Gagal Jadi Pendonor Darah

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, aku dapat informasi di twitter mengenai info dibutuhkan darah golongan O. Bulan Januari sudah memenuhi syarat jeda waktu donor. Donor darah bagiku, sudah menjadi kegiatan ‘menyenangkan’. Karena selain bisa membantu sesama, tubuh terasah menjadi bugar kembali. Kebiasaan ini dimulai ketika aku bergabung di Menwa UGM yang mengharuskan anggotanya yang memenuhi syarat untuk berani menjadi pendonor. Padahal dulu aku paling takut sama yang namanya darah, apalagi sampai harus mendonorkan darah sekantung gitu.

Baru kali ini aku mendapat pengalaman yang mengecewakan di Rumah Sakit Sardjito. Ternyata setelah dicek darah, hemoglobinku rendah. Cara mengetahui tinggi rendahnya hemoglobinku ternyata cukup mudah yaitu dengan memasukan tets darah ke sebuah laruan. Ternyata tetes darahku mengapung, berarti berat jenisnya lebih rendah dari cairan itu. Hemoglobin rendah mengindikasikan aku sedang anemia, atau kekurangan gizi. Maklum saja, hari ini aku baru makan satu kali setelah kegiatan satu hari di Gunung Kidul yang melelahkan.

Atas kejadian tersebut aku mendapatkan pelajaran berharga. Yaitu aku harus betul-betul memeriksa kondisi tubuhku sebelum memberikan pertolongan kepada orang lain. Masih ingat tragedi donor darah beberapa tahun lalu yang membuat aku lemas. Saat itu aku nekat donor darah padahal selisih waktunya kurang dari tiga bulan sejak donor terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s