Ekspedisi Khatulistiwa : Ketika Prajurit TNI Menarikan Tarian Adat Dayak

Khatulistiwa!

Praka Nuh bersama penari Dayak

Sekali lagi Tim Ekpedisi Khatulistiwa wilayah Kutai Barat disambut oleh masyarakat setempat. Kali ini sambutan berasal dari masyarakat Kecamatan Long Bagun, Kutai Barat pada tanggal 14 April 2012. Acara penyambutan antara lain berupa ritual Tapok yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Bagau. Ritual ini bertujuan untuk memberikan keselamatan kepada seluruh Tim Ekspedisi Khatulistiwa selama berada di Long Bagun.  Ritual Tapok juga bertujuan agar seluruh rombongan Tim Ekspedisi Khatulistiwa bisa diterima dengan baik oleh leluhur masyarakat setempat.

Ritual Tapok dilakukan dengan menempelkan ramuan khusus pada kepala tamu yang kali ini diwakilkan oleh Komandan dan Wakil Komandan Subkorwil Ekspedisi Khatulistiwa Kutai Barat. Selain itu juga dilakukan pembacaan mantra pada dua butir telur yang diletakan pada tiang bambu. Menurut keterangan masyarakat setempat, telur ayam melambangkan agar semua harapan dan tujuan dari Ekspedisi Khatulistiwa ini dapat tercapai. Dalam acara penyambutan kali ini juga dilakukan pemasangan gelang manik-manik. Hal ini mencerminkan bahwa seluruh tamu yang memakai gelang persembahan masyarakat Dayak Bahau telah menjadi bagian dari keluarga mereka, sehingga kami tidak perlu sungkan meminta bantuan ketika mendapatkan kesulitan.

Rombongan Tim Ekspedisi Khatulistiwa wilayah Kutai Barat juga disambut dengan tarian yang dilakukan oleh sepasang remaja pria dan wanita dengan menggunakan pakaian khas adat Suku Dayak Bahau. Penari wanita mengenakan bulu burung Enggang di kedua tangannya sementara penari pria menggunakan mandau dan tameng. Gerakan kedua penari tersebut sangat indah apalagi tarian tersebut juga diiringi oleh alunan musik Sapek yang khas.  Acara penutupan diakhiri dengan hiburan berupa tarian khas Suku Dayak Bahau antara lain tarian tunggal yang dilakukan oleh kepala adat, aparat pemerintahan dan pemuda setempat, serta tarian Bonan Katat yang ditarikan oleh remaja putri secara berkelompok. Bonan Katat itu sendiri dalam bahasa Dayak artinya katak yang melompat.

Selain ditarikan oleh masyarakat setempat, acara hiburan tersebut juga diisi oleh prajurit TNI yang menjadi peserta Tim Ekspedisi Khatulistiwa. Prajurit Kepala (Praka) M. Nur yang berasal dari NTB dan berdinas di Papua berkesempatan menarikan tarian tunggal dengan mengenakan atribut Suku Dayak. Tak ayal, atraksi tersebut mendapatkan sambutan yang cukup meriah dari seluruh masyarakat yang hadir di Long Bagun. Praka M. Nur mampu menarikan tarian adat Dayak dengan sangat baik. Bahkan di penghujung lagi ia berduet menari dengan pemuda setempat. Selain Praka M. Nur, prajurit yang berasal dari Ambon ikut menyumbangkan tarian dengan latar musik Ambon yang energik. Gerakan yang lincah dan dinamis membuat beberapa ibu-ibu penari Dayak ikut serta menari bersama prajurit yang berasal dari Ambon. Dengan gerakan yang lucu dan energik pula, ibu-ibu tersebut  mendapatkan sambutan yang meriah dari masyarakat yang hadir.

Acara penyambutan ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan Ekspedisi Khatulistiwa di Kutai Barat.  Beberapa hari ke depan, masing-masing tim akan melaksanakan tugasnya masing-masing. Tim penjelajah akan bergerak menuju Kecamat Long Apari yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Malaysia. Mereka akan menjelajahi patok-patok perbatasan. Sementara rekan-rekan peneliti akan menyusuri penjuru wilayah Kutai Barat dengan harapan dapat meneliti kekayaan alam maupun budaya setempat.

One thought on “Ekspedisi Khatulistiwa : Ketika Prajurit TNI Menarikan Tarian Adat Dayak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s