahraga seperti voli dan bulutangkis di halaman SDN 003 Long Bagun. Berbeda dengan daerah lain, masyarakat di sini lebih menyukai olahraga voli dan bulu tangkis. Padahal di perkampungan ini terdapat lapangan sepak bola yang cukup luas yang letaknya tidak jauh dari Posko. Pemain voli di dominasi oleh pemuda dan anak-anak, sementara bulu tangkis lebih diminati oleh kaum wanita baik tua atau muda. Selain itu penduduk yang tidak berolahraga lebih memilih menyaksikan keramaian dari pinggir lapangan.  Aku berkenalan dengan seorang ibu yang berasal dari Pakis Magelang, Jawa Tengah yang telah tinggal di Long Bagun selama kurang lebih 20 tahun. Ternyata beliau berasal dari daerah yang sama dengan Mbak Anin di Pakis. Akhirnya aku, Mbak Anin, Mbak Fifa dan Fatar diajak ke rumah sekaligus toko miliknya. Di sana kami disuguhkan hidangan singkong goreng dan teh panas sekaligus menonton TV.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s