Momentum Untuk Peduli Terhadap Sumber Energi Alternatif

(dimuat di okezone.com)

KENAIKAN tarif dasar listrik maupun tarif kebutuhan hidup masyarakat yang lain selalu ditanggapi dengan perasaan cemas. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah menetapkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi konsumen dengan golongan tarif di atas 900 volt ampere. Namun seperti yang diberitakan di Kompas Yogyakarta (23 Juli 2010), efek dari kenaikan TDL tersebut akan dirasakan oleh masyarakat secara luas.

Listrik sebagai sumber daya strategis memiliki peran vital dalam pembangunan saat ini, apalagi ketergantungan masyarakat terhadap barang-barang elektronik sangat tinggi. Namun, Indonesia yang memiliki kekayaan sumber energi yang melimpah di alam, belum mampu mengolahnya menjadi sumber energi listrik yang mencukupi. Kekurangan pasokan bahan bakar serta masih minimnya pembangkit tenaga listrik di beberapa wilayah, menjadikan Indonesia masih terus berkutat pada masalah kelistrikan yang tidak kunjung selesai. Ambisi PLN untuk menerangi seluruh wilayah Indonesia dengan listrik beberapa tahun mendatang perlu segera direalisasikan, mengingat salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelancaran pembangunan suatu wilayah adalah jika pasokan listrik mencukupi.

Kebijakan menaikkan TDL yang dilakukan oleh PLN setidaknya dapat menimbulkan dua perspektif di kalangan masyarakat. Pertama, kenaikan TDL sebagai kebijakan yang sangat memberatkan masyarakat karena akan berdampak pada pengeluaran untuk biaya hidup yang lebih besar. Beban biaya yang bertambah ini akan sangat dirasakan oleh industri yang membutuhkan daya listrik yang besar. Sehingga seringkali kita meyaksikan, perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) demi alasan efisiensi. PHK akan menambah jumlah angka pengangguran dan semakin membebankan negara. Tidak jarang protes menentang kenaikan TDL dilakukan dengan menggelar aksi di jalanan meskipun suara-suara penolakan tersebut tidak kadang didengarkan oleh pejabat terkait.

Sedangkan perspektif lain adalah kenaikan TDL dijadikan momentum bagi masyarakat untuk menciptakan pola hidup yang hemat listrik. Sebagai kebijakan yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, masyarakat perlu menyikapi kenaikan TDL secara bijak dan mengetahui duduk persoalannya. Selama ini biaya operasional pengadaan listrik selalu dijadikan alasan bagi PLN untuk menaikkan TDL. Kekurangan pasokan bahan bakar atau cuaca yang tidak menentu menurunkan pasokan listrik yang dihasilkan oleh dua pembangkit listrik utama di negeri ini, yaitu PLTU dan PLTA. Sementara konsumsi listrik masyarakat Indonesia cenderung boros, misalnya menyalakan lampu di siang hari, atau menonton televisi dalam jangka waktu yang lama. Dengan pekanya respons masyarakat terhadap kenaikan TDL, diharapkan masyarakat akan semakin bijak menggunakan listrik dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membantu PLN untuk membuat pembangkit listrik baru di wilayah lain yang selama ini masih gelap gulita.

Posko pengaduan yang telah di buat oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menampung keluhan masyarakat dapat dijadikan sarana agar hak-hak konsumen tetap terjaga. PLN sebagai perusahaan negara yang menjalankan bisnis energi listrik secara monopoli berpeluang besar merugikan hak-hak konsumen, salah satunya adalah menaikkan TDL tanpa diiringi dengan perbaikan kualitas pelayanan serta tidak memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Namun hendaknya posko pengaduan ini tidak hanya berfungsi sebagai ‘kurir’ yang hanya menyampaikan aspirasi dari masyarakat saja. Posko pengaduan sebaiknya juga menyediakan informasi serta solusi yang dibutuhkan masyarakat untuk menanggulangi dampak kenaikan TDL. Masyarakat diberi penyuluhan mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menghemat penggunaan listrik agar tidak terlalu terbebani tagihan listrik yang membengkak. Selain itu posko pengaduan ini juga memberikan saran bagi industri untuk membantu agar biaya produksi terutama yang berasal dari anggaran penggunaan listrik tidak terlalu membebani biaya operasional perusahaan. Sehingga keputusan untuk ‘merumahkan’ karyawan dengan alasan efisiensi dapat dihindari.

Minimnya variasi sumber energi pembangkit listrik yang ada saat ini, menuntut kemampuan kita untuk mengolah sumber-sumber energi alternatif yang mudah didapat dari lingkungan sekitar. Di beberapa wilayah di Yogyakarta misalnya, masyarakat sudah mulai menggunakan energi matahari dan mikrohidro sebagai pemasok listrik yang pengelolaannya telah dilakukan secara swadaya sehingga mereka tidak lagi menggantungkan kebutuhan listriknya dari PLN. Selain ramah lingkungan, sumber energi tersebut dapat dengan mudah diperoleh. Semoga pemerintah dan masyarakat cepat tanggap terhadap kebutuhan energi alternatif yang mendesak. Jika dapat dilakukan secara swadaya, tentu masyarakat tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan TDL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s