DIENG DAN CHITATO

Kok bisa? Apakah Pabrik Chitato ada di Dieng?

Chitato Mania

Yah menurut anggapanku Chitato rasa Sapi Panggang itu makanan ringan yang paling wueeenaaak sepanjang masa. Meski rasanya begitu-gitu aja, siapa sih yang gak nolak di kasih Chitato! Maka dari itu gak heran kalau harga dari makanan ringan yang bungkusnya berwarna cokelat ini lebih mahal dari yang lainnya. Dulu ketika jaman-jamannya mainan Tazos (kepingan plastik begambar kartun) produksi Indofood lagi ngetren, mau nggak mau harus beli produk makanan ringan salah satunya Chitato. Dibandingkan dengan Chiki atau Jetz (heheh masih ingetkan) Chitato memang lebih mahal, tapi ya sebandinglah harganya.

Sore tadi karena hawanya mau ngemil, aku beli sebungkus Chotato yang 75 gram harganya 6.500 rupiah! Wuiiih muahal ya, harganya nyaris sama nasi telur + Nutrisari rasa jeruk di Burjo. Bahkan mungkin bisa buat beli kentang mentah. Tapi kalau sudah ngidam ya apa boleh buat, dari pada ngiler bayangin yang nggak-nggak. Nah ketika makan Chitato inilah aku jadi inget tempat yang beberapa waktu lalu aku kunjungin. Yaitu dataran tinggi Dieng.

Yap dataran tinggi Dieng adalah dataran tinggi paling tinggi di Indonesia, sekitar 2,5 km di atas permukaan laut. Mungkin masih bingung dengan istilah dataran tinggi, dan banyak yang mengistilahkan dengan ‘pegunungan biasa’. Dataran tinggi itu ibarat wilayah yang berada di atas tenis meja. Walaupun terletak di ketinggian, tapi arealnya cenderung datar, maka dari itu dataran tinggi cukup ideal untuk pemukiman, seperti dataran tinggi Tibet dan dataran tinggi Gayo di Aceh.

Nah Dieng itu sendiri adalah wilayah penghasil kentang bahan baku utama Chitato yang cukup terkenal di Indonesia. Sepanjang jalan menuju Dieng kita akan disuguhkan pemandangan tanaman kentang dan masyarakat yang sedang mengangkut berpuluh-puluh karung kentang (ckckck kalau dijadikan Chitato bisa berapa bungkus ya *Ngiler). Tanaman kentang bisa hidup subur disini karena hawa Dieng yang sejuk dan karena tanah yang subur mengingat Dieng sendiri merupakan kawasan vulkanik aktif.

Di sini kentang di sana kentang, di mana mana pohonnya kentang

Ketika mengunjungi Dieng, ada sesuatu yang kurang dari tempat ini. Kalau memang Dieng penghasil kentang yang cukup banyak, aku tidak menemukan satupun warung makan atau kios yang menjual produk kentang kecuali kentang yang baru dipanen. Ku pikir di tempat ini akan banyak ku jumpai Chitato Chitato lokal yang gurih dan renyah. Atau kentang goreng ala Mc Donalds yang rasanya enak itu.

Masyarakat Dieng memang kebanyakan bekerja dalam sektor agraris maupun jasa wisata. Dengan segala potensi yang dimiliki, seharusnya Dieng mampu menjadi wilayah yang lebih maju. Sepanjang jalan ku lihat mayoritas bekerja sebagai petani, entah itu sebagai penggarap atau pemilik lahan. Namun sebagai tempat wisata, seharusnya Dieng tidak hanya menyuguhkan keindahan alam semata. Namun juga memiliki kenangan yang bisa dinikmati di tempat lain, misalnya kuliner khas. Selama di sana, Carica yang konon olahan buah khas Dieng, bahkan tidak aku jumpai di tempat itu. Yang ada hanya berpetak-petak tanaman Carica yang mirip pepaya biasa. Semoga masyarakat Dieng menyadari bahwa cara-cara kratif dalam mengolah hasil bumi bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar ketimbang menjual mentah-mentah produk-produk pertanian itu. Semoga di masa mendatang bisa lebih banyak kujumpai kuliner khas Negeri di Atas Awan terutama kentang agar bisa memanjakanku sebagai penggemar berat Chitato.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s