Mengenal Tourette Syndrome

Tourette Syndrome adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada masa anak anak yang gejalanya antara lain muncul tic (gerakan spontan) pada anggota tubuh maupun suara yang tidak terkendali dan selalu berulang. Gejala-gejala semacam ini akan mempengaruhi individu yang mengalami Tourette Syndrom terhadap aktivitasnya sehari-hari. Syndrom ini dinamakan Tourette sesuai dengan penemunya yaitu Dr Georges Gilles de la Tourette yang merupakan neurolog asal Prancis yang pertama kali mendeskripsikan Tourette Syndrom ada kalangan bangsawan di Perancis pada tahun 1885. Tourette Syndrom merupakan salah satu sindrom yang sangat langka dan sering dikaitkan oleh orang yang pengumpat dan berkata kotor. Namun saat ini Tourette Syndrom sudah tidak dianggap sebagai sindrom psikiatri yang langka. Sebagain besar orang yang diidentifikasikan mengalami Tourette Syndrom hanya mengalami gejala yang ringan, dan sangat sedikit sekali yang diidentifikasikan mengalami gejala yang berat.

Gejala awal Tourette Syndrom pertama kali muncul pada masa anak-anak terutama usia 3-9 tahun. Tourette Syndrom bisa dialami oleh kelompok etnis manapun namun laki-laki mengalami tiga sampai empat kali lebih sering dibandingkan dengan wanita. Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 200.000 orang yang mengalami Tourette Syndrom.

Penyebab dari munculnya Tourrete Syndrom belum dapat diketahui secara pasti. Para ahli memperkirakan bahwa faktor genetik dan lingkungan memiliki peran penting dalam sindrom ini. Namun banyak kasus menunjukan bahwa Tourette Syndrom tidak diwariskan oleh orang tua. Banyak individu dengan Tourette Syndrom mengalami gejala hiperaktif, depresi, kecemasan,perilaku impulsif dan gangguan perilaku lainnya. Bahkan Leckman menyebutkan bahwa 25/42 % remaja dengan Tourette Syndrom mengalami gejala ADHD. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Yin menunjukan bahwa individu dengan Tourette Syndrom memiliki permasalahan stres psikososial. Dalam kajian neurologis, gangguan tic yang dialami oleh penderita Tourette Syndrom merupakan bentuk disfungsi pada daerah kortikal, sub kortikal, talamus, basal gangla dan korteks frontal.

Gejala Tourette Syndrom dapat terjadi sangat ringan dan tidak disadari oleh individu yang bersangkutan maupun orang-orang yang berada di sekitarnya. Torette Syndrom yang terjadi pada masa anak-anak biasanya diketahui dari munculnya gejala tic yang sederhana dan seiring berjalannya waktu berubah menjadi tics yang komplek. Tic merupakan gerakan tiba-tiba, spontan, tidak terkendali dan berulang pada anggota tubuh seseorang. Tic muncul dalam variasi frekuensi, jenis dan tingkat keparahan. Contoh dari tic tersebut antara lain, gerakan mengedipkan mata, wajah meringis, mengangkat bahu, menggerakan leher kepala secara menghentak. Selain otot motorik, tic juga melibatkan suara-suara yang muncul secara spontan, berulang dan tidak disadari. Tic sederhana biasanya tidak melibatkan terlalu banyak bagian tubuh atau otot seseorang. Tic kompleks merupakan kombinasi dari tic simple yang melibatkan beberapa otot anggota tubuh. Contoh dari Tic komplek seperti wajah meringis lalu disertai dengan sentuhan kepala dan mengangkat bahu. Sementara tic kompleks pada vocal antara lain mengucapkan beberapa kata atau frasa.

Menurut DSM IV seseorang mengalami Tourette Syndrom jika mengalami tic motiric maupun vokal selama satu tahun. Psikiater tidak memerlukan darah atau organ tubuh lainnya sebagai objek untuk mendiagnosis Tourette Syndrom. Sementara beberapa penelitu dari Yale University menggunakan Family Inventory of Life Events (FILE) dan Life Event Questionnaire (LEQ) sebagai alat untuk mengetahui korelasi antara Tourette Syndrom dengan gangguan psikososial.

Gejala Tourette Syndrom biasanya tidak menimbulkan kerusakan secara fisik. Namun pada beberapa kasus misalnya ketika individu dengan Tourette Syndrom sedang menggunakan pisau atau alat pemotong lainnya dapat berpotensi menyebabkan luka. Beberapa pasien membutuhkan obat ketika gejala yang muncul terasa sangat mengganggu. Obat yang dibutuhkan oleh penderita Tourette Syndrom antara lain Neuroleptik yaitu obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik. Neuroloptik juga memiliki efek samping yang sering disebut tardive dyskinesia, yaitu gerakan tic yang berbeda dari biasanya akibat penggunaan neuroleptik yang berlebihan. Selain itu pada saat obat ini tidak digunakan lagi oleh pasie juga akan menimbulkan semacam ketergantungan. Oleh karena itu penghentian pemberian neuroleptik harus dilakukan secara perlahan. Obat-obatan lainnya yang sering digunakan untuk mengobati gejala Toourrete Syndrom antara lain Guanfacine, Atomoxetine Clomipramine, Fluoxetine, Setraline, Fluoxamine. Para ahli juga memanfaatkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan teknik relaksasi untuk mengurangi gejala gangguan Tic. Namun hasil dari metode-metode tersebut belum dievaluasi secara sistematis dan tidak didukung secara empiris untuk menyembuhkan Tourrete Syndrom.

3 thoughts on “Mengenal Tourette Syndrome

  1. Mei says:

    Apakah di Jakarta ada komunitas orang tua yang anaknya memiliki sindrom Tourette ini? Jika ada, dimana kami bisa menghubunginya? Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s