Abu Vulkanik Merapi Mengguyur Kampus UGM

Tengah malam itu aku terbangun, sekitar pukul 01:30 WIB. Sebuah panggilan dari Aji temanku satu fakultas yang menanyakan apakah aku akan ke atas (Merapi). Aku baru sadar, Merapi ngamuk lagi, letusannya cukup besar sehingga abu berjatuhan di sekitaran kampus UII (14 km dari  pusat kota Yogyakarta). Dengan mata yang masih berat, aku mengais-ngais kabel radio yang berserakan untuk dinyalakan. benar saja di RRI sedang menyiarkan bahwa abu vulkanik sampai Jalan Kaliurang KM. 8, tempat asramaku dulu.

 

Mobil Menwa  UGM pun tak luput dari guyuran abu vulkanik

Dengan pakaian seadanya+jaket, kacamata renang, HP yang lowbat, kamera dengan baterai kosong, aku bergegas menuju Markas Resimen Mahasiswa UGM. Tampaknya malam ini sesuatu yang buruk terjadi di lereng Merapi. Aku membangunkan Kepala Operasi Menwa UGM, untuk segera bergegas ke Merapi. Yang kupikirkan adalah membagikan masker, namun hanya tersisa sekitar 50 buah. Dengan logistik yang seadanya itu, kami nekat berangkat.Saat itulah hujan abu yang cukup pekat mengguyur Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

Gedung Pusat UGM terguyur abu vulkanik Merapi

Sepanjang perjalanan di Jalan Kaliurang, orang-orang dari arah utara berusaha menyelamatkan diri dengan kendaraan mereka masing-masing menuju ke arah selatan. Banyak sekali kendaraan seolah-olah mengingatkan pada isu tsunami di yogyakarta 4 tahun lalu. Beberapa warga yang berada di pinggir jalan tampak panik, terutama anak-anak kecil. Akhirnya sepanjang jalan itu kami membagikan masker kepada penduduk yang belum memiliki pelindung hidung.

 

Atap rumah-rumah sekitar kostku yang tertutup abu vulkanik Merapi

Semakin ke utara, hujan abu malah semakin pekat. Jalan Kaliuran tampak putih, abu (atau pasir?) mulai menyerang mata sehingga membuat perih. Kencangnya kendaraan bermotor membuat debu semakin bebas melayang di udara. Tibalah kami di Pakem, dan disana abu sudah setebal mata kaki. Atap rumah tampak kewalahan menahan abu yang turun. Karena sudah tidak dijumpai penduduk, serta alasan keselamatan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kampus.

Hujan abu adalah fenomena yang wajar di wilayah yang dekat dengan gunung berapi. Untuk kali ini Yogyakarta cukup beruntung ‘menikmati’ abu vulkanik, karena angin pada saat itu memang bergerak ke arah selatan. Untuk mengurangi stres, mari kita ubah persepsi kita mengenai bencana ini.Anggaplah, Tuhan Yang Maha Kuasa sedang memberikan pertunjukan spektakuler melalu alam ciptaannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s