Pelajaran Berharga dari Mbah Maridjan

Merapi dibalik kampus ku

 

“Kalau mau selamat ya mengungsi, jangan manut sama orang bodoh macam saya yang tidak pernah sekolah”

Itulah maksud mbah maridjan ketika dia mendapatkan tekanan luar biasa dari orang-orang yang tidak mengetahui betapa amanah baginya adalah segalanya. Seorang kakek renta, yang diberikan amanah luar biasa beratnya oleh Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga sebuah gunung yang begitu perkasanya tertancap di Tanah Jawa,Merapi. Merapi sangat legendaris dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Tidak hanya karena keindahan alam sekitarnya, namun yang pasti ketika Merapi murka, ia tetap gadis cantik yang menarik perhatian begitu banyak orang.

Belakangan ini sosok Mbbah Maridjan menjadi populer.Masyarakat luas mulai mengenalnya saat Merapi meletus tahun 2006. Kala itu Mbah Maridjan menolak mengungsi meskipun jarak rumahnya dengan Merapi sekitar 4 km. Ketenarannya membuat Mbah Maridjan menjadi bintang iklan salah satu minuman suplemen terkenal. Kini, ketika Merapi menepati janjinya lagi, Mbah Maridjan kembali menjadi sorotan utama. Seperti biasa, ia ‘membandel’ menolak anjuran pemerintah untuk pengungsi.

 

Banyak orang menghujatnya, karena bertingkah sombong, sok-sok’an dan membahayakan orang lain. Pemerintah pun tampak gemas dengan sikap kakek renta ini. Namun Mbah Maridjan tetap teguh pada pendiriannya. Ia hanya menjalankan tugas menjaga Merapi karena itu adalah amanah yang diberikan kepadanya oleh orang yang sangat ia hormati.Bahkan ia siap menanggung hal terburuk yang akan terjadi pada dirinya sebagai konsekuensi tugas yang ia berikan.

 

Kabar terakhir, Rabu, 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Sosok abdi dalem yang begitu familiar dengan para pendaki Merapi tersebut telah tiada. Ia telah menjalankan tugasnya dengan gagah berani meskipun tubuhnya renta. Tidak lelah lelahnya ia mengingatkan siapapun untuk mencintai dan menghormati Merapi meskipun ia sebuah gunung yang hanya bisa bergemuruh dan mengepulkan asam solfata. Begitu dermawannya sehingga ia membangun sebuah masjid cantik dekat rumahnya yang saat ini hancur. Sebuah pengabdian yang layak dicontoh oleh pejabat-pejabat di negeri ini. Sebetulnya mereka tidak perlu studi banding ke negeri yang jauh. Sekali lagi Yogyakarta menjadi tempat pembelajaran yang luar biasa bagi siapapun. Selamat Jalan Mbah Maridjan, tak akan kulupakan jasamu yang telah menyelimutiku dengan kain hangat ketika aku tertidur di masjidmu dalam udara yang menusuk kulit….

2 thoughts on “Pelajaran Berharga dari Mbah Maridjan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s