Merapi dan Roket Air

“Hari ini aku ingin menulis santai di tengah situasi  ‘awas’ ini :p . Tulisan yang sekiranya menggambarkan kesenanganku bersama mereka, bocah-bocah gunung”

 

Ngeksis aaaah

Manusia memang ditakdirkan untuk bermain. Dari permainan itulah muncul ide-ide kreatif serta pembelajaran yang luar biasa. Bagaimana bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah bersama-sama dan kompetisi.

Merapi memang sudah cukup lama meletus. Namun pengungsi masih bertebaran di mana-mana. Begitu pula dengan relawan yang meolong tanpa pamrih. Persetan dengan masalah motivasi, aku ingin mengaplikasikan ilmu yang kupelajari selama ini, dalam sebuah situasi yang bernama tanggap darurat.

Aku ingin bermain, bermain sambil belajar dan menunjukan kesederhanaan pada para penerus bangsa itu. Kesederhanaan yang menjadi barang mahal bagi pemimpin Indonesia masa kini. Aku memang hanya mengandalkan barang-barang bekas, bukan sesuatu yang mahal.

 

Simulasi letusan Gunung Merapi

Wedus gembel dari Balaidesa Kokosan Prambanan

Akhir-akhir ini aku semakin akrab dengan cuka, soda kue, dan pewarna.Yap, ketiga benda itu sangat membantuku meredakan kemarahan atau ketakutan anak-anak pada Merapi (yang sebetulnya lebih tepat disebut gunung penebar berkah). Permainan iptek ini cukup membuat anak-anak itu tertarik, padahal ketiga benda itu selalu hadir dalam kesehariannya. Efek dari pencampuran larutan cuka dan pewarna dengan soda kue, akan menjelaskan fenomena Gunung Merapi seperti wedhus gembel, magma, lava dan lahar, bahkan mereka akan tahu bahwa selain meletus seperti orang ngiler (efusif) merapi juga bisa meledak-ledak (Eksplosif) Semoga mereka memaknai arti kesederhanaan, ya setidaknya mereka bisa lebih kreatif lagi dalam memanfaatkan barang-barang bekas. Boleh jadi kegiatan ini dapat disebut mitigasi bencana, karena selain menjelaskan seputar Gunung Merapi, juga dijelaskan bagaimana cara-cara menghadapinya tentu saja dengan bahasa yang mudah dimengerti anak serta penyampaian yang seperti anak-anak😛

Siap Meluncurkan Roket

Yeaaah Meluncur juga

Merakit Roket dibantu teman-teman KKN UGM

Satu lagi permainan yang tidak terlalu mewah namun dapat membuka wawasan pengetahuan adik-adik pengungsi. Roket air, yeah, untunglah siswa PPBN ku yang bernama Afrizal dari MAN 1 Yogyakarta menginspirasiku bagaimana caranya mengenalkan Iptek dan kedirgantaraan kepada anak-anak gunung itu. Sekali lagi, hanya barang bekas, yang mudah didapat. Roket air berhasil memukau banyak anak. Aku selalu senang ketika anak-anak itu terbirit-birit mengisi air, ekspresi lucu saat memompa, dan wajah-wajah puas menoleh atas ketika roket mereka melesat ke udara, laluuuu bbruuukkkk, roket terjatuh di tanah, dan anak-anak bersuka cita mengambilnya. Lalu mereka bertanya “Kak, kok bisa terbang jauh? Bikinnya pakai apaan?” Klik,,, saat aku menjawab pertanyaan polos mereka, disitulah proses pendidikan berlangsung.

Belajar, bermain, bertanya, jawaban, canda, tawa, riang, …  Itulah kondisi yang dibutuhkan anak-anak Merapi. Anak-anak itu akan kembali ke gunung itu dan mereka tidak layak takut dan marah ke sang penebar berkah itu. Mereka belum bisa belajar terlampau serius, namun mereka juga tidak boleh dibiarkan terus bermain tanpa menanamkan ilmu-ilmu. Mereka adalah calon dokter, calon prajurit, calon astronot, dan calon petani sukses. Mereka tidak layak menderita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s