Melankolisme Menghambat Daya Juang Pemuda

Kampus ini terbuka untuk siapapun, asal LULUS UJIAN SELEKSI😀😀

“hahaha isi tulisan ini tidak sebombastis judulnya kok, santai wae”

Ada sesuatu yang menggelitik hati saya sehingga ingin rasanya tertawa terbahak-bahak sekaligus menangis sedih. Sebuah artikel di situs media online terkenal sebut saja Kompas.com. Isinya antara lain kisah memilukan seorang peserta SNMPTN undangan yang lulus seleksi perguruan tinggi terkemuka sebut saja UGM yang harus membayar uang puluhan juta rupiah sebagai langkah awal untuk masuk kampus yang terletak di Sleman, Yogyakarta ini. Penulis di media tersebut apik sekali merangkai kata betapa susahnya orang miskin kuliah di perguruan tinggi negeri yang konon katanya punya kualitas yang lebih unggul dari yang lain. Setelah menulis kepiluan tersebut yang membuat hati ingin menyalahkan keadaan, apa solusi yang diungkapkan oleh penulis tersebut?

TIDAK ADA!

Yah tulisan itu merupakan contoh sebuah tulisan yang tidak solutif sebagaimaan tuntutan produk media massa yang berfungsi sebagai sarana informatif kepada masyarakat. Tulisan semacam ini membuat pola pikir masyarakat semakin melankolis layaknya cerita dalam sinetron yang tidak jelas akhirannya. Tulisan melankolis biasanya mengeksploitasi emosi dasar manusia seperti sedih dan marah. Tulisan semacam ini berpotensi menyesatkan masyarakat!

Saya agak kecewa dengan penulis, karena di tengah semangat memberikan akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat (UGM menghapuskan UM dan meningkatkan jumlah beasiswa), muncul pemberitaan kampus UGM yang terkesan unreachable bagi kalangan menengah kebawah. Seharusnya tulisan tersebut memuat informasi yang lebih dalam termasuk beribu cara agar peserta yang lulus SNMPTN tetap bisa kuliah meskipun terkendala dana. Saya menjumpai buanyaaaak kasus seperti ini pada teman teman kuliah, teman organisasi, tetangga kost dan lain-lain. Mereka bisa tetap melanjutkan studi namun tetap berusaha seperti meminta surat keterangan tidak mampu, melobi dekan, melobi rektor, bahkan sampai meminta bantuan BEM. Jadi jangan Cuma mengandalkan belas kasihan atau nunggu pemerintah mengubah sistem, KELAMAAN. Orang yang dicari dalam zaman seperti ini adalah orang yang mau berusaha keras, bukan pemalas.

Tenang saja, slogan di kampus UGM sama seperti di kampus UI, diterima dulu masalah biaya gampang. Jarang sekali ada orang DO karena masalah biaya, yang ada karena dia tidak mau, bukan karena tidak mampu. UGM ini banyak pihak yang mau ngasih beasiswa, bahkan beasiswa yang tidak ada di kampus lain.

Jadi buat kamu calon-calon mahasiswa UGM, janganlah jadi insan yang melankolis. Selalu menjadikan isu mahal sebagai alasan gak mampu kuliah. Tenang saja bro, beasiswa disini melimpah, dan teman-teman mahasiswa pasti bergerak jika ada calon mahasiswa baru yang gagal kuliah karena terbentur biaya.

Okay! Dan yang terpenting, masa depan itu gak cuma masalah kamu kuliah atau enggak, masih ada jalan lain, yang penting adalah U SA HA!! Memang banyak orang yang sukses tanpa kuliah, buanyaak sekali malah, tapi fakta membuktikan, banyak orang yang meningkat strata sosialnya karena ia mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi, Wahidin Sudirohusodo, Boediono, Patrialis Akbar dll adalah contohnya, tinggal kamu pilih yang mana! Ingat pendidikan adalah investasi masa depan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s