Ular dan Naluri Manusia

“Ular adalah binatang yang ‘bodoh’, dengan indera dan alat gerak yang terbatas, namun mereka luar biasa hebat”

Ular adalah salah satu binatang yang paling ditakuti oleh manusia. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari anggapan bahwa semua ular memiliki bisa, perasaan jijik, hingga orang-orang yang bahkan tidak tahu alasannya takut dengan ular. Sebagai bagian dari rantai makanan, ular memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem. Mungkin di sekolah dasar kita sering mendengarkan materi betapa besar jasa ular yang telah memangsa tikus, sehingga sawah Pak Tani bebas dari hama.

Ular Memangsa Mamalia

 

Di dunia sendiri ada sekitar 1800 spesies ular dan ratusan jenisnya ada di Indonesia. Hal ini tidak mengherankan mengingat Indonesia adalah negara tropis sehingga memiliki vegetasi yang relatif banyak. Vegetasi ini menjadi habitat bagi satwa-satwa termasuk ular. Oleh karena itu di Indonesia ular hampir bisa ditemukan dimana-mana termasuk di pemukiman warga.Ketakutan terhadap ular sebetulnya hal yang wajar, mengingat ular adalah salah satu binatang yang berbahaya. Beberapa dari mereka memiliki racun, dan jenis ular besar seperti sanca dan boa mampu melilit mangsanya hingga tewas. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua ular mematikan. Ular cenderung menghindar ketika berjumpa dengan manusia. Mereka menyerang jika dalam kondisi terancam.

Ada beberapa penelitian menarik mengenai ketakutan seseorang terhadap ular. Judy S. DeLoache and Vanessa LoBue dari Universitas Virginia menemukan fakta bahwa ketakutan terhadap ular merupakan hasil evolusi manusia sebagai bagian dari mamalia. Ketakutan merupakan bentuk pertahanan diri manusia menghindari risiko yang mungkin mengancam keselamatan dirinya. Misalnya orang yang berteriak histeris melihat ular sebetulnya merupakan reaksi pertahanan diri dengan harapan agar ada orang lain yang menyelamatkan dirinya. Kedua peneliti tersebut menggunakan subjek bayi yang berusia 1-2 tahun yang memperlihatkan ular melalui video maupun gambar dan membandingkannya dengan binatang lain melalui metode yang sama. Hasilnya adalah bahwa bayi mengurangi intensitas melihat tayangan ular jika dibandingkan dengan binatang lain seperti jerapah. Tentu sulit menerima bahwa reaksi ini merupakan bentuk ketakutan. Namun perlu diketahui bahwa subjek adalah bayi yang memiliki perilaku lebih terbatas jika dibandingkan dengan orang dewasa termasuk perilaku takut. Secara umum hasil penelitian ini menegaskan bahwa perasaan takut terhadap ular merupakan naluri bawaan manusia sebagai mamalia. Mengingat ular juga memangsa mamalia😀

Selain itu ada penelitian tentang ketakutan terhadap ular yang dilakukan oleh Pavol Prokop, Murat Ozel, Muhammet Uşakc. Subjek dari ketiga peneliti ini adalah mahasiswa yang berasal dari Slovakia dan Turki. Beberapa temuan menarik adalah bahwa wanita ternyata memiliki tingkat ketakutan yang lebih tinggi terhadap ular jika dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan oleh keyakinan pada diri wanita bahwa ia kurang mampu dalam menghadapi situasi yang membahayakan dirinya, salah satunya adalah kelemahan secara fisik. Selain itu wanita juga lebih percaya mitos mitos negatif mengenai ular Temuan kedua adalah bahwa mahasiswa yang berasal dari jurusan biologi memiliki tingkat ketakutan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mahasiswa yang berasal jurusan lain. Hal ini disebabkan pengetahuannya terhadap makhluk hidup termasuk ular yang lebih realistis dan logis. Temuan ketiga adalah bahwa mahasiswa yang memiliki hewan peliharaan memiliki ketakutan yang lebih rendah terhadap ular jika dibandingkan mahasiswa yang tidak memelihara hewan peliharaan. Hal ini disebabkan memelihara hewan akan membuat seseorang memiliki pengetahuan tentang karakteristik hewan,meningkatkan intensitas hubungan sesuatu yang terkait dengan alam,  serta menumbuhkan perasaan empati. Dan yang terakhir hasil dari penelitian ini adalah bahwa ketakutan terhadap ular juga dipengaruhi oleh sejauh mana wawasan, pengetahuan serta mitos-mitos yang ia percayai tentang ular.

Dari kedua penelitian di atas kita bisa menemukan bagaimana treatmen atau penanganan yang mungkin dilakukan agar ketakutan terhadap ular bisa dikurangi. Biasanya ada beberapa situasi yang mengharuskan kita berada di lingkungan yang membuat potensi kita bertemu dengan ular lebih tinggi. Misalnya pekerjaan sebagai tentara, tukang kebun, petugas kebun binatang, penjaga hutan dll.  Tentu sangat merepotkan jika orang yang berprofesi seperti yang sudah disebutkan di atas, memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap ular.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s