PANJI MANGGALA YUDHA!!! GADJAH MADA!!

Aku masih ingat dengan sebuah kalimat (judul di atas) yang aku lontarkan dihadapan 19 siswa SMA sederajat itu. Semua diam membisu, padahal makna dari kalimat tersbut sangat luar biasa. Yaitu mengenai kekokohan sebuah kerajaan yang merupakan cikal bakal negara Indonesia. Tokoh penting dari semua itu adalah Mahapatih Gadjah Mada yang diabadikan menjadi nama kampus ku, Universitas Gadjah Mada.

 

Membriefing mereka sebelum masuk Keraton Yogyakarta

Ya,,pendidikan kebangsaan Panji Manggala Yudha memang sudah berakhir beberapa minggu yang lalu. Namun kesan-kesannya masih terasa hingga kini. Awalnya aku sangat pesimis mengenai kelancaran acara ini. Penyelenggaraan yang berdekatan dengan ujian tengah semester di beberapa sekolah di Yogyakarta membuat acara ini diundur nyaris satu bulan.

Jumlah peserta memang 19 orang. Namun hal itu merupakan sebuah keberuntungan, dalam menciptakan suasana yang kondusif selama pendidikan. Keakraban cepat terbentuk, dan karakter ke-19 siswa mudah dipahami. PPBN adalah permasalahan hatu, ya PPBN adalah satu hati. Kami ingin menciptakan pendidikan yang berbasis kualitas, bukan kuantitas semata. meski hanya 19 saya rasa perubahan aspek kognitif serta afeksi jauh lebih penting.

Inilah acara yang paling memuaskan bagiku. Bekerja sama dengan anggota Menwa UGM lainnya dalam mendidik 19 prajurit pelajar elit sangat mengesankan. Mengantarkan mereka ke Yonif untuk mengenal senjata api, mengawasi pergerakan mereka di keraton Yogyakarta. Dan tentu saja menjadi moderator saat materi kelas. Tentu saja hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika kami sebagai pelatih berpisah dengan siswa-siswa itu. Aku sendiri sangat merindukan ketika harus melakukan pendekatan terhadap siswa yang ingin keluar, mengantar siswa sakit ke klinik, hingga aku rela dimarah-marahi oleh seorang siswa hanya karena mengingatkan untukĀ  membawa jas hujan. Belum lagi seminggu membolos kuliah, serta malam hari harus tidur telat untuk rapat evaluasi yang sangat-sangat melelahkan.

Melayani mereka ibarat aku harus melayani adik-adiku di rumah yang membutuhkan kesabaran ekstra. Mereka adalah individu yang labil. Mereka tidak suka merasakan sakit hati dan masih berpikir pragmatis. Tapi di Pendidikan Kebangsaan itu mereka belajar dewasa. Mereka belajar menghadapi tekanan untuk menjadi remaja tangguh yang bisa menghadapi kendala dengan kepala dingin.

Sungguh aku bangga menjadi Kepala Tim Pengajaran.

Panji Manggala Yudha!!….GADJAH MADA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s