JANGAN TAKUT KULIAH DI JOGJA

Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (23 Desember 2010)

“Tulisan disini dibuat pada pagi hari yang cerah, kicauan burung terdengar di mana-mana, pepohonan rimbun, meneduhi bapak tukang becak yang masih terlelap kelelahan. Penjual Gudeg bertebaran dipinggir jalan, dan Gunung Merapi terlihat sangat gagah berada di balik auditorium Universitas Gadjah Mada, Grha Sabha Pramana. Para mahasiswa sudah menyerbu kampus, sepeda,motor, mobil hingga yang jalan kaki, menyusuri jalanan kampus UGM yang cukup asri. Sesekali bocah-bocah SD bergerombool menuju sekolah dengan canda tawa.”

Letusan Merapi terlihat dari Kampus UGM. Luar biasa bukan? Saat itu kampus UGM tidak mengalami dampak apa-apa.

Ya! Itulah situasi kampus UGM dan Yogyakarta pada umumnya 2 bulan pasca letusan Merapi. Boleh dibilang letusan Merapi pada saat itu adalah yang terdahsyat selama 100 tahun terakhir. Hujan abu bahkan menyebar hingga Depok, Jawa Barat, dan tentu saja Yogyakarta. Kampus UGM sendiri terkena hujan abu dua kali. Abu setebal setengah centimeter tersebut mengakibatkan nuansa grayscale pada kampus UGM.

Yang Ini Kampus UGM terkena hujan abu. Keren kan, serasa di timur tengah

Letusan besar terjadi pada 5 November dini hari. Suasana memang mencekam, suara gemuruh serta getaran terasa di mana-mana.Semua mata tertuju ke arah utara. Ada apakah dengan Merapi? Kali ini kampus UGM yang jaraknya 29 KM dari puncak merapi bukan saja terkena hujan abu, melainkan pasir. Para pengungsi yang berasal dari posko pengungsian atas, berbondong-bondong menuju tempat yang aman ke arah selatan. Hampir seluruh universitas di Yogyakarta menjadi tempat pengungsian termasuk kampus UGM. Di saat itulah jarak antara generasi intelektual (baca: mahasiswa) dengan orang gunung sudah tidak ada.  Hampir 60% relawan Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya adalah para mahasiswa. Kampus pun meliburkan kegiatannya agar memberikan kesempatan kepada mahasiswa ‘belajar’ menjadi relawan bencana alam.

Mahasiswa UGM belajar kelompok dengan latar belakang letusan Merapi. Jogja Aman Bung

Lama masa tanggap darurat hampir satu bulan. Di saat itulah kami merasakan bagaimana tenteramnya Jogja. Merapi boleh saja ‘sakit’, namun tidak dengan masyarakatnya. Balaidesa menampung pengungsi dari desa lain. Ibu-ibu rumah tangga kompak membuat nasi bungkus untuk para pengungsi, bahkan kabarnya bantuan tersebut melimpah ruah. Anak-anak yang masih mengenakan seragam SMA rela berpanas-panasan ditengah abu vulkanik menyodorkan kotak bantuan kepada pengguna jalan. Tentara, mahasiswa, polisi, petugas PMI bahu membahu menolong saudaranya.Ketika tanggap darurat selesai, tangis haru perpisahan merebak dimana-mana. Mahasiswa dari Indonesia Timur dan si mbok terlihat saling berangkulan menitikan air mata sambil berkata ‘saiki kowe nduwe ibuk nang nduwur’ “Sekarang kamu punya ibu di atas (lereng merapi)”. Itulah Yogyakarta yang masyarakatnya terkenal kompak.

Relawan Mahasiswa UGM bermain bersama anak-anak Pengungsi

Gambaran di atas setidaknya dapat menceritakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan dari Yogyakarta. Merapi memang meletus, namun tidak semua wilayah terkena dampaknya. Awan panas meluncur dengan jarak mencapai 15 km dari puncak Merapi, itu     pun hanya melewati satu alur sungai yaitu Kali Gendol yang berada di tenggara puncak Merapi. Korban tewas  memang ratusan, tetapi mereka tidak mematuhi anjuran pemerintah untuk mengungsi. Hujan abu memang merata melanda seluruh Yogyakarta, namun tidak terlalu membahayakan. Apalagi saat ini Yoyakarta sering diguyur hujan sehingga dampak dari abu vulkanik sudah tidak ada. Yogyakarta sudah bersih seperti sedia kala. Wisatawan sudah mulai berdatangan, bahkan mereka menjadikan dampak letusan Merapi sebagai tujuan wisatanya. Kapan lagi bisa melihat sisa letusan terdahsyat dalam 100 tahun terakhir bukan?

Perpisahan yang mengharukan antara mahasiswa UGM dengan pengungsi remaja Merapi

Jadi jangan takut kuliah di Jogja. Jogja tetap nyaman dan tenteram. Jogja dipimpin oleh Sri Sultan yang bijaksana. Bagi yang ingin memilih jurusan Geologi, silakan meneliti letusan Merapi, yang ingin memilih jurusan psikologi, masih banyak korban merapi yang depresi, yang memilih ekonomi, dapat berpartisipasi memulihkan perekonomian korban Merapi, serta jurusan-jurusan lain yang dapat berguna bagi kemajuan bangsa dan negara.

Yogyakarta menantimu kawan, Yogyakarta akan selalu menunggu putera-puteri terbaik dari seluruh penjuru nusantara untuk menuntut ilmu di kota pelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s